Mei 2018
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kau akan Melupakan

Saat semua yang aku lakukan
adalah berputar di lingkaran.
Kau akan melupakan
aku tidak akan mengingat.

Juga mimpi sebelum sadar
kenangan yang hilang kendalinya.
Kau akan melupakan
aku tidak akan menyalahkan.

Kita membangun dinding-dinding,
menyeret sesiapa menuju dasar,
sebelum semakin tinggi.

Kita membuka lengan-lengan,
pada yang tidak bisa kita raih,
sebelum tertutup lagi.

Kau akan melupakan
aku tidak ....

12 Maret 2017
Puisi: Kau akan Melupakan

Puisi: Kau akan Melupakan
Oleh: Arief Munandar

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pertem(p)u(r)an

Seperti hujan kau hujam
aku dengan pernyataan
dan pertanyaan tentang waktu

Dingin dan ingin mengekalkan
pertemuan pertempuran
antara basah dan resah

di atas jalanan jalinan
kasih menguap mengucap
kesediaan juga kesetiaan.


Paguyangan, 2017
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Pertem(p)u(r)an
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Polisi Mati Tadi Pagi

Di kotaku polisi mati tadi pagi
Roboh dihantam dua peluru
Oleh penembak yang tak terburu
Hilang di tikungan sepi berdebu
Melayang nyawa secepat matahari

Ini negeri makin beringas saja
Tak suka senjata bicara
Ini negeri makin berandalan saja
Tak setuju kematian menunggu

Polisi itu mati tadi pagi di sini
Di negeri yang tak nyaman lagi
Indonesia bukan zamrud khatulistiwa
Kejahatan meruak dimana-mana
-; Indonesia pun sarang mafia

Apa yang bisa kita lakukan?
Apa yang bisa kita kerjakan?
Ganti rejim bukan jaminan
Tadi pagi polisi, besok siapa lagi?
-; Mungkin kita sendiri.

Jakarta, 2013
"Cucuk Espe"
PuisiPolisi Mati Tadi Pagi
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Yang Tidak Pernah Jatuh Cinta

Aku yang tidak pernah jatuh cinta
dendang pagi dari hitungan telapak jari
aku yang tidak pernah jatuh cinta
dari kemurungan hari kusam dan sepi
aku yang tidak pernah jatuh cinta
pada teror dan perang tayangan televisi

Dan balada hutan kota ceritakan
air laut pasang dengan darah, karena setiap
kuncup bulan diterangi kilauan cahaya rudal
anak-anakpun hanya bisa meratapi kambing
yang digembalanya menjilat pasir, sebab,
ledakan menjadikan rumput coklat kering

Dari himpitan memori yang ia jumpai
di setiap detak saat pesawat tempur
berjarak seratus kaki dari rumah huniannya
dentuman peluru, kelumpuhan kota, tak ada hari raya
air matanya yang terbatas
daging kulitnya yang tak kebal jarum suntik
dan berikanlah aku segala cinta yang tak pernah patah

Bangkalan
21 Juli 2014
"Deni Puja Pranata"
Puisi: Aku Yang Tidak Pernah Jatuh Cinta
Karya: Deni Puja Pranata

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebab Adamu

Dan langit telah gelap
genap membawaku pada
malam yang asing dan bising

Kulihat matamu berbinar
bersinar terang lagi tenang
seperti rumah tempatku berpulang

Rindu tak bisa ditangkis
ditangisi, diratapi, atau dihindari
sebab adamu adalah cinta itu sendiri.

Paguyangan
2017
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Sebab Adamu
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sajak Negeri Pemarah

Ketika semua orang pemberani
Jeruji pun menjadi ladang rekreasi
Ketika semua orang memaki
Harga diri setinggi mata kaki
Ketika semua orang hilang nurani
-; Negeri ini tinggal cerita basi

Itulah yang terjadi di sini
Anak-anak menjadi beringas
Memperkosa teman sekelas

Sesekali tengoklah!
Kita sejatinya punya kekayaan meruah
Tetapi miskin akibat selalu lengah
Hidup pun menjadi lelah
Pejabat tak henti bermewah-mewah.

Jangan pernah kalian menyalahkan
Anak-anak yang pemberani dan pemarah
Membakar ban di jalanan, berteriak di gedung dewan
Tak ada asap tanpa bara api
Tak ada suap tanpa korupsi
Sadar, kita yang mengajari

Anak-anak itu lepas kendali
Karena kebodohan kita sendiri.

