Juni 2018
Dendang Sepotong Bulan

Melingkari tembang langit yang membiru
menjadi cuaca yang pecah menjadi dua sumbu
saat purnama mengkristal, membuka senyummu
dan gerhana permata menghujani bumi dengan
intan-mutiara di matamu.

Kerinduan yang menebal di negeri bulan
tempat singgasana cuaca yang teragungkan
telah menanti manusia hujan
berpayung biru, memegang lentera awan.

Kami menjahit buah hati di lembah kuning gading
lembah yang mengendapkan madu lebah kuning
di pinggir sungai susu bercampur aroma pandan
yang tumbuh gula pasir di setiap tepian.

Di sanalah bunga tersenyum pada tumpuan cahaya
tempat sungai yang bergegas menemui kekasihnya
sementara kabut bergelayut dengan manja
memulas delima, mengirimi surat dengan bahasa
gemericik air. Dalam desau daun yang mengalir.

Mengubah kelopak menjadi derai rambut berhelai
emas. Bermahkota lipatan kuntum bunga
menjuntai sebatas dada dan pinggul
yang mengundang kupukupu yang siap terbang
mengitari jelmaan laurel, beraroma surga segar.

Kakinya duduk di batu mutiara
bergaun gumpalan awan yang diracik oleh cempaka
warnanya meluncur di pelangi
membasahi bulir embun yang lupa untuk kembali.

Magetan, 3 Mei 2014
"Puisi Kinanthi Anggraini"
PuisiDendang Sepotong Bulan
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Musim Pelangi Hitam

Desiran udara dalam nafas senantiasa tercipta
dalam palung senja seluas segara. Yang tak melupa
lihatlah sang waktu yang begitu kejam merajam
meninggalkan wajah yang berpaling tajam
keadaan jiwa tak dirasa hati. Tetap melangkah
dan bergegas untuk pergi. pada rahasia dimensi
lekat diingat, mendaging di urat nadi.

Barangkali hara semakin lara
bergerimis di kabut yang tak kunjung mereda
membuang kertas usang bernyawa. yang terganti
langit karam pada desiran darah dari sungai langit
yang melimpah
hangat hijau daun dan kuning jagad bersumpah
berpagar bidadari yang sedang mandi suara
berbalut gerimis yang ketat menjaganya

Inilah musim pelangi
dimana kekelaman mendawaikan selaput bumi
saat bulan berbantal bunga-bunga kasturi
bersama hujan yang menumbuhkan akar mati

Di tanah yang menumbuhkan rindu kembali
berteman warna kuas yang lekas berganti.

Magetan
24 Januari 2014
"Puisi Kinanthi Anggraini"
PuisiMusim Pelangi Hitam
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Senja dalam Segelas Kopi

Aku suka memandangi wajahmu
saat kautuangkan senja
dalam segelas kopiku
warnanya memerah bata,
serupa ramalan cuaca
yang terperangkap
dalam kelopak matamu.

2017
"Puisi Joshua Igho"
PuisiSenja dalam Segelas Kopi
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Kepada Warna

Kepada raga
kutitipkan segala lara
agar sukma tetap berharap
kepada yang mahanama.

Kepada warna
aku titipkan dunia,
agar menjadi rumah
bagi jiwa-jiwa
yang mendamba bahagia.

Kepada nada
aku titipkan surga
bagi jiwa-jiwa
yang telah selesai
dalam pencariannya.

2017
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Kepada Warna
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Rakaat Pertemuan

Saat kutakbirkan cinta atas namamu, Kekasih
Aku luruh dalam laku sujud daun,
Meskipun aku masih terbata mengeja kharakat hujan
Teduh pelukmu selalu kudekap
Sepanjang rakaat pertemuan.

Pondok Pena, 2013
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Rakaat Pertemuan
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sesudah Api

(1)
Sesudah api lesap pada fragmen malam, kesendirian bagai mencengkeram kuduk diam-diam
doa-doa menggantung langit-langit ruang
dan seorang perempuan meringkuk semenjak petang
"Wahai hantu dari hala selatan
usaikanlah kembara - gentayangan di jiwa perempuan bimbang
carilah jiwa lain yang kukuh bagai trembesi
yang luput dicicipi gergaji tebang"
teriak perempuan dalam hati

Namun api telah meliukan diri sebelum padam, jiwa perempuan itu tak pernah usai mengutarakan dendam.

