Elegi Jakarta


I

Pada tapal terakhir sampai ke Yogya,
bimbang telah datang pada nyala
langit telah tergantung suram
Kata-kata berantukan pada arti sendiri
Bimbang telah datang pada nyala
dan cinta tanah air akan berupa
peluru dalam darah
serta nilai yang bertebaran sepanjang masa
bertanya akan kesudahan ujian
mati - atau tiada mati-matinya

O Jenderal, bapa, bapa
tiadakah engkau hendak berkata untuk kesekian kali
ataukah suatu kehilangan keyakinan
hanya akan tetap tinggal pada titik-sempurna
dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara
akan hilang ditiup angin
ia berdiam di pasir kering

O Jenderal, kami yang kini akan mati
tiada lagi dapat melihat kelabu
laut renangan Indonesia
O Jenderal, kami yang kini akan jadi
tanah, pasir, batu dan air
kami cinta kepada bumi ini
Ah mengapa pada hari-hari sekarang , matahari
sangsi akan rupanya, dan tiada pasti pada cahaya
yang akan dikirim ke bumi

Jenderal, mari jenderal
mari jalan di muka
mari kita hilangkan sengketa ucapan
dan dendam kehendak pada cacat keyakinan
engkau bersama kami, engkau bersama kami
Mari kita tinggalkan ibu kota
mari kita biarkan istri dan kekasih mendoa
mari jenderal mari
sekali ini derajat orang pencari dalam bahaya
mari jenderal, mari jenderal, mari....


II

Ia yang hendak mencipta
menciptakan atas bumi ini
Ia yang kan tewas
tewaslah karena kehidupan
Kita akan yang mau mencipta dan akan tewas
akan berlaku untuk ini dengan cinta
dan akan jatuh seperti permata mahkota
berderai sebutir demi sebutir

Apa juga nasib akan tiba
Mesra yang kita bawa, tiadalah
Kita biarkan hilang karena hisapan pasir

Engkau yang telah berani menyerukan
Kebenaranmu dari gunung dan keluasan
Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan
Jika suaramu hilang dan engkau mati
Maka kami akan berduka, dan akan
menghormat bersama kekasih kami

Kita semua berdiri di belakang tapa
Dari suatu malam ramai
Dari suatu kegelapan tiada berkata
Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan
Dari perceraian tiada mungkin
Dan sinar mata yang tiada terlupakan

Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan
Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja
Terik yang keras tiada lagi akan sanggup
Mengeringkan kembang kerenjam
Pepohonan sekali lagi akan berdahan panjang
Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang

Mungkin engkau orang perang dan aku petualang
Tetapi pada suatu hari cinta telah dijanjikan
Jika bulan Juni telah pulang
Aku akan membaca banyak pada waktu malam
Dan mau kembali ke pantai Selatan jika kemarau telah datang
Laut India akan melempar pasang
Bercerita dari kembar cinta dan perceraian

Aku akan minta, supaya engkau
Berdiri curam, atas puncak dibakar panas
Dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru
Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang
Karena bulan berangkat tua
Kemarau bulan berangkat tua
Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang

Di sini telah datang suatu peranan
Serta kita akan menderita dan tertawa
Tawa dan derita dari
yang tewas
yang mencipta...


III
(untuk seorang sahabat)

Airmata, adalah sekali ini airmata dari hari yang mengandung durja
Dan kelulah kekasih yang senantiasa berkisah
Tiadalah lagi senyum akan timbul karena suatu kemenangan
Habislah segala kenangan selalu pada fajar selalu yang membawa harap

Sudah tahu, suatu kesalahan sekali
Telah merobah titik asal harap
Dan karena gelombang yang memukul tinggi
Dengan segala rahasia dan senjata yang ada dalam kerajaannya
Telah dijadikan suatu cinta yang masak hidup lepas dari lembaga
Dan gamitan tangan dan mata berhenti pada suatu keluh sedan dari jiwa yang berduka

Bangunlah kekasihku, berilah daku bahagia
Dari segala cahaya yang ada padamu
Bagiku, keluhan yang lama akan
Mematikan segala tindakan
Membuat lagak tiada punya tokoh
Ucapan kehilangan asal dan bekas
Serta ini pulau banyak dan intan laut yang kukasihi
Akan menjadi suatu bencana dari kelumpuhan orang berpenyakit pitam

Aku akan hilang lenyap tiada meninggalkan nama
Suatu sedih sangsai dari diriku
Atas suatu panggilan dengan suara kecil
Dari laki-laki di depan laut di belakang gunung

Berikanlah suatu pekikan peri
Dan ini akan lebih membujuk
Dari suatu mulut terbuka, tapi tiada berkata
Air mata yang terbayang, tetapi tiada berlinang
Dari suatu kebisuan, dari suatu kebisuan

Jika ini adalah suatu impian
Maka janganlah lagi bermimpi
Bagaimanapun terang malam
Sedang daku akan berjaga
Sampai sosok tali dan tiang
Tergantung pada sinar pagi yang timbul

Suatu khianat yang telah memakan cinta
Suatu kekecilan manusia yang enggan beryakin
Suatu noda
Dan suatu derita dari kekasuh yang mengeluh
..........................

Demikian sahabat mari berdoa
mari berdoa
Kita akan berdoa. Kita akan berdoa
Kita akan berdoa, untuk pagi-hari yang akan timbul




Catatan:
  • Sajak Elegi Jakarta bagian I sering dijumpai dengan judul Lagu daripada Pasukan Terakhir.
  • Sajak Elegi Jakarta bagian II sering dijumpai dengan judul Elegi
  • Sajak Elegi Jakarta bagian III sering dijumpai dengan judul Kekasih yang Kelu
"Asrul Sani"
Puisi: Elegi Jakarta
Karya: Asrul Sani

Post a Comment

loading...
 
Top