April 2018
Mayat Politik Ditutupi Koran Pagi

Ada orang hilang. Tapi ada orang pecah juga. Presiden di rumah sakit, tangan dan lehernya mengeluarkan gergaji. Tapi dewan perwakilan rakyat harus dibuat lagi. Seperti membuat matahari dari daun pisang.

Ada orang hilang. Tanah telah memuntahkan tubuhnya kembali. Sepatu tentara berjatuhan dari mulutnya. 
Ada orang hilang. Gedung parlemen berbau mayat, dapurnya juga berbau mayat. Presiden harus dibuat lagi. Kabinet harus dibuat lagi.

Tapi ada orang hilang. Matanya ditutup politik yang terbuat dari gerigi. Tanah muntah. Tak bisa lagi menumbuhkan tanaman. 
Ada orang pecah. Tanaman muntah. Tak bisa lagi berbuah. Hutan membakar dirinya sendiri. Bangunan membakar dirinya sendiri. Orang dibakar, terbakar. Orang diperkosa. Negeri diperkosa. Tanah diperkosa.

Ada orang hilang, aku menculik diriku sendiri. Parlemen harus dibuat. Mahasiswa menyerahkan badannya di depan tombol diktator. Ada orang hilang! Mayat gosong. Kepercayaan yang telah menyimpan mayat. Ada bahasa yang mengancam lehermu. Kepercayaan yang pecah. Anak-anak tak bisa minum susu, tak bisa sekolah. Buku-buku mahal. Padi tak berbuah lagi. Ada gunung meletus. Rakyat harus dibuat. Demo harus dibuat. Ada tempat penyiksaan. Tulang-tulang digali dari lehermu. Pintu parlemen digergaji. Ada matahari, lembut, terbuat dari daun pisang.

Kemari. Dengar. Ini negeri untukmu. jangan begitu memandangku. Aku mayat. Mayat politik Yang pernah diculik. Disiksa. Jangan menguburku seperti itu, seperti mengubur negeri ini. Jangan.

Kemari. Dengar. Ini tanganku. Masih hangat. Seperti pembalut politik untuk menutup matamu. Kemari. Mari. Masih ada seratus tahun lagi di sini, ini, di tanah ini.

1998
"Afrizal Malna"
Puisi: Mayat Politik Ditutupi Koran Pagi
Karya: Afrizal Malna
Perahu Pinisi Tak Boleh Merapat

Begitu cepat matahari tenggelam
kilau emasnya tinggallah tembaga
Begitu cepat sarat muatan
perahu pinisi, daratan bagimu hanyalah duka.

Makassar
2 April 1964
"Agam Wispi"
Puisi: Perahu Pinisi Tak Boleh Merapat
Karya: Agam Wispi
Kau pun Tahu

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam pengembaraanku
Bintang-bintang yang kuburu
Semua meninggalkanku
Lampu-lampu sepanjang jalan
Padam, semua rambu seakan
Menunjuk ke arah jurang

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam setiap ucapanku
Suara yang masih terdengar
Berasal dari kegelapan
Kata-kata yang kusemburkan
Menjadi asing dan mengancam
Seperti bunyi senapan

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam puisi-puisiku
Kota telah dipenuhi papan-papan iklan
Maklumat-maklumat ditulis orang
Dengan kasar dan tergesa-gesa
Mereka yang berteriak
Tak jelas maunya apa

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Dalam doa-doaku
Aku sembahyang di comberan
Menjalani hidup tanpa keyakinan
Perempuan-perempuan yang kupuja
Seperti juga para pemimpin itu -
Semuanya tak bisa dipercaya

Kau pun tahu, tak ada lagi cinta
Di negeriku yang busuk ini
Pidato dan kentut sulit dibedakan
Begitu juga tertawa dan menangis
Mereka yang lelap tidur
Bangunnya pada kesiangan
Padahal ingin disebut pahlawan.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Kau pun Tahu
Karya: Acep Zamzam Noor
Toko Bekas Bahasa A dan B

Toko barang bekas A dan B menyimpan banyak bahasa 
bekas A dan B. Mimpi bekas, kesedihan bekas, musim panas 
bekas, semua agak heran tentang bahasa A dan B. Sedikit 
heran perlahan-lahan, mulai berjalan agak dan bertambah 
heran, dan mulai berlari menjadi sangat heran, seperti 
ledakan lain dalam sunyi sebelumnya: kenapa manusia 
menciptakan bahasa antar manusia. Setiap hari mereka 
bicara antar manusia dengan bahasa berbeda-beda. Apa 
saja yang mereka bicarakan antar manusia, dari apa saja 
yang mereka kisahkan antara A dan B. Apa saja yang 
mereka selesaikan dari persoalan apa saja A atau B. Apakah 
persoalan adalah bahasa mereka, dari apakah bahasa 
mereka adalah persoalan. A dan B saling menatap: adakah 
manusia yang tidak pernah menciptakan bahasa? Bisu dari 
persepsi dan pisau-pisau pemotong dokumen bekas.

