Aku sudah Lelah Berteriak

Mungkin aku kini akan berbisik saja, pada angin, pada debu yang berpusing, pada semut yang berderet di jendela, pada burung yang melintas di udara. aku sudah lelah berteriak, mengingatkanmu akan riwayat ular dan buaya, yang sesekali menjelma tikus dan musang di lipatan pakaian dinasmu. mungkin daun-daun ayat itu akan layu, dan runtuh bagai helai-helai daun jambu.

Mungkin kini aku akan bergumam saja, membiarkanmu melipatgandakan angka-angka, yang kau curi dari anggaran belanja negara, dan menumpuk di rekening istri simpananmu. Ah, ada pula yang kau sembunyikan di kardus berdebu. bagai igauan ilalang pada embun, bagai igauan ketela pada belatung, aku akan menghitung diam-diam, sampai saatnya darahku mendidih dan kepal tanganku menghantam ke wajahmu. Lalu aku akan kembali bergumam saja, membiarkanmu berlalu dengan wajah lebam dan membiru.

Ah, siapa akan mendengar detak jantungku, galau hatiku, kecamuk otakku. Mungkin aku sisipus yang gigih mendorong batu ke atas bukit itu. Mungkin aku bilal yang terus berseru meski dada ditimpa batu, sampai saatnya batu berbalik menimpuk wajahmu yang dungu.


Kota Tangerang Selatan
Januari, 2015
"Ahmadun Yosi Herfanda"
Puisi: Aku sudah Lelah Berteriak

Post a Comment

loading...
 
Top