loading...

Malam Kota, Rambutmu

Engkau datang dalam hidupku bagai gempa
mengirimkan runtuhan kota ke tenteram kalbuku.
Sejak itu jiwaku darurat selalu, bergegas membangun
tenda-tenda sepanjang jalan yang sesak oleh erangan
pilu, erangan rindu. Kita pun membangun kota baru
dengan tiang-tiang malam. Kau baringkan di sana
segala lukamu tempat lenganku melebar
memperban isak tangismu. Setiap matahari terbit
aku beringsut, kembali menjadi warga kota yang lain.
Baru jika lampu-lampu di sana menyala dengan kegelapan
aku berlayar diam-diam di sungai-sungai
yang mengalir oleh geraian rambutmu. Dan lautmu
yang menggenang beribu tahun mulai berombak
kembali kala perahuku mencapai bandar itu.
Hampir-hampir saja kota itu menjelma sebuah negeri baru
ketika seribu matahari tiba-tiba memanggang kota baru
yang kita bangun dari tiang-tiang malam hingga menguap
jadi bayang-bayang. Sungai-sungai mengering
memangkas rambutmu. Lalu engkau pun pergi
dari hidupku bagaikan gempa meninggalkan
hamparan puing sepanjang kota siang,
sepanjang kota malam. Di jantungku masih tertinggal
kartu warga dari sebuah kota yang perlahan sirna.

"Agus R. Sarjono"
Puisi: Malam Kota, Rambutmu
Karya: Agus R. Sarjono

Post a Comment

loading...
 
Top