(2)
Sesudah api undur diri
lepas nyala
jelaga seketika menyongsong mata
doa-doa perempuan berjiwa bimbang
berhambur dan terbang
menyelinap di kisi ventilasi
melesat menuju hitam cakrawala
sementara malam semakin tinggi

Perempuan itu menggigil dan menerka-nerka
kegelapan lain yang tak lagi bisa dinujum mata.

Januari 2015
"Puisi Kinanthi Anggraini"
Puisi: Sesudah Api
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Suamiku Tragedi Mei

Berhamburan ringan bagai kapas putih lugu
kesana kemari bermain boneka berbaju ungu
berlari dan berteriak kau datang memelukku
memanggil "ibu" dan menangis di pangkuanku.

Sinar matamu menghidupkan mayat berpembuluh
di parasmu tampak ukiran-ukiran bibit lelaki ke-sepuluh
yang membuatku kembali merasakan guguran peluh
hingga aku tak sanggup berdiri dan hanya bersimpuh
tak kuasa menolak dan berbuat banyak, aku lumpuh!
Sementara saat membedaki lehermu sore ini
seolah tanganku bergerak mencekik sendiri
saat menyisiri rambutmu yang wangi
serasa ingin kujambak dan segera kupangkasi.

Dia anakku dari aku yang tak bersuami
penghulu yang menikahkanku hanya dalam mimpi
buah kegagahan Mei yang sebenarnya mengawini
Aryati, gadis penurut yang tak pernah mengerti.

Aku menyayangimu, walau pernah kupukul keras perutku sendiri
Aku mencintaimu, walau pernah membuatnya tak sadarkan diri.

Akupun rela mati
dan peristiwa sudut lorong itu akan kusimpan sendiri
telur buas di otakku ini
perlahan kuyasini, sembari menunggu diriku mati.

Magetan, 6 April 2013
"Puisi Kinanthi Anggraini"
PuisiSuamiku Tragedi Mei
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Menanam Pasrah

Barangkali aku tak bisa bergerak ke mana
untuk sekedar mendekat atau minum seadanya
bagiku itu bukanlah takdir yang pahit
kala tanah meretak dan resapan semakin sulit.

Kerap kali riang kala gerimis menyambang
menempel pada celah dan berkenan menggenang.

Berawal dari benih yang jatuh dari paruh
di pelataran merah bercampur kerikil, pasir,
dan batu-batu tambang
di depan goa putih kokoh yang berdiam, kala
langit menghitam dan badai meminta persembahan.

Daun, cabang, tumbang, lumpuh, dan hilang
tercabut dari tanah
hingga mengering ataupun musnah
kepasrahan yang tak kunjung hilang
saat pandangan mata luntur dan berbayang
tak henti napas bersyukur, atas lahir dan berkah umur.

Magetan, 14 April 2014
"Puisi Kinanthi Anggraini"
Puisi: Menanam Pasrah
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Pupus

Di pintu fajar yang mawar
Kutemui bekas langkah yang
Tak lagi menjajar.
Lalu rintik hujan
Jatuh membasahi mukanya
Menggenang; membawa
Hilang bayang.

17 November 2010
"Dimas Indiana Senja"
PuisiPupus
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Ingin
(Kepada Aulia Nur Inayah)

Izinkan aku membaca puisi yang tertulis di jilbabmu,
Yang kata-katanya mencahaya
Mata tajammu,
Nyampai bibirku layu,
Semua rindu kan lebur dalam lagu.