Kipas angin bekas dalam toko barang bekas A dan B, tidak bisa menggerakkan udara menjadi angin dari pikiran-pikiran. Tidak berdaya memberikan kesejukan ke dalam ruang percakapan. Udara bekas, tubuh bekas, manusia bekas. Membuat bahasa saling bergesekan antara kata tetapi, maka, mungkin, dan apabila. Pertemuan makan malam antara sebab dan akibat. Perpisahan antara ya dan tidak di sebuah lipatan selimut bekas. Kipas angin rusak dan kipas angin bekas. Keduanya tak tahu rusak karena bekas, dari bekas karena rusak. Atau rusak dan bekas karena gesekan debu-debu bahasa.

Bahasa Inggrisku, bahasa yang menyumpal dunia, bertambah fasih mendengar percakapan, terjemahan-terjemahan berlalu. Seperti A bertanya kepada B: "B, apakah kamu baik?" Ketika B mau menjawab A: "A, aku baik," pertanyaan telah berlalu bukan A lagi. Menjadi pertanyaan bekas untuk jawaban yang menyempurnakan masa lalu. B menunggu di depan pintu toko barang bekas. Ia melihat usianya tertinggal dalam sebuah buku tata bahasa bekas. Ratapan kertas-kertas kering antara binatang dan manusia. Bahsa Inggrisku berlari, memburu, memangsa, menyumpal bahasa ibu dengan satelit bekas.

Semua yang bekas telah sempurna. Sempurna dalam tata bahasa yang telah berlalu, yang sedang terjadi, dan yang akan datang yang kelak berlalu. A melihat B memakai pribadi bekas A, yang bekas dilihat B. A dan B kemudian menyalakan kamus elektirik. Agak perlahan, sangat perlahan lagi, dan jatuh.

Bayangan mereka jatuh menghapus toko bekas bahasa A dan B menjadi kenangan.


"Afrizal Malna"
Puisi: Toko Bekas Bahasa A dan B
Karya: Afrizal Malna
Beri Aku Kekuasaan

Mereka pernah berjalan dalam taman itu, membuat wortel, semangka, juga pepaya. Tetapi aku buat juga ikan-ikan plastik, angsa-angsa kayu dari Bali, juga seorang presiden dari boneka di Afrika. Kemana saja kau bawa kolonialisme itu, dan kau beri nama: Jakarta 1945 yang terancam. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk berkuasa.

Kau lihat juga tema-tema berlepasan, dari Pulo Gadung ke Sukarno Hatta, atau di Gambir: Jakarta 1957 yang risau. Sepatuku goyah di situ. Orang bicara tentang revolusi, konfrontasi Malaysia, Amerika dan Inggris dibenci pula. Sejarahku seperti anak-anak lahir, dari kapal kolonial yang terbakar. Mereka mencari tema-tema pembebasan, tetapi bukan ayam goreng dari Amerika, atau sampah dari Jerman.

Begitu saja aku pahami, seperti mendorong malam ke sebuah stasiun, membuka toko, bank dan hotel di situ pula. Kini aku huni kota-kota dengan televisi, penuh obat dan sikat gigi. Siapakah yang bisa membunuh ilmu pengetahuan siang ini, dari orang-orang yang tak tergantikan dengan apapun. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk kekuasaan. tetapi sepatuku goyah, menyimpan dirimu.

Mereka pernah masuki tema-tema itu, bendera terbakar, letusan di balik pintu, jerit tangis anak-anak, dan dansa-dansi di malam hari. Lalu: Siapakah yang mengusung tubuhmu , pada setiap kata...

1991
"Afrizal Malna"
Puisi: Beri Aku Kekuasaan
Karya: Afrizal Malna
Demokrasi

Jenderal!
Telah kami pasang
bintang-bintang di dada kalian
dari rejam tuan tanah dan lintah
kutuntut bintangmu: mana tanah!

Jenderal!
Telah kami pasang
bintang-bintang di dada kalian
dari keringat tujuh sepuluh jam
kami tuntut bintangmu: mana upah?

1959
"Agam Wispi"
Puisi: Demokrasi
Karya: Agam Wispi
Latini

Latini, ah Latini
gugur sebagai ibu
anak kecil dalam gendongan

Latini, ah Latini
gugur diberondong peluru
bayi mungil dalam kandungan

Tanah dirampas
suami di penjara
tengkulak mana akan beruntung?

Desa ditumpas
traktor meremuk palawija
pembesar mana akan berkabung?
Gugur Latini sedang Masyumi berganti baju
gugur Pak Tani dan dadanya diberondong peluru
gugur jenderal, mulutnya manis hatinya palsu

Beri aku air, aku haus
dengan lapar tubuh lemas
aku datang pada mereka
aku pulang padamu
sedang tanah kering di kulit
kita makan sama-sama
kudian muram
Latini, ah Latini
tapi, ah, kaum tani
kita yang berkabung akan membayarnya suatu hari.

1961
"Agam Wispi"
Puisi: Latini
Karya: Agam Wispi
Revolusi

Kupancing kau masuk hutan, kekasih sayang
dan kau ikuti aku seperti bayangan
Tinggal pantai hilang lautan
bertimbun bangkai di kota rebutan

Pita merah dan matahari
cinta berdarah sampai mati

1957
"Agam Wispi"
Puisi: Revolusi
Karya: Agam Wispi
Kepada Partai

Dia yang lahir dalam kancah perjuangan
kini sudah besar dan menjadi dewasa;
Dia yang dibesarkan dalam dadung pertempuran
beribu-ribu gugur, namun berjuta mengangkat panjinya.