Jombang, 2013
"Cucuk Espe"
PuisiSajak Negeri Pemarah
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Namamu Bukan di Sungai dan di Tanah

Telah kutenggelamkan namamu di deras sungai
bersama sepi dari sepotong sisa amis kenangan
biar arus jeram menyeret namamu ke hulu-hulu
tanpa tepian. Dari segala waktu yang ada, debur
arus sungai membentur batu-batu ribuan tahun
yang mengendap dan dimuntahkanlah namamu
ke cerobong ingatan. Namamu tak diterima sungai

Lalu aku bakar namamu bersama reranting sayup
yang berserak di halaman. Abunya aku tabur diatas
tanah basah dekat pepohonan pisang, januari, beberapa
hari kemudian, pohon pisang tumbuh, dan lembaran-
lembaran daunnya ada ejaan bertuliskan namamu

Tanah dan sungai adalah saksi dimana jalan namamu
bukan di sungai atau di tanah, namamu untuk aku telan
dengan gerobak puisi untuk menjadi abadi, lalu kurajam
namamu dengan bongkahan besi yang menimbun namamu
dalam hati. Namamu bukan di sungai dan di tanah tanah.

Madura, 2014
"Deni Puja Pranata"
Puisi: Namamu Bukan di Sungai dan di Tanah
Karya: Deni Puja Pranata

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Karena Kita Manusia

Apa artinya mimpi
Jika pagi belum mulai?
Apa makna cita-cita
Jika malam terlalu gulita?
-; Berjalanlah saja, berjalan

Temukan senyum kehidupan
Di tikungan sebelum hujan
Seperti kelakar para malaikat
Saat doa lekat terpanjat
-; Usaplah muka rapat-rapat

Jangan sesekali meminta
Jika berulang-kali terlupa
Jangan sesekali mengiba
Karena kita adalah manusia
-; Seperti air dalam bejana

(Berjalan saja, berjalan saja)

22/04/2012
"Cucuk Espe"
PuisiKarena Kita Manusia
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sepi Adalah Kata

Puisiku lahir dari sepi
Saat angin menyapa dendam
Saat dingin mengukir embun
Jatuh di atas bebatu tak mati
Meski badai mendera tanpa henti
Karena kata aku ada
Karena kata aku berjiwa
Karena kata sepiku bermakna

Puisiku lahir dari sepi
Saat ombak menggulung pantai
Terbang bagai pasang merpati
Berkabung di reruntuhan karang hati
Melukis di rentang jemari
-; Sepi akan selalu berganti.

Surabaya, 2011
"Cucuk Espe"
PuisiSepi Adalah Kata
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jangan Didik Aku Menjadi Pemberontak

Jangan didik aku menjadi pemberontak
sebelum aku bakar kibasan debu dari lantai
batu-batu telah kusiram demi cuaca
jika kelak aku membangkang, itulah
tanda-tanda dimana ledakan kata
disembunyikan. Setelah kau memaksaku
untuk mengejar matahari yang tak
sanggup ku capai, di situ juga letak
kemarahan Tuhan

Jangan didik aku menjadi pemberontak
sebelum aku akan segalanya menguasaimu
dalam rindumu, dalam gelisahmu juga risaumu
adakah yang engkau ingat saat jatuh di lubang
yang jauh dari pemukiman? Aaaaaaah… Aku 
masih punya Tuhan yang lebih dari segalanya

Jangan didik aku menjadi pemberontak
sebelum segalanya meledak.

Bangkalan, Madura
2014
"Deni Puja Pranata"
Puisi: Jangan Didik Aku Menjadi Pemberontak
Karya: Deni Puja Pranata

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Mengapa Kau Izinkan?

Semua yang berjalan
dengan cara yang tidak seharusnya.
Mulus,
seolah aku terlalu lihai
dengan segalanya.

Andai aku tau
aku hanya pelapis antara kau dan dia.
Mungkin aku tidak akan di sini
Aku tidak akan menemui hatimu.

Melihat luka
yang kau bentang
dengan senyuman itu.
Apa aku harus berterimakasih?

Mungkin hanya aku yang terlalu dalam
di dalam kisah ini;
Dan hanya aku yang tidak begitu mampu
untuk mengerti.

Mengapa kau biarkan
semua sesuai rencana?
Mengapa kau izinkan
aku masuk dalam hidupmu?

