loading...

Spiker di Jendela kereta

Spiker menatapku dari jendela. Kereta mengantarku, seperti mengurai lagi kisah-kisah masa lalu, di antara lintasan kawat listrik, bangkai-bangkai stasiun. Tubuhmu masih hangat. Setiap ucapan seperti menyimpan gelas tumpah di situ, yang kini telah menjadi kota baru, dengan berbagai penghuni dan toko-toko.

Tetapi kenapa aku temukan polisi pada setiap kata, yang pernah kau ucapkan. Lalu kereta bergerak, seperti benda padat jatuh di atas seng. Lalu jalan-jalan penuh mikrofon, spiker dan karbon-karbon terbakar. Tas kopermu terbuka di situ, menjatuhkan tomat, ketimun, dan sikat gigi. Seperti pukulan gendrang dari sebuah negeri kecil di asia selatan.

Waktu itu ada peta kemerdekaan penuh kembang api. Orang-orang berpidato, seakan mereka semua seorang presiden yang memproklamirkan bangsanya: "kami pindahkan kekuasaan dalam tempo sesingkat-singkatnya…" Lalu kaca jendela kereta basah. Malam telah membungkus semua koper untuk pergi.

Di stasiun, orang-orang berdiri. Mereka saling berdiam di hadapan spiker. Tahu, jam-jam berlalu, tidak membawa siapa pun pergi ke rumah sendiri. Sebuah kota penuh spiker, tak perlu lagi mendengar suaramu.

1989
"Afrizal Malna"
Puisi: Spiker di Jendela kereta
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top