Sebuah Percakapan di Dekat Perapian

Wajah Nyonya Ludwig yang lelah
dan ramah bagai dunia yang telah pensiun
jadi bercahaya oleh hangat perapian
dan percakapan
Daun-daun jadi cepat luruh sekarang, ucapnya
sambil menyesap anggur merah
dan menduga-duga mutunya. Bahkan kerusuhan
jadi sering meledak di dunia ketiga.
Mungkin mereka sering masuk angina
dan terbatuk dalam ledakan-ledakan. Coba
seandainya ....
Dulu di sini daun-daun lebih hijau dan salju
lebih putih. Harga-harga sekarang
tak masuk akal mahalnya. Apakah di negerimu
ada juga derita, orang sulit kerja
atau teater yang buruk mutunya?

Andai saja ada matahari tiga hari saja, bayangkan
sebulan langit seperti lapisan timah dingin
dan hujan nyaris tiap hari. Kudengar
di negerimu matahari bersinar gemilang
tiap hari dan daun-daun hijau abadi?

Tak masuk akal 
orang di sana bisa depresi
dan meledakkan bom 
seperti sudah seribu tahun
di sergap gelap 
musim dingin
seribu hujan dan deras angin.
Negeri penuh cahaya! Tak masuk akal bukan
jika di surga masih juga ada bom.

Tapi ngomong-ngomong, di manakah
sebenarnya tanah airmu?

"Agus R. Sarjono"
Puisi: Sebuah Percakapan di Dekat Perapian
Karya: Agus R. Sarjono

Post a Comment

loading...
 
Top