Orang-orang munafik dan kerdil pikiran sia-sia mengintip rahasia:
Mengapa sejarah berpihak kepada kelas yang paling muda?
Mengapa komunisme kian merata, terudji, dan ditjinta?
Dan bagi rakyat pekerja, pejuang proletariat ubanan tetap remaja?

Siang bertukar malam dan malam berganti pagi
ribuan tahun manusia terbenam di lumpur perbudakan
Dan di kegelapan pikiran itu marx dan engels memercikkan api
dan di tiap negeri berkumandanglah lagu kebangkitan.

Seorang egom mati di tiang-gantungan
seorang aliarcham tewas di tanah-buangan;
Generasi baru datang, belajar tentang keberanian dan kearifan
satu demi satu musuh dikalahkan dan satu demi satu direbut kemenangan.

Marxisme-leninisme menemap perjuangan kelas
dan perjuangan kelas menyemai marxisme-leninisme;
O, revolusi cemerlang, yang sedang disiapkan nasion-nasion tertindas
dalam abad ini juga kita punahkan imperialisme.

Pada hari ke-empat-puluh-lima
dia sudah besar dan dewasa;
Diucapkan atau tidak, rakyat pekerja menyebut namanya
sederhana dan terang: Partai Komunis Indonesia.


Puisi ini sebenarnya tidak memiliki judul, kami memberi judul Kepada Partai adalah karena puisi ini merupakan salah satu puisi yang terdapat di dalam buku Kepada Partai, Kumpulan Sajak (1965). Puisi ini juga ditulis dengan Ejaan Lama; dan yang anda baca ini telah kami ubah dalam bentuk Ejaan Baru.
"Agam Wispi"
Puisi: Kepada Partai
Karya: Agam Wispi
Surabaya

