loading...

Lingkungan Mati

Kau sebut orang bicara tentang hijau daunan,
rimbun 
pepohonan, bermilyar kilometer kubik air
yang 
memadat, mencair dan menguap, garis gunung
dan 
lembah yang serasi, komposisi zat asam
yang rapi 
dalam harmoni,

Tapi yang nampak oleh mataku
orang-orang bertanam 
tebu
seluas lapangan sepakbola di bibir mereka.

Kau bercerita orang bicara tentang serangga dan fisika 
tanah,
unggas dan kimia udara, ikan dan habitat laut
an,
manusia dan tetangganya, bumi dan klimatologi,

Tapi yang terdengar oleh telingaku adalah serangkai lagu
dimainkan lewat instrumen tua sudah, dan bertabur 
debu.

Kau tulis orang telah bicara mengenai rekayasa genetika 
padi dan sapi,
penggergajian kayu dan pengedukan 
mineral bumi,
penyuburan industri dan transportasi,
distribusi laba dan budaya,
pemerataan angka-angka 
di atas bilangan jajaran kepala demi kepala,

Tapi yang terasa olehku adalah dusta yang bergincu
lalu 
ejekan terus-terusan pada kemiskinan,
perpacuan 
dalam keserakahan,
dengan paduan suara pengatas
namaan dengan penuh keteraturan.

Kau ingat-ingatkan aku tentang harmoni budaya
antara 
tetumbuhan – hewan – angkasa – perairan – dan manu
sia,
lalu kau beri aku 1000 kauseri tentang kemanu
siaan 
yang adil dan beradab,
serta 1000 petunjuk 
mengenai sivilisasi yang lestari,

Yang kulihat di layar kaca adalah hewan diadu hewan
untuk mengeruk isi kantong wisatawan
walau itu 
jelas melanggar peraturan, manusia diadu manusia
walau itu menghina otak manusia dan menggilas 
akal waras,
semua itu cuma karena kalap pada 
sepotong nama dan serakah pada sejumlah rupiah,

Kau bercerita tentang orang yang berkata
bahwa sesudah 
hewan diadu hewan dan hewan diadu manusia
budaya jahiliah diresmikan sah,
lalu manusia diadu 
manusia bermula dengan pemujaan
pada kepalan 
dan luas-luas dipertontonkan,
lalu naik satu tangga 
manusia diadu manusia dengan senjata,
naik tangga 
berikutnya keroyokan atau pembantaian manusia
pada rakyat sendiri atau bangsa lain,
dengan bedil 
sundut bom napalm atau hulu nuklir,
dengan ciri 
kekerasan dan penindasan yang makin naik kelas 
dalam kebiadaban,
maka pari-purnalah perusakan 
pada kehidupan lingkungan.

Kau berkata orang masih juga bicara tentang lingkungan 
hidup,
Aneh ingatanku malah-terpaku kini 
pada 
lingkungan 
mati.

1990
"Puisi Taufiq Ismail"
Puisi: Lingkungan Mati
Karya: Taufiq Ismail

Post a Comment

loading...
 
Top