Cinta ini
hampir aku sejatikan dengan sempurna.
Bagaimana bisa aku melepaskan
sesuatu yang memang tidak pernah aku miliki?

Cinta ini
hanya penunda rasa sakit
yang mana ujung
hanya tentang meninggalkan
dan ditinggalkan.

Mengapa kau biarkan
semua sesuai rencana?
Mengapa kau izinkan
aku masuk dalam hidupmu?

28/05/2017
Puisi: Mengapa Kau Izinkan?
Puisi: Mengapa Kau Izinkan?
Oleh: Arief Munandar

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Buaya Setia Kedungsari

Di tepi aliran Brantas
menunggu lelaki itu di atas batu.
Kekasihnya bergegas
dan selamanya tak lagi bertemu.

Kali sejuk dan ganas
menyihir setia menjadi sembilu.
Kedungsari waswas
diterkam hunusan taring waktu.

"Binhad Nurrohmat"
PuisiBuaya Setia Kedungsari
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sketsa Januari

Januari hujan tak berhenti
Sajakku masih tersemai
Di taman tanpa tepi
Bukan lukisan tanpa bingkai
Tapi goresan warna-warni.

Januari gerimis semakin liris
Langit pekat mengepal tangis
Ada malaikat di awan tipis
Bergerak berjingkat ritmis
-; Seperti nyala api tak habis

Ini bulan Januari
Purnama sebentar lagi
Ambil sebilah belati
Jangan serekah melati
-; Ini bukan bulan mimpi.

Jombang, 13/1/2012
"Cucuk Espe"
PuisiSketsa Januari
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kepada Bung Besar

Selamat malam, Bung!
Jakarta kini mendung bukan berkabung
Pesta baru mulai lekaslah bergabung
Tuang vodka sekedarnya tanda sapa
-; Ini bukan pesta jelata

Biarkan di luar demonstran mengiba
Biarkan koran-koran naik oplahnya
Biarkan televisi sibuk galang opini
-; Kita berada di tempat aman, Bung

Negeri ini seperti pasar malam
Semua permainan tersedia di sini
Jangan lupa harus saling mengerti
Itu kebijaksanaan kelas tinggi
Jika tidak dihabisi kawan sendiri
Buat cerita jual esok pagi

Jika rakyat sengit beri saja sandal jepit
Terlibat korupsi tak ada hukuman mati
Presiden siap tandatangani remisi
-; Jadi takut apalagi?

Selamat malam, Bung!

14/1/2012
"Cucuk Espe"
PuisiKepada Bung Besar
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Hikmah Menanam

Tak ada buah yang menggantung tiba-tiba pada pohonnya
Energi rahasia dari tangan semesta telah mematangkannya
Tak ada impian yang tiba-tiba mewujud di pelupuk mata
Darah dan keringat sang pemimpi yang kukuh menggapainya.

Tak ada yang pandai tiba-tiba tanpa belajar sepanjang usia
Kecuali sang Hidir yang mewarisi setitik rahasia Sang Pencipta
Tak ada yang tiba-tiba kaya, kecuali pekerja keras yang sukses,
Perampok mujur yang belum terjerat penjara,
koruptor beruntung yang belum tercium kapeka,
atau pewaris harta bejubun dari orang tua.

Jangan memetik jika tidak menanam!
Jika tidak ingin dianggap sebagai pencuri milik sesama
Tak ada ladang yang dapat dipanen tanpa dicangkul dan ditanami
Tak ada tanaman yang tumbuh sempurna tanpa dipupuk dan disirami.

Tak ada bunga yang mekar begitu saja pada tangkainya
Energi ajaib dari sang pemilik cahaya pelan-pelan memekarkannya
Maka madu manis pun terhidang bagi lebah dan kupu-kupu
pada puncak kematangan sang bunga
Tak ada bunga plastik teronggok begitu saja di ruang tamu kita
Bertetes keringat, jarak, dan waktu telah menjadikannya ada!


Jakarta
November, 2009
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Hikmah Menanam
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Meja kerja menjadi salah satu elemen yang begitu penting perannya dalam pekerjaan di ruangan Anda. Dengan adanya meja kerja segala pekerjaan bisa dilakukan setiap harinya dengan lebih mudah. Karena meja kerja memiliki peran yang begitu penting, maka tak heran jika meja kerja harus senantiasa terjaga agar dapat menunjang pekerjaan.