Tiap kita jumpa
Surabaya
aku selalu remaja
gembira kepada kerja
pasti kepada harapan
Surabaya
laut dan kota
rata
Surabaya bau keringat
bau kerja
ketegarannya harum semerbak
dan malamnya malam bercinta
deritanya
terisak-isak
dalam dengus napas
darah bergelora
cemara bersiut
meliut semampai
wilo merunduk
merenung sungai
besok ke laut
dia akan sampai
Tapi ini!
Malam pelaut
buih hidup
Yang menggapai!
Surabaya
lebih remaja
dalam bantingan usia
Kucinta Surabaya
sebab dia kota kelasi
kurindukan Surabaya
sebab trem berlari-lari
(Djakarta? Term diganti impala!)
kusukai Surabaya
sebab beca dan taman
di tepi kali
kubanggakan Surabaya
sebab dia kota berani
kusenangi Surabaya
sebab kejantanan bernjanji
kepahlawanan bergolak
dari kancah-kancah yang menggelegak
dan tahun-tahun kenangan
yang diwariskan
mogok pertama
buruh kereta api
zeven provincien
buruh pelabuhan dan pelaut
bersatu hari
disiram hujan peluru
dan dencing belenggu
rantai besi, bendera pertama
internasionalisme proletar
dipancangkan
proklamasi? Sitiga-warna diturunkan
dan dalam pelukan sang saka
dipanjatkan ke puncak perlawanan
kemudian
di antara serpihan bom
yang mengoyak
dan kota yang terbakar
terbakarlah semangat pertempuran
nyalanya
tak terpadamkan
hingga kini
nanti
dan kapanpun
nyalanya panas menempa
baca kemerdekaan
baca kehidupan
ketika kita tidak lagi bertanya
pilih nyala atau pilih bacanya?
dan kita merebut
kedua-duanya!
Jauh mengatasi segala
pekik pilu dan jerit sendu
ratapan kehilangan dan erang kesakitan
adalah bagai ibu yang melahirkan bayi
yang kemudian memeluk dan menyusui
serta mengusap-usapnya dengan kesayangan kebahagiaan
di situ Hari Pahlawan
dilahirkan
KKO pesiar
menunggu trotoar
kelasi-kelasi
melambaikan dasi
yang bernama “kesenangan” memperpanjang umurnya
maka itu jadi terlambat
tapi bus dan truk tidak menunggu
ayo, pulang jalan kaki!
cinta sudah ketinggalan
ditembok-tembok kota
o, ketika kapal merapat lego jangkar
pelabuhan mengulurkan tangannya
dan lampu kota mengerdipkan matanya
dan bus-bus kadet menderu
megah
dan di tunjungan si kadet melangkah
gagah
putih-putih
dan gadisnya dua
yang satu pedang yang satu wanita
dan si gadis punya mata kecut pelita
dan si pedang punya mata gelegak darah mudah
si kadet jua permata dari lautan
bukan main!
namun adakah permata berkilau
tanpa sebersit cahya mencekau?
Dan tiadalah angkatan perang
tak bertulang-punggung
kukuh
merekalah
kelasi dan prajurit
darat laut udara
polisi
milisia dari rakyat pekerja
tangan-tangan baja yang keras menghentam
tidak perduli bom nuklir
tapi tangan!
Tangan yang menentukan 
yang menghayunkan pedang kemenangan
selama di jantungnya
debur-mendebur
gelora revolusi
mengabdi rakyat pekerja
sokoguru
buruh
tani
matahari tenggelam
di jembatan wonokromo
Surabaya berdandan
bagi malam berdesau
cemara
cadar kota
yang disingkapkan
Surabaya
napas merdeka
yang dipertaruhkan
pahlawan-pahlawan lahir
pada jamannya dan diukur
oleh pengabdiannya
kepada rakyat
dan hari depannya
jaman lampau pun berlalu
jaman baru datang
melahirkan pahlawan baru
namun pahlawan sebenarnya
hanya tumbuh dalam lumpur dan debu
pembesar-pembesar boleh bermatian
orang-orang besar boleh berlahiran
tenaga segar dari kepahlawanan
juga sekarang
jika muda-mudi berperasaan
merasakan hidup sampai ke tulang-sumsumnya
dan yang tua-tua teguh
membatu karang oleh hempasan gelora
merekalah orangnya
dan kebanyakannya
tak bernama
merekalah petani yang dirampas tanahnya
kembali merebutnya dari setan-setan desa
mereka yang berjuang membebaskan dirinya
dari belenggu perbudakan tanah
dan buruh-buruh pelabuhan buruh pabrik
yang beruntun-rutun pagi hari
berkilat-kilat oleh keringat
dan hitam oleh matahari
pengangkut pasir yang menunggu
perahu menghanyut ke gunung sari
beca yang berkerumun di lubuk jalan-raya
KKO - kelasi - prajurit
yang ingat kepada asalnya
pegawai-pegawai yang sadar kepada kelasnya
(bukan pemabok “karyawan yang mengingkari “makan-gaji”)
si miskin-kota yang kehilangan desanya
dan mengisi sudut-sudut gelap kota
dengan kerdap-kerdip pelita
petani-petani yang dirampok panennya
dan tepat menghijaukan bumi, memerahkan tanah
pemuda pelajar mahasiswa yang membakar buku USIS
dan mengusir setan-setan ilmu dari amerika imperialis
untuk mematahkan belenggu kebodohan
racun kemerdekaan yang berbungkus kenikmatan hampa
dan Surabaya
berderap dalam tempik-sorak
meski bau tengik dan sarang malaria
sama banyak nyamuk dan lalat dimana saja
tunggu! Suatu hari pernyataan perang
juga kepadamu!
Di sini ketegaran berkata sederhana
keras dan langsung ke hulu-hatimu
yang sudah mati, ya sudah!
yang hidup sekarang, menyiapkan revolusi
dimana masing-masing beri janji
merdeka atau mati!
Bagi keringat kaum buruh
bagi tanah-tanah petani
bagi kepercayaan kepada harapan
MANUSIA
Ya, sekarang kita bertanya
Sudahkah tanah bagi petani?
Sudahkah keringat bagi kaum buruh?
Yang sudah – sedikit!
Yang belum – banyak!
Menteri-menteri tetaplah turun naik
yang belum, kepingin jadi menteri
yang jelek, tak mau turun
yang baik, masih di podium
dan rakyat tetap menuntut: kabinet nasakom!
dan kabir-kabir main sunglap dengan peluru, uang, dan senyum
dengan tuan-tanah dan imperialis?
Seketurunan! Satu meja-makan dan sama-sama minum dan pemimpin-pemimpin munafik menghamburkan budi ikut berteriak “ganyang Malaysia! Berdiri di atas kaki sendiri!”
Kemak-kemik pancasila, manipol, jarek, sukarnoisme
tapi main mata dengan modal monopoli
gudang racun komunisto-phobi
buruh phobi
tani phobi
partai phobi
imperialisme amerika? Tunggu dulu!
dan sarjana-sarjana membalik-balik bukunya
tapi tak mengenal aspirasi tanah-airnya sendiri 
dan seniman memabukkan diri dengan kepuasan murah
tak tahu kemelaratan dan kebangkitan rakyatnya sendiri
dan politikus mencatut teori dengan “ala indonesia”
munafik-munafik ini mau melupakan sumbangan dunia
kepada sejarah dan perjuangan kelas
sungguh, kekerdilan yang memalukan dan hina
adalah mereka yang mau menutup laut dengan telapak tangannya
laut daripada kebenaran perjuangan kelas
O, sudahkah keringat bagi kaum buruh?
Sudahkah tanah bagi kaum tani?
Yang menggarap!
Y
ang menggarap!
Y
ang menggarap!
betapa berbelit-belit
plintat-plintut
tapi adakah yang lebih tegas dari kebenaran?
Sebab dia tak dapat digeser dari relnya revolusi?
Abad-abad telah menyumbangkan lokomotif-lokomotif raksasa
yang menderu kencang menembus belantara kegelapan
dengan perjuangan kelas dan revolusi
dengan marx, engels, dan lenin
dengan mau tje-tung, bung karno, dan aidit
dengan diri sendiri; rakyat tertindas
antara Sabang dan Sukarnapura
di seluruh dunia dimana saja
O, janganlah hanya membaca huruf-huruf
tapi tak menangkap hakekat dan arti
O, janganlah sungai lupa kepada laut
dan kemerdekaan tinggal abu tanpa api
sebab kami
Surabaya
sudah banyak mati
Sebab kepahlawanan sehari-hari
tidak pada yang sudah mati
berkata pemimpin besar revolusi
jaman ini jaman konfrontasi
pemimpin tengahan bicara lain lagi
katanya: perdamaian universil dan konsepsi
dan perdamaian jadilah dewi kecantikan
dan pedang kemerdekaan ditumpulkan
Maka konsepsi pun berlahiran di atas kertas
dan kertas-kertas berhamburan secepat inflasi
mereka yang bekerja dilaparkan oleh janji
mereka yang malas berpikir tanpa batas
Yang tak tahu ekonomi politik
mau bikin ekonomi politik
maka begitu naik jadi menteri
harga beras melambung tinggi
maka berkatalah rakyat suatu hari
bisa sekarang bisa nanti
Stop!
Mau konsepsi apa lagi?
Kami sudah banting kemudi ke UUD 45
Kami sudah bikin manipol dan nasakom
land reform dan dekon
ayo, konfrontasi
melawan tujuh setan-desa
imperialis amerika
atau 
sebelum roda ini melindas
minggir!
Kami mau revolusi
kami mau buku dan pedang ditangan
kami mau tanah dan bedil dibidikkan
kami mau palu dan meriam didentumkan
kami mau pukat dan kapal-selam berkeliaran
kami mau Indonesia dan rakyatnya yang gesit berlawan
bagi revolusinya dan bagi dunianya
bagi dunia dan bagi revolusinya
Dan Surabaya
senatiasa remaja
dalam bantingan usia
berjuang
belajar
kerja
Kucinta surabaya
dia kota kelasi
kurindukan Surabaya
sebab trem berlari-lari
Kusukai 
Surabaya
beca dan taman ditepi kali
kubanggakan 
Surabaya
kota berani mati
kusenangi 
Surabaya
kejantanan yang bernyanyi
Surabaya
menghadang pukulan
menghantam
bertubi-tubi
di sini cemara bersiut
meliuk semampai
dan wilo merunduk
merenung sungai
kelasi, jika besok ke laut
jangan lupa kepada pantai.