Senja
Desember, 2010
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Ingin
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Terbang

Mata berpandang sayup kecoklatan
menyatukan jarak menjadi kenyataan
sembari merebahkan kepala yang larut
oleh angan-angan yang tak kunjung surut

kakiku tertekuk setengah dada
dengan bulu putih yang siap berkelana
menahan nafas yang tumbuh di udara
menanti tumbuh sayap di punggung usia

dengan begitu musnahlah segala keriuhan
di lalu lintas, perempatan dan trotoar pejalan
tol, pertigaan dan jalan aspal penuh perbaikan
bersih dari kendaraan besi, dan joki tree in one

saat kaki tak harus dimiliki
sebagai pijakan sepatu bermerk atau gelang kaki

inilah saatnya ras bangsa-bangsaku mengudara
kala meminum daun bercampur seribu mantra
saat itulah  tak lagi kutekuk badan
di sudut tembok, tanpa penerangan.

Jepara, 27 Mei 2014
"Puisi Kinanthi Anggraini"
PuisiTerbang
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Di Ruang Rapat Paripurna

Di ruang rapat paripurna
di meja pimpinan sidang
ingin kutulis puisi
yang meleleh dari tangisan
anak negeri
puisi kemarahan
puisi kegeraman
atas perilaku para wakilnya.

Di ruang rapat paripurna
burung garuda jatuh tiba-tiba
sayapnya patah
luka di sekujur tubuhnya
darah membasahi meja-meja
dimana mereka tidur
memilin mimpi
dada burung garuda tercabik
terhunus oleh produk undang-undang
yang tidak dikehendaki lahirnya.

Di ruang rapat paripurna
fakir miskin dan anak-terlantar
mengobati luka burung garuda
dengan air mata mereka.

2017
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Di Ruang Rapat Paripurna
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Mati Suri

Keningku membutuhkan papan
untuk menghancurkan perasaan
tanganku membutuhkan paku
untuk mencongkel kedua mataku

membutuhkan tali di leher dada
mati suri selamanya

menyelinap di balik pohon kecapi
bersembunyi di antara duri
mengintipnya dan berlari
melihatmu di lubang daun
yang terjatuh siang tadi

di setiap hela nafasmu
di setiap sudut pandanganmu.

"Puisi Kinanthi Anggraini"
Puisi: Mati Suri
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Cerita Batu

Dipahat dari ujung ke ujung
bahan dasar dari sebuah patung
kerap dilirik dan membuat untung

kami menghadap malam sendirian
juga siang, panas, mendung dan hujan
hingga tak lagi kurasakan
bagaimana sakitnya perasaan

sementara bidikan tegas maju perlahan
namun kami telah kebal dari senapan
peluru pun memecah bagai intan
tatkala menerpa permukaan badan.

"Puisi Kinanthi Anggraini"
Puisi: Cerita Batu
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Merenungi nasib yang tidak memihak pilihan, di sudut asa yang tidak sesuai dengan harap, aku melihat sosok lelaki berdasi, berjalan seperti sedang kecewa. Wajahnya lesu, penuh caci terhadap masa. Aku bisa melihat itu dari caranya melangkah, dia bahkan tidak sedang marah; dia sedang kecewa.

Aku rasa umurnya lebih mengerti caranya berjalan di atas duri yang tidak ingin dia pijak, namun harus dia injak. Dia terlalu pasrah dengan keadaan, kau mungkin akan berkata, dunia ini terlalu untuknya.

Caranya menyembunyikan masalah di dalam senyuman sederhananya itu, membuatku merasa bangga untuk sejenak. Dia tidak begitu peduli akan seberapa parah luka hatinya, dia hanya peduli dengan isi pandangan di sekitarnya. Terkadang aku melihat diriku di dalam senyum itu.

Sejenak terpikir, mungkin suatu saat aku akan menjadi dia yang melamuni nasib yang tidak sesuai harap itu. Aku memang pernah melakukannya, namun tidak separah dia, belum.

Dia mendekatiku, duduk di sebelahku, terdiam beberapa saat, kemudian dia mengatakan sesuatu, "tahukah kau apa yang diinginkan seorang anak kecil?".

Dia terlihat mengarahkan pandangannya pada anak kecil yang bergandeng tangan dengan ibunya di pinggir trotoar itu. Aku hanya terdiam, kemudian dia melanjutkan ungkapannya "seorang anak kecil hanya ingin bermain dan bermain".

'Iya, memang' pikirku membawa sedikit heran.

