loading...

Mengapa Tak Ada yang Tersisa?

Kawat telepon. Hubungan gaib
antara kita. Sebaris angka
dan selepas ‘apocalypse now’
engkau membereskan ranjang

“aku suka kamu” katamu
“sungguh?” bisikmu.

Ruang yang mengurung itu
bermakna sandang pangan
waktu dan cinta pun
berdenyut
sendiri sendiri sendiri sendiri.

“Aku akan menelepon” katamu
“Cerewet!” teriakmu.

Management hotel menghadirkan
sarapan. Telor dadar dan kopi
di dinding. Siapa yang iseng
mencatat
nama nama nama nama nama nama.

Saat pun usai. Mengapa
tak ada yang tersisa?


1980

CATATAN:
Puisi ini berasal dari Buku Legiun Asing, tidak memiliki judul. Admin yang memberikan judul untuk puisi ini.
"Puisi Beni Setia"
PuisiMengapa Tak Ada yang Tersisa?
Karya: Beni Setia

Post a Comment

loading...
 
Top