  • USIS adalah United States Information Service, aparatus propagandanya Amerika Serikat untuk mengedepankan kepentingan nasionalnya ke negara-negara asing.
  • Puisi ini telah kami edit dari Ejaan Lama ke Ejaan Baru. Judul lama dari puisi ini adalah Sorabaja, telah kami edit menjadi 
    Surabaya.
"Agam Wispi"
Puisi: Surabaya
Karya: Agam Wispi
Matinya Seorang Petani
(buat L. Darman Tambunan)

(1)
Depan kantor tuan bupati
tersungkur seorang petani
karena tanah
karena tanah

Dalam kantor barisan tani
si lapar marah
karena darah
karena darah

Tanah dan darah
memutar sejarah
dari sini nyala api
dari sini damai abadi

(2)
Dia jatuh
rubuh
satu peluru
dalam kepala

Ingatannya melayang
didakap siksa
tapi siksa cuma
dapat bangkainya

Ingatannya ke jaman-muda
dan anaknya yang jadi tentara
- ah, siapa kasi makan mereka? -

Isteriku, siangi padi
biar mengamuk pada tangkainya
kasihi mereka
kasihi mereka
kawan-kawan kita
suram
padam
dan hitam
seperti malam

(3)
Mereka berkata
yang berkuasa
tapi membunuh rakyatnya
mesti turun tahta

(4)
Padi bunting bertahan
dalam angin
suara loliok* disayup gubuk
menghirup hidup
padi bunting
menari dengan angin
 
Ala, wanita berani jalan telanjang
di sicanggang, di sicanggang
di mana cangkul dan padi dimusnahkan

Mereka yang berumah penjara
bayi di gendongan
juga tahu arti siksa

Mereka berkata
yang berkuasa
tapi merampas rakyatnya
mesti turun tahta
sebelum dipaksa

Jika datang traktor
bikin gubuk hancur
tiap pintu kita gedor
kita gedor.


1955
* Loliok ialah suling dari batang padi dalam sebutan kanak-kanak.
"Agam Wispi"
Puisi: Matinya Seorang Petani
Karya: Agam Wispi
Perubahan

Kami menunggu seseorang
Menunggu seseorang yang membawa obor
Dan menyimpan bajak serta lunas perahu di matanya
Mengaku bukan penyair atau pegawai negeri
Berbicara dengan bahasa sederhana dan mengerti
Persoalan sehari-hari. Sudah lama kami tegang

Kami melihat arus sungai yang deras
Menyaksikan gerak air di antara batu-batu
Air mata kami runtuh juga akhirnya
Sepanjang jalan kami menundukkan kepala
Menghitung langkah kaki

Kami luluh dan kami pun bisu
Kami seperti orang-orang asing di sini
Tak tahu apapun yang akan terjadi
Kami mengubur kata-kata di dasar hati
Menyumbat kedua telinga
Perubahan yang kami rindukan
Tak kunjung terucapkan.

"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Perubahan
Karya: Acep Zamzam Noor
Cucian Kotor Suatu Pagi

Hidup mungkin bisa berubah - kata orang. Rupanya ada asbak jatuh dari meja, abu dan puntung rokok terserak: Aku jatuh cinta pada seorang lelaki. Hidungnya berair, suaranya melengking seperti asbak pecah, 5 menit yang lalu. Tetapi ia sering mengejekku dalam Bahasa Inggris. Tahu, aku tak bisa bertengkar dalam bahasa itu, setelah penjajahan yang lalu: Negeri-negeri dunia ketiga yang tak bisa menjual jagung. Hari berlalu, asbak yang lain jatuh, juga tak mudah membuat persahabatan Kedengkian jadi tak terduga, menyuruh orang berhenti di sebuah tikungan, menjelang jam 7 malam. Ada tetangga di situ, menunggu nasib di depan pintu, seperti seorang nyonya menyimpan diri, dalam 130 kilo berat badannya.