Kemudian kami kembali terdiam, hingga dia bersuara lagi "tahukah kau apa yang diinginkan seorang anak SMP?".

Aku melihat lagi ke arahnya, menyempatkan diri menerka; apa yang ingin dicurahkan lelaki yang tidak kukenal ini. Lalu dia bertanya lagi "tahukah kau apa yang diinginkan seorang anak SMA?".

Penasaranku menggilai manusia berkulit gelap ini, namun dia hanya tersenyum. Melanjutkan untaian fiksinya, dia mengatakan, "suatu saat kita akan peduli dengan segalanya, namun kau masih beruntung karena belum menjadi seorang yang peduli. Aku pernah muda sepertimu, dan kini aku tahu rasanya menjadi orang yang peduli itu tidak begitu menyenangkan".

Aku memandang padanya, berharap menembus masa lalunya. Namun dia berdiri, meninggalkanku yang masih harus membunuh heran; apa maksud kedatangannya dan apa maksud kepergiannya.

Dia telah berjalan...

Dia melirik ke padaku, mengesankan bahwa aku terlihat seperti dirinya di masa lalunya. Kemudian melangkah lagi tanpa memberi tanda akan kembali. Lelaki yang aneh, dengan raut wajah yang aneh. Berhati-hatilah, karena orang kuat sepertimu, akan selalu diuji Tuhan. Berhati-hatilah dan selamat jalan!

"Cerita Fiksi: Lelaki Berdasi"
=================================
Cerita Fiksi: Lelaki Berdasi
=================================

| | Jika berkenan? Tolong Bagikan | | Jika kurang berkenan? Tolong Komentar | |
| | Dan jika ingin pergi? Tolong kembali lagi | |
Lautan Kalam

Rembulan memerah tangispun memecah
Seumpama sekeping luka memancarkan duka
Tampak tangan-tangan bertengadah di atas tanah
Memanggil tanpa kata, bersuara dalam airmata.

(Sementara aku merangkai kembali puing-puing rumah
Yang telah ambruk dikikis gerimis
Dengan setumpuk doa yang tersisa di dada)

Hujan ini mungkin luapan rindu yang berapi-api
Hingga airmata terlumatkan gemuruhnya, dan
Angin tak juga memberiku kabar
Ke alamat mana kau kan berpulang?

Atau barangkali telah kau temukan surga yang
Serpihan cahayanya berjatuhan dari tangisan doa,
Lalu kau melukiskan sampan di atas awan kelam
; untuk berlayar dalam
Kalam Tuhan.

Surau Cinta
31 Mei 2011
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Lautan Kalam
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sahur

Malam telah sempurna, bahkan akan meninggalkan kita
Sisa sinar rembulan masih tergelar di atap rumah kita,
Kau menyebutnya embun,
Orang-orang kini telah bersiap memulai hari dengan selaksa doa
Agar perjalanan tak ada aral menghadang.
Yah, kita juga seorang pejalan, maka bersiaplah dengan bekal
Yang cukup! katamu.
Adakah bekal yang lebih sejuk dari embun? Tanyaku.
Tapi kau tak juga menjawabnya, kau hanya melipat sajadah
Sisa tahajjud kita,
Lalu kau meletakkan itu di pundakku, sambil berkata:
“dengan nama Kekasih, tak ada perjalanan yang lebih indah
Selain diawali meneguk semangkuk doa, yang paling doa, yang paling puisi.”
Lalu, kita menikmati embun yang bersisa di daun-daun yang berjatuhan
Di depan rumah kita itu,
Sambil melepas sisa rembulan yang sebentar lagi pupus sempurna.

2012
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Sahur
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Senja di Lorong Jembatan
(: Brug Saka Limalas)

Senja ini, ada warna yang
Hilang dari pelangi yang berkibar
Di Langit Bumiayu

Hujan tak lagi merintikkan cahaya
Yang apabila berjumpa dahan basah
Berkeliplah bola mata yang selama ini
Terpaut cinta

Ilalalang pun kehilangan hijaunya
Tidak mampu lagi
Menari bersama angin

Senja kehilangan lembayung orangenya
Seperti aku yang kehilangan namamu
Yang memupus menjadi metafora puisi.

