Menjalani hubungan tanpa status, sama halnya seperti bertanya pada diri kita sendiri. Yang mana pada akhirnya, kita hanya akan mengerti keterbatasan yang kita miliki. Begitulah aku, bersama pandangan kelamku.

"Cerita: Menunggu Batas"

2013, seorang mantan yang pernah menjadi pacar datang padaku, menghakimi begitu banyak pertanyaan cintanya. Sulit menjelaskan, terkadang ada iba yang kita definisikan sebagai cinta, terkadang ada sayang yang juga kita definisikan sebagai cinta. Aku adalah orang yang pernah, dan aku sangat yakin, kalian juga pernah.

Sebut saja namanya bunga, seorang yang terombang-ambing dalam penasaran akan cinta. Dan entah bagaimana roda hidupnya, akhirnya dia terdampar di sini; di batas sepi yang bertepi. Aku bukan tipe orang yang suka mengatakan, "balikan yuk". Bukan karena terlalu sombong untuk mengakui kelemahan, aku hanya kurang suka mengenang hal-hal yang telah berlalu. Terlebih, aku memang lebih senang mengkhayal masa-masa indah yang entah dimana menanti.

Dia bertanya padaku, "Bagaimana keadaanmu sekarang?".

Ego menjawab, "aku sehat, sedikit hidup, sedikit mati. Tapi aku rasa aku baik-baik saja... kamu, bagaimana kabarmu?".

"Aku sedang menyelesaikan tugas akhir kuliahku, mungkin tahun depan akan bla bla bla dan bla bla bla".

Berlanjut panjang keheningan yang mengambang, seakan kami tidak pernah melakukan kesalahan pada satu sama lain. Seakan kami tidak pernah saling menjauhi. Seakan kami tidak pernah mengucapkan selamat tinggal.

Cukup terasa lama kami menghindari waktu dengan saling memuji, saling (berpura) peduli, dan saling-saling lainnya. Seolah kami masih berada dalam masa lalu yang pernah indah. Dan di saat aku menyadari keterbatasanku, aku memutuskan berima dengan sajak yang aku kirimkan untuknya:

JIKA saja aku tau segala yang engkau tau,
mungkin aku tidak akan pernah menyimpan tanya untukmu.
Dan JIKA saja aku meresapi segala yang engkau rasakan,
mungkin aku tidak akan meragu sedikitpun denganmu.

Tapi apalah artinya JIKA? Andai selamanya tetap JIKA!

Dan JIKA boleh aku mengetahui,
Aku ingin mengetahui satu hal hari ini:
Aku ini siapa di hatimu?

Pertanyaan yang sedikit bisa dikatakan sederhana, tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek. Namun masih tanpa jawab hingga saat ini. Lalu aku memilih pergi, beranjak dari batas, beranjak dari segala hal yang bukan tempatku. Dan untuk sekali lagi, selamat tinggal!

Semoga engkau tenang dengan nasib yang menunggu menuntunmu. Semoga engkau damai dengan takdir yang pasti akan menjagamu. Semoga engkau tau, apa itu cinta yang engkau sangat ingin tau itu. Selamat tinggal!

Post a Comment

loading...
 
Top