Suatu pagi - hidup mungkin bisa berubah, seperti seseorang yang menyentuh tubuhnya dalam genangan sabun: "Tak ada lagi kata yang bisa dihayati, di sebuah tempat, tanpa melihat jam dinding." Kota memang telah meninggalkannya, jam 6 pagi yang lalu. Cucian kotor menumpuk di situ. Lalu setiap benda yang disentuh terasa bersabun, seperti hidung lelaki itu.

Suatu pagi, cucian kotor itu menghias koran-koran, berita-berita nasional, surat pembaca, busa sabun yang berjatuhan dari tangan. Dan sebuah puisi, yang dibaca orang lewat kecemasan.
1995
"Afrizal Malna"
Puisi: Cucian Kotor Suatu Pagi
Karya: Afrizal Malna
Ekstase Waktu

Dunia membuka dunia menutup tak jadi manusia
Aku kejar ujung jalan menyebelah maut ke mana aku kejar
Dunia sendiri tanpa manusia
Berlari

Seperti perahu tak berkemudi
Terlepas dari jarak:
Beri aku orang!
Aku mau bangun di atas kemakhlukan ini

O matahari membuka matahari menutup tak jadi manusia
Berdiri di kesunyian tubuh aku kejar ke mana aku kejar
Sampai mabuk ketinggian makhluk

Direguk sampai habis tenggorok
Jiwa membuka
Seperti api menghabiskan nyala


1957
"Afrizal Malna"
Puisi: Ekstase Waktu
Karya: Afrizal Malna
Seseorang yang Mengapung di atas Tubuhku

Dia membuat sore dari sebuah rancangan busana
jahitan udara antara yang terbuka dan tertutup
guntingan pada bahu. Kulit tropis di musim semi
buatlah aku dari air liur burung gereja
yang memberi minum anaknya, dan sebuah kamus
yang tak punya ancaman.

Jangan bercerita, ketika kupu-kupu terbang dalam suaramu
dan sebuah senja yang tak bisa dimasuki batas malam
tubuhnya mengapung di atas tubuhku
seperti laut pasang
bulan yang tergenang dalam cahayanya
buatlah aku kembali tidak mengerti apa itu takut
ketika menyusuri bibirmu, pelukan, yang meninggalkan senja
pada lampu jalan

Sebuah kafe, belum tutup untuk seorang tamu
yang masih menyanyikan cinta. Para pemusik
telah pergi meninggalkannya.
Sebuah lagu Elvis Presley - Fever,
seperti suara bibir dalam anggur merah.

Buatlah aku dari sebuah sudut malam
seolah-olah aku sedang menunggumu
di sebuah titik yang meledakkan garis pelarian
hingga aku tak tahu: sedang memeluk mayatku sendiri.

"Afrizal Malna"
Puisi: Seseorang yang Mengapung di atas Tubuhku
Karya: Afrizal Malna
Personifikasi dari 70 KM

Di lenganku masih ada kota tak terduga. Kau sodorkan tradisi yang jauh, dari kue dan kopi. asap sampah membuat mainan di situ, antara tawamu jadi makhluk berdua. Anak-anak berlari, membuat tiang-tiang listrik jadi sore. Kutahu lagi bajuku tersetrika rapi, menyimpan barang-barang tetangga. Cinta telah membuat mahluk baru, antara berdua. Ikut pula membuat jari-jari tanganmu, tambah dewasa.

Di kamar mandi, masih sempat kukenang lagi: Ketakutan pada handuk dan sikat gigi yang lain, antara lampu, tanaman di pagar menyusun senja.

- Ah, cinta, adalah seluruh keherananku pada manusia -

Masih ada waktu, kita makan malam, sayur asam, dan soto Betawi. Sejak kerudung rambutmu menyentuh masa kanak-kanakku di situ, aku gemetar oleh mahluk baru, tumbuh di bahuku.

Tubuhku jadi dua, yang satu tak pernah tidur mengisi air di kamar mandi, penuh oleh dirimu tak henti-henti; yang lain membuat sajadah di keningku berbahaya.

Ah, malam, taxi, cinta: di luar orang masih membuat kata tanpa setahuku, seperti telur... 
berjatuhan dari lenganku.

1992
"Afrizal Malna"
Puisi: Personifikasi dari 70 KM
Karya: Afrizal Malna
Aku Berjalan Keluar

Aku berjalan keluar dari pintu itu lagi.
Seperti sebelumnya.
Seperti biasanya.
Aku mengacaukannya lagi.

Jadi aku akan mengatakan lagi:

Aku selalu berusaha menjembatani jarak.
Aku tidak akan lagi mengulangi kesalahanku.
Aku akan menjadi segala yang kau butuhkan,
andai sedikit saja kau belajar memahami keadaanku.

Aku selalu berusaha menjembatani jarak.
Aku tidak akan 
lagi 
mengulangi kesalahanku ...