Berbagai Alasan Mengapa Anda Harus Membuat Meja Kerja Anda Senantiasa Rapi

Selain itu, meja kerja juga sebaiknya senantiasa rapi karena ada banyak hal yang dapat tergambarkan dari hal tersebut. Apa saja? Berikut ini beberapa alasannya untuk Anda.

Menunjukkan citra diri Anda
Kebersihan adalah sebagian dari iman. Masih ingat dengan slogan tersebut? Ya, slogan tersebut menunjukkan bagaimana citra diri Anda tergambar dari seberapa bersih Anda. Salah satunya adalah kebersihan pada meja kerja Anda.

Kebersihan meja kerja Anda dapat menggambarkan bagaimana citra Anda sehari-harinya. Jika Anda merupakan seorang yang resik tentu hal tersebut dapat tercermin dari meja kerja Anda yang terlihat bersih. Pun begitu jika Anda merupakan seorang yang jorok, maka meja kerja Anda akan terlihat sedikit berantakan. Karena meja kerja Anda bisa menggambarkan citra diri Anda? Maka sebaiknya bersihkan atau rapikan meja kerja Anda setiap saat.

Menunjang pekerjaan Anda
Tak hanya dapat menunjukkan citra diri Anda, kebersihan meja kerja kantor Anda juga dapat menunjang pekerjaan Anda. Hal ini akan terasa sangat penting jika Anda merupakan orang yang setiap harinya selalu bekerja di meja kerja. Dengan membuat meja kerja Anda senantiasa rapi, maka pekerjaan Anda sehari-hari dapat terbantu dengan kondisinya yang rapi.

Salah satu contohnya adalah pada saat Anda mencari berkas atau dokumen. Ketika meja kerja Anda cenderung rapi, maka Anda dapat menemukan berkas atau document tersebut dengan mudah. Sebaliknya, jika meja kerja kantor Anda tidak rapi, maka bukan tidak mungkin waktu Anda akan terbuang sia-sia karena harus mencari dokumen yang sulit ditemukan pada meja kerja Anda.

Itulah berbagai alasan mengapa Anda harus membuat meja kerja anda senantiasa rapi. Semoga bermanfaat.
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Terkapar dari Seberkas Puisi yang Membunuh

Luka mendekamku
laharnya menggumpal menggerayangi darah
Luka memasungku
jelma keringat tubuh menjerit
darahku api dan keringatku air

Kini tiba oktober yang ke sepuluh
ingatanku kembali meleleh 
melepas kebisingan dengan tuak
yang membawaku pada jalan yang lebih gelap
semangatku tersayat, pada kabar yang kau kirim
dari bibir angin yang jatuh di lubang telinga
dulu, aku ingin mengukur bintang
agar sesuatu itu tak pernah runtuh
setiap berkali kali ulang kau berucap
darahku api dan keringatku air

diberingin tua terpahat namamu bergurat oktober
ratapan kepedihan menunggu kematian
dengan dupa dan kemenyan kau bacakan ritual kematian
kau bingkis upacara dengan bunga bunga melati
tersusun rapi menjadi hiasan kalung di lerhermu

Oktober yang ke sepuluh kau membunuh dengan puisi
akupun bersimpuh dengan tangisku sendiri
darahku api dan keringatku air

Madura 10 0ktober 2013
"Deni Puja Pranata"
Puisi: Terkapar dari Seberkas Puisi yang Membunuh
Karya: Deni Puja Pranata

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Prapanca

Dari desa ke desa leleh tinta pujangga
dan petani di lumpur sawah raganya.
Tak berpijak bumi tapak kaki para raja
dan meraih langit menjadi singgasana.

Tahta menuangi kanal dengan air mata
dan di luar istana tak tersurat nestapa.
Melamun kabut di sekujur Anjasmara
dan sejarah menapak lereng peristiwa.

Lantas tertatah silam waktu oleh kata
dan bahasa akan mencipta segalanya.

"Binhad Nurrohmat"
PuisiPrapanca
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kisah Sandal Jepit

Aku ingin bercerita tentang sandal jepit
Di negeri yang suka mempersulit
Dipimpin pejabat kaya perut buncit
Rakyat tinggal tulang berbalut kulit
Keadilan jauh di atas langit
Kemakmuran hanya bikin sakit

Ini tentang sepasang sandal jepit
Tapi sandal ini terlalu nakal
Hingga mampu menyobek akal
Tipis batas benar dan bebal
-; Jujur dianggap membual

Karena itu aku ingatkan;
Jangan sesekali mencuri sandal
Hukumannya seberat skandal
Sekali lagi aku ingatkan;
Sandal dan skandal tak beda

Mencuri sandal meringkuk di penjara
Melakoni skandal tinggal tepuk hakimnya
Begitulah keadilan di Negeri Sandal
-; Zamrud khatulistiwa yang terjepit.