Bumiayu
Februari, 2011
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Senja di Lorong Jembatan
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Alam Bawah Sadar

Sudah kembalikah kalian
dari alam bawah sadar
di bawah kendali rejim barbar
tiga dasawarsa lamanya
kau tidur
sembari mengunyah propaganda
dan bermimpi
hidup dalam negeri para dewi.

Ini genjer, saudaraku
kupungut dari kedokan kumuh
akan kumasak dan kuhidangkan
untukmu
agar engkau lekas kembali
menjadi manusia.

2017
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Alam Bawah Sadar
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sebab Hujan Adalah Kau

Sebab hujan adalah kau, kubiarkan tubuhku kuyup,
dan gigil menjadi pertanda rindu telah sampai pada ujungnya.
runcing, dan mengkerutkan kulit sepi.

Sebab hujan adalah kau, kulayangkan doa kepada langit yang
wajahnya tampak mendung, barangkali nama kekasih telah lupa disebut
saat fajar mulai menyapa, saat terik menyengat mimpi, saat senja mencumbu cakrawala
juga saat malam telah melepas pesona mega.

Sebab hujan adalah kau, aku rela menjadi kerikil, menyanyikan tembang rindu
dengan kecipak air yang jatuh dari fotomu, dan saat itu berkesudahlah 
penantianku sepertiga musim, dan berlalulah nestapa
; terhanyut hingga ke muara hatimu.

Sebab hujan adalah kau, kubiarkan tubuhku dilumuri bau tanah,
yang mengepul menjadi siluet masa lalu, dan terkadang menjelma angin kemarau
meretakkan dinding di ceruk batin
hingga terbalaskan keresahan yang kutanam
di sepetak tanah yang kau namai, Puisi.

Pondok Pena
6 Oktober 2012
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Sebab Hujan Adalah Kau
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Tahajjud

Kita adalah kunang-kunang di gelap malam
Menerangi rumah-rumah doa dengan
 Segenggam cinta,
Kita berbisik pada semesta, agar saat rembulan
Terjaga dari tidurnya, kita telah siap menggelar sajadah
Menyatu dengan zikir jangkrik-jangkrik di sekitar
Pembaringan doa.
Lalu, kita menyatukan denyut pepohonan
Yang dahannya basah, tersebab nama Kekasih
Selalu di ulang-ulang dalam rindu yang gigil.
2012
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Tahajjud
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Tarawih

Yah, kita mulai percintaan ini dengan basmalah
kita gurat di langit malam penuh bintang
Saat semesta mendenyutkan ayat-ayat kerinduan
Tentang kehadiran padang rembulan,
Kau dan aku saling doa dalam rakaat yang sama
Yang masih juga menengadahkan tangan
Agar sinar rembulan mampu kita tangkap
Dalam sujud yang dekap,
Walau kaki kita telanjang dan menekuri jalan teramat panjang,
Tapi yakinlah ; kita akan menemu jalan pulang
Setelah senandung Kalam Tuhan menenangkan hati kita.

2012
"Dimas Indiana Senja"
PuisiTarawih
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Janji

Saat langit mengelupas
Kau temui aku di dalamnya
Bersama serpihan cahaya yang
Bangkit dari masa lalu

Kita memetik hari-hari
Dalam berderang langit.

2010
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Janji
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Seraut Wajah Berbingkai Darah

Seraut wajah berbingkai darah
tanpa tanggal dan tahun
terpajang di dinding kusam
mulutnya terkunci popor senapan
tapi sorot matanya
seperti hendak bercerita
tentang nama-nama
yang menganiayanya

Debu sejarah telah mengelupaskan
jejak-jejak yang pernah dilakoninya
angin segala musim
telah mengaburkan namanya
tapi suatu saat, kelak, entah kapan
waktu yang akan bertutur
tentang semuanya.

2017
"Puisi Joshua Igho"
Puisi: Seraut Wajah Berbingkai Darah
Karya: Joshua Igho

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Sepeninggalmu

Saat cahaya senja turun berkilau keemasan.
Angin datang bersama kenangan yang
Tertulis dalam selembar daun
: itulah puisi kita, sayang.

