Ketel Lokomotif

(I)
Dalam ketel lokomotif
Dua ratus juta molekul air dikumpulkan
Tenaga uapnya menggerakkan
Tuas dan roda besi sangat beraturan
Berpuluh gerbong barang dan deresi penumpang
Leher panjang cerobong asap hitam berkepulan
Dinding deresi kayu jati, terbagi rapi jadi bilah papan
Menjalar sepanjang dataran mendaki perbukitan
Bunyi peluitnya indah benar melengking dalam ingatan
Nampak kecil dari Bangkirai di lereng Singgalang
Di atas desaku Pandai Sikek penenun songket dan ukiran
Sesudah hamparan berjuta batang tebu di perladangan
Kilang saka dengan harum aroma gula merah tua
Ladang lobak dan kentang sepanjang mata memandang
Danau kecil bertepi rumput mensiang hijau terbentang
Di Padang Giring-giring kawanan itik beriring-iring
Di stasiun Kotobaru perempuan-perempuan berjaja bika
“Bika eei bika, bika eei bika,” bernyanyi mereka
Demikianlah di masa kecil aku sering keasyikan
Melihat kereta api banyak deresi menuruni pegunungan
Dalam kenangan kami sama berkejaran
Membalap deresi paling belakang
Suara rel dan roda berirama berdentang-dentang
Sepanjang sawah nenekku di Jambu Aie, Banuhampu
Selalu di paru-paruku harum gugus daunan ruku-ruku
Lewat pematang, di bawahnya lukah ikan terpasang
Sesak napas berlari aku pun melambaikan tangan
Pada penumpang yang nampak ternyata kenalan
Dan para penggalas yang membawa barang dagangan

(II)
Suatu hari ketel lokomotif meledak berserakan
Gemuruh letusannya bagai bom kedengaran
Berpuluh gerbong barang dan deresi penumpang
Sepanjang rel bergulingan dan serpih logam berserakan
Suasana lebih dari gempa tahun dua puluh enam-an
Menggoncang Padang Panjang kota kecil pegunungan
Rupanya isi ketel terus-terusan
Ditekan, ditekan dan ditekan
Bunyi peluitnya sudah lain kedengaran
Uap yang terpancar kemerah-merahan
Batu baranya api garang luar biasa
Seorang anak SMP kelas satu
Berkerumun bersama ratusan orang kampung situ
Berkata anak tiga belas tahun itu,
“Masinis tak paham ilmu alam catur wulan satu tekanan uap air batasnya tertentu berapa atmosfer per senti persegi dia mesti tahu untuk ketel seukuran itu.”

1998
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Ketel Lokomotif
Karya: Taufiq Ismail

Post a Comment

loading...
 
Top