loading...

Kita Tidak Sedang Menunggu

Kita tidak sedang menunggu. Lepas dari kefanaan
dan meluncur masuk keabadian. Meski mungkin
akan tetap menderita. Senantiasa, di sini,
dalam kekal. Kita tidak hidup
dalam waktu. Kita tidak dipertemukan
oleh umur oleh waktu. Oleh saat yang sama
di sini di dunia. Kita diikat ruang
dan jarak. Keterkurungan
dan keterpencilan
dan lambaian
kebersamaan.

Mari kita rubuhkan benteng, mari kita bakar
pagar-pagar. Jalan-jalan berentangan, membentang
hingga seluruh hamparan senantiasa bermula
dari manusia dan berakhir pada manusia
dan berjuluran ajakan dan berjuluran
keakraban. Mari kita melabur dinding
dengan warna kuning gading
dengan warna hijau muda. Dan bukan
warna merah, atau putih, atau hitam!
Mengubur kunci dan grendel. Melebur besi
dan menjadikannya genta
kumandang bening
dentang kasih
setiap saat.

Senantiasa tersenyum. Senantiasa menyapa
dan mengajak singgah. Menunjuk istirah
dan membicarakan pekerjaan
bersama demi kebersamaan
bersama-sama.

1987
"Puisi Beni Setia"
Puisi: Kita Tidak Sedang Menunggu
Karya: Beni Setia

Post a Comment

loading...
 
Top