28 April 2018
"Puisi: Aku Berjalan Keluar"
Puisi: Aku Berjalan Keluar
Oleh: Arief Munandar
Saya Mendengar Orang-orang Bernyanyi

Saya mendengar orang-orang bernyanyi
Bercelana pendek, cuek, Harry Rusli namanya
Kakeknya dulu membedah hewan dengan pisau operasi
Cucu menjahit sakit politik dengan senar gitarnya

Saya mendengar orang-orang bernyanyi
Iwan Fals tanpa kejemuan mengabarkan kenyataan
Dia lantang bernyanyi menjadi saksi
Gitar dipetik Ully, Chrisye, Leo dan Franky

Tercium aroma hutan rimba, air terjun pegunungan
Terdengar salawat putih yang ikhlas bersahaja
Berkibar bendera kita langit biru di belakangnya
Dan perahu retak bagaimana cara mengayuhnya

Saya mendengar orang-orang bernyanyi
Sam Bimbo bersaudara seperti tak bosan-bosan
Mengukur jarak jauh dan dekat dengan Tuhan
Diiringi senandung Iin merdu sekali

Saya mendengar orang-orang bernyanyi
Ebiet penyair biduan di Yogya dulu sekolahnya
Dia mengajar kita bahasa tumbuh-tumbuhan
Saya pun bicara dengan rumput yang bergoyang.

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Saya Mendengar Orang-orang Bernyanyi
Karya: Taufiq Ismail
Sebesar-besar, Setinggi-tinggi

“Kami mengucapkan terima kasih
Sebesar-besarnya, dan
Setinggi-tingginya
Kepada Bapak Bupati Yang telah berkenan
Membantu desa kami.”

Di luar, di bawah jendela aula
Seorang murid SD kelas enam berkata
“Terima kasihnya Untuk Tuhan tidak tersisa.”

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Sebesar-besar, Setinggi-tinggi
Karya: Taufiq Ismail
Sajak Seorang Pengungsi
(Buat Frans Nadjira)

Napasku yang mengandung api selalu ingin membakar apapun
Di jantungku gedung-gedung yang tinggi sudah kukaramkan
Sedang sungai-sungai yang kotor kubiarkan menggenangi mataku
Dengan lahap aku mengucup borok-borok peradaban yang berlalat
Untuk kumuntahkan kembali lewat sajak-sajakku. Sepanjang hari
Tak habis-habisnya aku mereguk keringat dan darah negeri ini
Menyusuri lekuk tubuhnya yang molek dengan belati terhunus
Kemudian melempari gambar pemimpinnya yang nampang
Di papan iklan. Menyanyikan lagu dangdut di bawah tiang bendera

Suaraku yang memendam racun ingin menyumpahi siapapun
Ranjang-ranjang yang nyaman kusingkirkan dari ingatan
Sedang kekerasan yang terjadi di jalanan telah memaksaku
Menjadi bajingan. Kembali aku mengembara dalam kesamaran
Dalam kehampaan, kekosongan serta ketiadaan rambu-rambu
Aku mengetuk losmen, menggedor apartemen dan mendobrak
Gedung parlemen. Kemudian melolong dalam kesakitan panjang:
Sambil berjoget aku terbangkan sajak-sajakku ke planet terjauh
Karena bumi sudah tak mampu memahami ungkapanku lagi.

2007
"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Sajak Seorang Pengungsi
Karya: Acep Zamzam Noor
Pejalan Buta

Telah kulempar tongkatku pada jeram
Dan kubuang semua perbekalan. Ingin kuhayati sunyi
Sambil mendengar semua yang dibisikkan langit
Mencatat setiap jerit bumi yang sakit
Tanpa perahu aku berlayar karena lautan luas
Adalah hatiku. Pantai-pantai berebut ingin menjemputku
Tapi aku mengelak sambil menari-nari di udara
Kelenturan telah diwariskan burung padaku dan belut
Menjadi kelicinanku. Meskipun ditumbuhi pohonan liar
Telingaku terbuka untuk kata-kata yang diucapkan diam
Tanpa tongkat aku terus berjalan, mengembara
Seperti si buta yang merambah dunia bukan dengan matanya.


"Puisi Acep Zamzam Noor"
Puisi: Pejalan Buta
Karya: Acep Zamzam Noor
100 Tahun Adam meyakini Dirinya Manusia

Telah aku kirim kamar mandi untuk membangunkannya. Seperti membangunkan tubuhmu, 10 menit dari kedengkian yang lalu. Aku pernah bersamamu di situ, dan berpisah lalu, lewat jatuhnya segumpal tanah: Aku telah terhina jadi dirimu, tumbuh di setiap jemari tangan ...  Semua telah jatuh dari tubuhmu. "Aku tunggu, Adam, warna-warna kesedihanmu pada setiap ilmu."

Di jalan, malam hari, ketika setiap orang menyimpan tangannya dalam saku celana, diam-diam aku keluar. Jangan lagi bicara malam bersama mantel, lampu senter, dan pisau lipat dalam saku. Aku telah terhina jadi dirimu. Seluruh ketakutan telah mencium kakiku, malam itu seperti pada gagasan kelahiran Adam pertama kali.

Tetapi jemari kakiku seketika gemetaran, aku temukan diriku bercucuran di setiap pengeras suara. Ada yang ingin mendapatkan wahyu lain di situ, dari kamar mandi yang lain lagi, bahwa kematian telah menghina pikiranku.

