Antropologi dari Kaleng-Kaleng Coca-Cola

Holger, di Beerental Weg ini, apartemenmu, aku lihat wayang kulit Jawa, seperti jendela-jendela tertutup itu. Kau sembunyikan juga, Marx dan Budha dalam rak-rak buku. Di manakah manusia kalian temukan di antara kartu pos, donat, dan serakan tisu. Langit mencium sisa-sisa waktu, pada detak sepatumu, putih melulu, putih melulu.

Tapi kaos kakiku tak cukup menahan dingin, udara Hamburg bersama orang-orang sunyi dari bangsanya sendiri. Aku lihat boneka 10 negeri, seperti pasangan tua di Hannover, mereka tersenyum: Bisakah menata kota, dengan tomat dan tisu melulu. Mereka dibawa dari televisi yang lain, dari desa-desa kecil, belajar elektronika dan membuat wesel. Langit, tisu berlapis-lapis, putih melulu, putih melulu.

Tetapi seorang laki-laki adalah kisah lain, Holger, yang meletakkan dirinya dalam sepi lampu-lampu 5 watt. Dan membuat bisik-bisik dalam bahasa jerman yang beku. Lalu dari apartemen ini, kita tahu, Holger, di luar orang berlalu, berlalu... meletakkan bangsanya, tanpa membanting ember: Kita hanya mengenang manusia, dari kota-kota, yang ditata dari kaleng-kaleng coca-cola.

1993
"Afrizal Malna"
Puisi: Antropologi dari Kaleng-Kaleng Coca-Cola
Karya: Afrizal Malna

Post a Comment

loading...
 
Top