9/1/2012
"Cucuk Espe"
PuisiKisah Sandal Jepit
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ibu, Aku Ingin Terompet
(Di pojok pasar beralas tikar)

Lelaki kecil anak penjual terompet
Duduk berdempet di tembok dingin
Tak kuasa menahan rasa ingin
Tertunduk saat kembang api menggigil
Pesta tahun baru dimulai 

“Ibu, sisakan satu terompet untukku
Biarkan aku berlari seperti mereka
Anak-anak yang membeli terompet dari ibu
Sisakan satu, ibu! Sisakan satu”
Kita hanyalah pelengkap pesta
Seperti api membakar lilin dupa 

“Anakku, dengarkan saja mereka
Meniup terompet untuk kita
Anak-anak itu bergembira karena kita
Moncongkan bibir, tarik napasmu
Dengarkan saja! Dengarkan terompet itu”
Lelaki kecil itu meringis
Detik-detik bergulir tipis
Harga satu terompet
Mampu menguras dompet
Lelaki kecil anak penjual terompet
Telungkup di samping toilet. 

“Selamat tahun baru, anakku” 

Desember, 2010
"Cucuk Espe"
PuisiIbu, Aku Ingin Terompet
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pelajaran dari Kupu-kupu

Untuk memiliki sayap-sayap yang indah
Kupu-kupu merelakan dirinya jadi kepompong
Bermertamorfosa dari ulat jadi penjelajah aneka bunga

Dan begitulah kupu-kupu memberi pelajaran pada semesta
Dalam proses menjadi, tak ada yang sempurna begitu saja
Maka kupu-kupu tak pernah meminta
Dari telur langsung bisa terbang ke udara
Tak juga menolak kehendak sang pencipta
Untuk menghindari kepompong membungkusnya

Untuk memiliki sayap-sayap yang perkasa
Manusia pun mesti melampaui suka dan duka
Kadang juga derita yang memilukan raga
: Dengan direndam derita jiwa menjadi kuat
Dan hati pun makin teguh menuju rumah-Nya.


Jakarta, 2010
"Ahmadun Yosi Herfanda"
PuisiPelajaran dari Kupu-kupu
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Reklame Bisu

Dendamnya ia pajang di himpitan kota
ditumpahkanlah segelas amarah
dari susu kedelai yang ia minum
sehabis mengerjakan tugas fisika
dering handphone di telinganya meledak
saat dibacanya daun saledri dari sawah

Kami tak ingin mengatakan, jika ini Durjana
walau badai api di jantung sudah menyala
Petani-petani masih memendam amarah

Telenovela nyanyian pecundang

ia tembus matahari dan merobeknya di
langit ke tujuh. Malaikat-Malaikat diam
tertunduk!

2017-2018
"Deni Puja Pranata"
Puisi: Reklame Bisu
Karya: Deni Puja Pranata

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cerita Luar Kota

Tanganku gemuruh menyentuh selarik sajak
mengiris diam-diam di balik kubah malam.
Jajaran tribune sembunyikan rembetan cemas
menatapi pertunjukan
terguncang dering sebuah perbatasan.

Cinta tak sepenuhnya kelakar
juga getar percuma di sebuah luar kota.
Kau tahu, tak setiap orang lepas jangkar
di bandar-bandar, sebab laut
larutkan iseng yang menyergap di luar maut.

Di dinding kapal, rindu tumpul dan aus
loncati amukan ombak di ujung geladak
lalu mampus!

Jakarta, 2001
"Binhad Nurrohmat"
PuisiCerita Luar Kota
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Roman Pelarian

Tak ada di sini gugup jantungmu
hanya kecut tubuh membekas di dinding
dan pekat jelaga pertarungan di batas kota.
Kau hitungkah pedih hidup-mati
saat api kertas puisi membakar jemari
dan sebelum tenda malam-malam kau robohkan diam-diam
seperti serigala mengunci lolongan untuk malam yang lain?

Guncangan besar membuat kau debu ringkih di pojokan.
Siulmu lemah dalam rimbun daunan jati
yang rontok awal pagi.
Jantan secangkir kopi dan getir tembakau
cuma ilusi gagah di senggang hari.
"Harap tenang, hidup tak ditulis untuk kalah-menang,"
pekikmu di perempatan kota dan tengkukmu hitam dendam.

