Menggoda Tujuh Kupu-kupu

Aku tidak berjalan dengan mata melek. Kau pergi dengan mata 
tidur. Orang di sini membawa beban berat. Bukan soal melihat. 
Dalam beban itu isinya sampah. Bukan pergi dan tidak tidur. Kita 
sibuk mencari tempat membuang sampah itu untuk mengisinya 
kembali dengan sampah. Kau pergi dengan mata tidur.

Aku tidak 
berjalan dengan mata melek dan tidak mengukur yang terlihat. 
Kau latihan yoga dan menjadi tujuh kupu-kupu. Aku melihat kau 
terbang dan tidak bisa ikut masuk ke dalam kupu-kupumu. Ke
adaan seperti gas padat dalam lemari es. Tetapi tidak ada ledakan.

Aku tidak mendengar suara ledakan dalam puisi ini. Di sini hidup 
menjadi mudah, karena memang hidup sudah tidak ada. Menjadi 
benar oleh kebohongan-kebohongannya. Menjadi indah oleh 
kerusakan-kerusakannya.

Aku di dalam pelukanmu dan di luar 
terbangmu. Membayangkan tujuh kupu-kupu mulai menanamkan 
sayapnya dan menanamkan terbangnya. Mengganti bumi pertama 
dengan rute sungai Marne yang membelah mimpi-mimpimu.
"Afrizal Malna"
Puisi: Menggoda Tujuh Kupu-kupu
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top