Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita

1
Pertemuan dini hari
di batas kota itu
tak menghasilkan apa-apa;
sedikit salak anjing
untuk senyap.
Tak terdengar nyanyi.
“Kita ternyata terlalu
angkuh untuk tidak setia,
terlalu gagap
untuk sekedar mengingat
babak pertama.”

2
Sutradara memang tidak
peduli pada coretan-coretan
di naskah yang kita hafal
kata-kata yang dihilangkan
tanda seru yang dibisukan
dan 'mu' yang tak juga
ditulis dengan huruf kapital.
Pada suatu subuh
yang tanpa sutradara
ternyata kita pun
tetap gagap untuk ingat
pukul berapa harus berangkat.
Kau malah mendongeng
tentang seekor angsa
yang tak lagi menyanyi -
dan berkata, 
kenapa ini tertulis
justru di adegan pertama
di halaman pertama
ketika tak ada cerita
yang sudah selesai direka?
Siang hari kita bertemu
sutradara itu;
sedang dicoretnya
beberapa dialog di kitab
yang sudah kita hafal
di luar kepala.
Kau menatapku, 
Kenapa
kita seperti tak dikenalnya?

3
Ada, memang, angsa menyanyi –
asal kita berniat menghafal dialog
kata demi kata lagi.


"Puisi: Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita (Karya Sapardi Djoko Damono)"
Puisi: Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita
Karya: Sapardi Djoko Damono

Post a Comment

loading...
 
Top