100 Tahun Adam meyakini Dirinya Manusia

Telah aku kirim kamar mandi untuk membangunkannya. Seperti membangunkan tubuhmu, 10 menit dari kedengkian yang lalu. Aku pernah bersamamu di situ, dan berpisah lalu, lewat jatuhnya segumpal tanah: Aku telah terhina jadi dirimu, tumbuh di setiap jemari tangan ...  Semua telah jatuh dari tubuhmu. "Aku tunggu, Adam, warna-warna kesedihanmu pada setiap ilmu."

Di jalan, malam hari, ketika setiap orang menyimpan tangannya dalam saku celana, diam-diam aku keluar. Jangan lagi bicara malam bersama mantel, lampu senter, dan pisau lipat dalam saku. Aku telah terhina jadi dirimu. Seluruh ketakutan telah mencium kakiku, malam itu seperti pada gagasan kelahiran Adam pertama kali.

Tetapi jemari kakiku seketika gemetaran, aku temukan diriku bercucuran di setiap pengeras suara. Ada yang ingin mendapatkan wahyu lain di situ, dari kamar mandi yang lain lagi, bahwa kematian telah menghina pikiranku.

Semua telah jatuh dari tubuhmu.

Tetapi suatu hari, di mimbar yang mengantarmu pergi, jalan-jalan penuh mobil terbakar, asap hitam mengepul di setiap gedung, pecahan-pecahan kaca etalase beterbangan mengubah kota, Adam merebut mikrofon dalam sebuah khotbah. Beribu tangan meraihnya. Ia dilarikan, dengan masa silam berjatuhan dari tubuhnya.

Aih, Adam, di malam-malam tanpa mikrofon, orang-orang mencari sesuatu, sebuah pikiran di antara pisau lipat, tempat orang-orang akhirnya berkata: keabadian, keabadian telah menghina kematianku.

1989
"Afrizal Malna"
Puisi: 100 Tahun Adam meyakini Dirinya Manusia
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top