Semua telah jatuh dari tubuhmu.

Tetapi suatu hari, di mimbar yang mengantarmu pergi, jalan-jalan penuh mobil terbakar, asap hitam mengepul di setiap gedung, pecahan-pecahan kaca etalase beterbangan mengubah kota, Adam merebut mikrofon dalam sebuah khotbah. Beribu tangan meraihnya. Ia dilarikan, dengan masa silam berjatuhan dari tubuhnya.

Aih, Adam, di malam-malam tanpa mikrofon, orang-orang mencari sesuatu, sebuah pikiran di antara pisau lipat, tempat orang-orang akhirnya berkata: keabadian, keabadian telah menghina kematianku.

1989
"Afrizal Malna"
Puisi: 100 Tahun Adam meyakini Dirinya Manusia
Karya: Afrizal Malna
Surat dari Biji Kopi

Bau kopi keluar dari napasnya, seperti jalan lurus yang 
bagian belakangnya menghilang. Ia duduk di bagian 
belakang dari bau kopi itu. Biji-biji kopi itu membuatnya i
ngin bergerak, antara air yang mendidih dan suhu 
yang tak terukur dalam pikirannya.

Bau kopi ini untukmu m
enangis, dan membiarkan kenangan membuat bingkai-
bingkainya sendiri pada sisa kopi di dasar cangkirnya. Dan 
ia kembali duduk di bagian belakang bau kopi, sisa hangat 
antara pahit dan manis di lidahnya.

“Cinta”, dia seperti 
ingin jatuh, telungkup dan menggenggam semua yang 
berjatuhan dari biji-biji kopi. Kapal-kapal yang bergerak 
sendiri mencari bau kopi, kuburan petani kopi, cerita yang 
saling mengunjungi dan menghapus pasir di pantai. 
Bau itu 
mengikatnya lebih dalam dari semua yang mengabur di 
depannya, dari semua yang menghilang di belakangnya.

"Afrizal Malna"
Puisi: Surat dari Biji Kopi
Karya: Afrizal Malna
Biografi di Atas Meja Makan

Orang biasa makan di meja itu. Tetapi piring dan gelas seperti lembaran kain, menyimpan setiap dugaan dan kesimpulan. Segala kaleng, kaca dan besi berjatuhan di situ. Semua telah biasa juga, setelah penyerbuan Amerika ke Panama, dan orang-orang dalam karung di tengah hutan, dilepaskan dari kehangatan tubuhnya.

Aku telah menutup puisi kiranya, sebelum ragu, hanya karena tak ada ledakan dalam pikiranmu yang risau. Kemudian meja makan jatuh bersama riwayat hidupmu yang deras di situ, tak berpenghuni lagi. Merasakan diri tanpa siapa pun, jadi kekerasan memberi arti.

Ia menggenang pada setiap lemari yang menatapmu, lonceng jam berdentang, pintu terbuka. Masih aku kenali semuanya, tak jauh dari mereka yang memilih berada di luar sana. Riwayat hidupmu, kian mengucur deras di situ, seperti tubuh beku, memilih sebuah sudut untuk selesai.

Meja makan telah disusun lagi, di antara taplak, piring, dan sendok saling beradu. Riwayat hidupmu dibaca lagi, penuh kawat berduri, dan orang-orang berlalu, menggenggam jari-jari tangannya sendiri.


1990
"Afrizal Malna"
Puisi: Biografi di Atas Meja Makan
Karya: Afrizal Malna
Tempat Kita Bertemu

Inilah tempat kita bertemu
Kita menghitung bintang yang sama
Kita berdebat
Karena hitungan tidak pernah sama.

Inilah ikatan pernikahan batin
Kita menari di bawah sinar purnama
Kita berbisik
Karena rahasia tidak bisa bergema.

(Kita hanya anak kecil
yang berusaha memainkan
permainan orang dewasa)

Kita membuat janji
Kita menghancurkan hati
Lalu saling menghapus air mata
Saling menyilang hati

Kita tertawa
Kita memulai dari awal lagi
Inilah ketidaktahuan kita
Ketidaksadaran kita.

27 April 2018
"Puisi: Tempat Kita Bertemu"
Puisi: Tempat Kita Bertemu
Oleh: Arief Munandar
Capung di atas Pagar Tinggi

Kertas yang aku gambari dengan padang bintang-bintang, berwarna kelabu, tempat Tenzin Phuntsok membakar dirinya. Menambahkan kelabu pada warna kertas kelabunya.

Kertas yang aku gambari dengan muara ikan-ikan, berwarna kelabu, tempat Chakragunasegaran membakar dirinya. Menambahkan kelabu pada warna kertas kelabunya.

Kediktatoran kertas kelabu membuat bau busuk berjatuhan dari langit. Seperti ada bangkai yang terus dipuja dalam warna kelabu langit, kenangan di antara kacang hijau dan bunga matahari.

Capung-capung beterbangan, di atas pagar tinggi, tak terukur, antara aku dengan semua aku. Membuat sebuah pagi dari sebuah kamus yang telah dikosongkan dari nama-nama waktu. membuat sebuah kuil di atas kematian kenyataan.

"Afrizal Malna"
Puisi: Capung di atas Pagar Tinggi
Karya: Afrizal Malna