loading...

Tentang Penyesalan

Aku hanya memuji - sedikit terpaku,
dengan pancaran sinar yang membalut
gerakan lambat senyuman itu,
sampai seakan aku sedikit 
terlambat
hanya untuk mengatakan 'hai'.

Aku terkagum - berbalut heran,
tak mampu berkata banyak.
Mulutku terasa berat,
suaraku seakan menanggung beban.
Lidahku ...

Berkali aku memaki harga diri,
sampai menangis di ujung malam.
Karena seharusnya ada tanya,
"inikah cinta pandangan pertama?"

Mungkin itu disebut rindu
atau damba, atau hasrat,
atau apapun itu
yang telah begitu membatin.

Aku meneliti kalimat-kalimat panjang
yang diutarakan mimpi,
mencoba menerjemah
agar mudah dipahami kenyataan.

Tapi semakin aku menulis,
semakin banyak kertas
yang aku sia-siakan.
Aku sobek
aku robek.

(Ada banyak skenario yang pernah aku lihat,
ada banyak perumpamaan yang pernah aku dengar,
semua hanya mampu menjadi perandaian)

: Andai 'aku mencintaimu'
adalah gabungan kata
yang pernah aku utarakan padamu,
mungkin aku tidak akan terlalu banyak
menumpahkan kata
tentang penyesalan.

Dan yang telah terjadi,
mungkin tidak sejauh ini.
Dan mungkin memang benar,
cinta tanpa memiliki
akan selalu sejati.


Januari, 2018
"Puisi: Tentang Penyesalan"
Puisi: Tentang Penyesalan
Oleh: Arief Munandar

Post a Comment

loading...
 
Top