Syair Pindah Rumah

Sambil mengemasi barang-barang dan kenangan,
berapa kali 
sebenarnya kita sanggup berpindah rumah,
mengubah alamat 
dan tempat pulang?

Pada saat-saat begini 
aku ingin tiduran saja
di atas gumpalan awan 
atau dadamu,
memandangi matahari terbit 
atau tenggelam
seperti raja-raja dan negeri-negeri 
pada dongengan silam.

Kupandangi engkau menyapu halaman
membersihkan guguran kenangan dan daun-daun
lalu membakarnya hingga sunyi membumbung
ke angkasa. Tapi kulihat juga orang-orang terusir
dari tanah-tanah leluhur, ladang dan sawah yang subur
menjadi pengembara sambil membawa-bawa sapu
dalam ingatan, melewati ribuan malam, ribuan siang
menggumamkan impian tentang rumah
dan sebuah halaman kecil untuk bisa disapu setiap pagi
agar anak-anak bisa berlarian di bawah matahari.
Tapi berapa kali 
sebenarnya dalam hidup kita sanggup
berpindah rumah, 
mengubah alamat dan tempat pulang?

Kulihat seekor laba-laba tertiup angin ke selokan
gugup mencari ranting-ranting pohonan
tempatnya selama ini
menganyam jaring-jaring rasa aman dan kenangan.
Tapi hanya air semata di sana tempat dunia
menjadi serba berbeda di antara katak dan ikan
tanpa serangga yang dikenal,
tanpa tetangga yang biasa meski matahari
dan hujan masih yang dulu juga. Di saat-saat begini
aku ingin tiduran saja di atas gumpalan awan

atau dadamu sambil menukar-nukar peta di cakrawala,
membayangkan sebuah rumah lain tempat kita
tak bakal berpindah dan terusir
selamanya.

1995
"Agus R. Sarjono"
Puisi: Syair Pindah Rumah
Karya: Agus R. Sarjono

Post a Comment

loading...
 
Top