Puisi, Rimba atau Taman Bunga

Apa yang bisa diberikan puisi
di tengah senyuman Tuhan;
tsunami dan banjir bah
formalin, bakso tikus, longsoran sampah
flu burung dan demam berdarah?

Apakah puisi berteriak sekencang reformasi
pemilu dan sidang raju
demo kepala desa, ruu pornografi atau karikatur nabi?

Apakah puisi seperti blt
raskin, kartu sehat, ganti rugi tanah
untuk tol dan program pemerintah?
Atau ia mirip komentar penguasa
tentang bbm, tdl, teroris, impor beras dan pupuk kimia?
Freeport dan blok cepu?

Apakah ia seperti Chairil
intisari pikiran dan perenungan?
Atau cuma seonggok jagung di kamar Willy
yang loyo berhadapan dengan spp Wiji?

Apakah puisi beda dengan nina bobok ibu kala kita kecil dulu?
Apakah ia tak sama dengan tembang dolanan di pelataran
saat kanak-kanak, berkawan teman-teman dan rembulan?
Apakah ia tak bisa gaul dengan abg
yang nongkrong di mall, super market dan televisi?
Apakah ia tak bisa dipinang dentuman ritmik
cafe, restoran, dan diskotik?
Apakah ia adalah lembu yang kecapaian
usai membajak sawah?
Atau puisi adalah sawah itu sendiri?
Angin, batu, bajak, tanah, matahari
bulan, laut, ranting, kedalaman dan kesenyapan
jiwa yang terbelenggu?
Denting gitar dan gemericik air kali?

Nyatanya di matamu puisi menolak semu
berkisah segala, memamah semua
meski tak selalu mampu memamah menu
mengunyah usia hingga menua
lautan, kota, manusia kalah
korupsi serta ziarah
rindu, nabi, sejarah, kenangan
cinta, sia-sia juga nyanyian.

Seperti omnivora
kau telan tiap yang kau temu
entah suka entah tak kuasa, entah karib entah tak akrab
masuk ke lubang kerongkongan
lalu aduk di lambung lambang
kembali ke lumbung kehidupan
apakah segampang lempang?

Nyatanya, kau kerap menggulai kata-kata
melebihi makna yang hendak kau jala
hingga lahir sajak dengan kerutan
dahi lipatan dan luka sekujur muka.

Nyatanya, wajahnya kabur bertabur aneka
hingga kita mesti waspada
kala menatap dan menyelaminya
sebab, bisa bak rimba yang di rimbun kata
sedang matahari, sang pembidik arah
tak tembus cahyanya
di rimbunan yang belum selesai tumbuh
dan terus tumbuh!

Lalu, tanpa kompas kita terjebak di hutan makna
ruwet jalan keluar masuknya
sedang alas yang kita injak tak henti diserbu kabut
hasil perselingkuhan slogan dan mantera
beraroma gelisahmu yang lembah
sebab alpa kau buka jendela
hatimu!

Bagai lensa kamera, sajakmu tanpa kekang biasnya
menghidang gambar jauh dari nyata
lebih indah, lebih manis, lebih tragis, lebih terjaga
fantastis!
Kau lupa
bahwa rumput sejumput
lebih gairah dari segenggam kembang
di samudra bunga

Sedang taman, tak dibutuhkan
di pendemi alvian influensa dan busung lapar.
Solo
11 Maret 2006
"Puisi Sosiawan Leak"
Puisi: Puisi, Rimba atau Taman Bunga
Karya: Sosiawan Leak

Post a Comment

loading...
 
Top