Musykilkah semua kisah cuma kebetulan?

Terkenang obrolan lama, menjelma surga dingin
penggelitik senyum kecilmu di tanah asing.
Nasib tak terduga, menghunus belati
dan birahi bidadari.

Otot jantungmu akrab semua itu.

Jakarta, 2001
"Binhad Nurrohmat"
PuisiRoman Pelarian
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pada Jembatan Berbatu

Jalan itu menikung dan berbatu
Padahal hujan baru saja berlalu
Bias embun seperti cermin
Di rerumputan tanah membeku
Baca sajakku jika gelisahmu berlalu
Baca sajakku jika malammu beradu
-; Dan berhentilah di jembatan itu

Ambillah sepucuk dedaun, ambil!
Jatuhkan ke riuh air tanpa ragu
Seekor ikan terjerat mata kail
Lihat dia berlari dan terus berlari
-; Tanpa peduli detak jantungmu

Ini jalan menikung dan berbatu.

April, 2011
"Cucuk Espe"
PuisiPada Jembatan Berbatu
Karya: Cucuk Espe

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pesona Cinta

Tak sepatah kata mampu mengucap keindahannya
Puitika juga bertekuk lutut pada gerai rambutnya
Pada bening mata itu kulihat kau berenang
ke tengah telaga. Kutahu, kaupun memburu cinta.

Di antara mawar yang menyubur di taman hatiku
Hanya engkau, pesona yang menggetarkan jiwa
Di garis purnama engkau menari, dalam denyar angin
Engkau kerdipkan matamu. O, pesona yang menjerat rindu
Cinta mengerjap pada kerling matamu.

Tak sepatah pahat mampu memaknai keindahannya
Estetika juga takluk pada lekuk tubuhnya
Di sudut bibirmu aku pun mengaduh
Terbuai harum keringatmu.

Jakarta
Agustus, 2003
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Pesona Cinta
Karya: Ahmadun Yosi Herfanda
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Aku Ingin Kawini Seribu Pelacur

Permohonan pada seribu penghulu
kawinkan aku dengan seribu pelacur
tanpa janur di sebelah pintu, bukan
di wisma juga bukan di lokalisasi

Berikan aku pulau yang sepi dan
setiap petak tanahnya akan kutanam
kuil, masjid, gereja, wihara, klenteng
di mana kelak, setiap anak-anakku
berlayar menyusuri lautan dan tak lagi
mengenal kemacetan serta bising knalpot

Sepanjang rel tanpa lintasan kereta
aku mengeja namamu dengan cemas
saat setelah ribuan demonstran
memblokir jalan menuntut naiknya BBM

Di lokasari, kramat tunggak, pulau bunder,
pelak pelak, pasar kembang, dolly dan jarak
apa kau dengar berita televisi menelanjangimu?

Aku ingin kawini seribu pelacur
yang vaginanya adalah air mata

Madura, 2014
"Deni Puja Pranata"
Puisi: Aku Ingin Kawini Seribu Pelacur
Karya: Deni Puja Pranata

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Alienasi Perempuan Semua Orang

Kisut bibirmu menggambar selaput cahaya, mengelupas
dari sekujur laut pasang, hitamkan seluruh tanda.
Tangan-tangan lelaki menulis surat cinta
di pesisir basah dengan huruf-huruf besar.
Di dahan bakau kau gantung gaunmu, menyelam
bersama kura-kura, tenggelamkan debar jantung
meletuskan isyarat tak diharapkan.

Seperti laut, surat cinta melulu menunggu,
kalimat-kalimat aneh di sepanjang pesisir,
sebelum digerus arus.
Kau mengerti, cinta cuma ilusi yang diagungkan.

Dan seperti laut, tak ingin pasrah pada celetuk kecil
rasa sepi, juga hasrat iseng berbagi: lalu kembali
seperti laut, kehilangan jejak kering di pantai kemarin.

Warna bibirmu tak berubah, asingkan debar jantung.
Ratusan senja berlewatan
mereka terus menulis surat cinta, seperti arus,
dan percaya: mungkin tak singkat, kelak
isyarat lain tertinggal di sebutir pasir...

Jakarta, 2001
"Binhad Nurrohmat"
Puisi: Alienasi Perempuan Semua Orang
Karya: Binhad Nurrohmat

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||