loading...

Seperti Baru Kemarin

Seperti baru kemarin aku menjejakkan kakiku
pada lumpur yang kini kekal di museum
5.000 tahun yang lalu di Mohenjo-Daro
tidak salah lagi
dan seakan-akan setiap 100 tahun aku lahir
di tempat lain dan mati
di tempat lain lagi. Senantiasa
tanpa sadar.

Melakoni jalan-jalan serupa, menempuh jalinan
yang sama. Menuruni jurang, memanjat
tebing. Melayari laut Selatan
berulang-ulang, dan senantiasa dikurung
lengkung langit. Menyerah dalam lelah,
mati dan lahir lagi di tempat lain
dan kembali ke sini dan kembali berbuat
begini. Dengan tanpa sadar.

Dunia ternyata cuma dirambati ketidakmengertian
tubuh hancur dan utuh lagi. Roh dikumpulkan
di pinggang Adam. Termangu dan dungu
buta dan pekak oleh denyut waktu
terpisah dari segala peristiwa, terpisah
dari setiap ingat. Menggelepar dalam ruang
sempit. Terkapar
mabuk kekinian.

Kita dikurung dalam peristiwa dan ruang
yang melulu itu. Alpa dan tak mau tahu
: tidak diberi tahu! Diikat dan dibimbing
naluri tunggal, dan senantiasa berbuat
sama. Dijebak fatamorgana, dan sadar
kita tercecer-cecer. Lesu. Buntu
tak mampu menyimak
Sejarah Kemanusiaan.
1983

CATATAN:
Puisi ini berasal dari Buku Legiun Asing, tidak memiliki judul. Admin yang memberikan judul untuk puisi ini.
"Puisi Beni Setia"
PuisiSeperti Baru Kemarin
Karya: Beni Setia

Post a Comment

loading...
 
Top