Bersama ilalang yang tengah menunggu hijaunya pulang, aku
Buka lembaran-lembaran daun kering yang semakin hari
Semakin menumpuk di kepalaku.
Di sana kau tersenyum padaku
Meyakinkan tentang manisnya sebuah pertemuan,

: Selepas kau pulang.

Pondok Pena, 2011
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Sepeninggalmu
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Guru lapar masih tertawa
Anak makan tiwul lolos masuk universitas
Petani terus mencangkul meski pak camat ingkar janji
Tak menggerutu setengah hari antre cuma buat obat diare
Tak gusar berdesakan bayar listrik atau beli karcis kereta api
Sabar bikir KTP harus menunggu lurah pulang menjahir safari
Terima nasib punya karcis di bus berjongkok sampai pagi
Berpanas-panas di atap kereta api mereka tak sakit hati
Dicegat polisi belum tentu bersalah tidak berani marah
Merasa bernegara memang harus begini
Karena kelewat mencintai republik ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Kepada delapan puluh persen penduduk yang rajin bangun pagi
Yang tak selalu bisa pergi berobat setiap kalo nyeri uluhati
Hidup adalah memikul-mikul kayu bakar bukan buat sarapan nasi
Belum tentu baca koran atau nonton televisi
Tak iri orang kota masuk restoran sebulan gaji pegawai negeri
Tahu ada pejabat mengutil padahal duitnya lebih sepeti
Tak selalu ada makan siang namun tak memilih mencuri
Madep ngalor sugih
Madep ngidul sugih
Yakin kekayaan ada di dasar hati
Kalau mereka hanya diam karena teramat mencintai negeri seelok ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Melihat dosen bersekolah tinggi tak malu nyambi jadi sopir taxi
Profesor tak henti meneliti kendati pensiun tak cukup buat kalau sakit nanti
Guru besar naik KRL supaya kredit motor lekas terlunasi
Semua pasrah lowongan SMA diisi sarjana lulusan SMA jadi tukang cuci
Tak bersuara salah siapa demi ingin hidup terus terlakoni
Tak bertanya minyak dari bumi buat siapa kalau minyak tanah langka
Tak menggugat katanya gemah ripah tapi beli beras saja susah
Kalau mereka hanya termangu karena teramat mencintai bumi pertiwi ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Lebih setengah abad merdeka mereka tak minta hak istimewa
Berharap saja kapan anak-anak bisa makan pagi dan pergi sekolah negeri
Duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan sebaya di luar negeri
Doa orang tua tak mampu sekolah tinggi anak bisa menjadi orang berarti
Kalau mereka hanya tepekur karena teramat mencintai negeri sepenuh hati

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Masih gigih berjalan kendati kehilangan mendapat cukup makan cukup pangan
Tak ada dendam yang berjasa terabaikan yang mengabdi tersingkirkan
Tersaruk-saruk atlet veteran menjual mendali buat makan
Hujan batu di negeri orang karena emas di negeri sendiri tak memberi pekerjaan
Masih tekun menanti kapan di stasiun tempat bisa hidup pantas akan tiba
Kalau mereka masih tak bertanya tak berkata-kata
Karena teramat mencintai republik sepermai ini

Bangga aku jadi rakyat Indonesia
Masih tersenyum padahal sudah lapar sekali
Masih terdiam padahal sudah perih sekali
Masih menerima padahal sudah pilu sekali
Masih bertahan padahal sudah payah sekali
Belum menangis dari jatuh-bangun berkali-kali
Dibohongi berulang-ulang kali
Mereka kuat karena merasa hidup memang harus begini
Atau barangkali karena niscaya Gusti ora sare.


2008-2011

"Puisi: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia"
Puisi: Bangga Aku Jadi Rakyat Indonesia
Karya: Handrawan Nadesul

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Persahabatan

Kita hakikatnya dilahirkan satu nama
penderitaan dan kesetiaan
tarikan tali nasib
menyeretku mengenal takdir
karenanya mari kita berbimbing tangan
fajar gemilang di depan
kita adalah orang-orang merdeka
tahu betapa kebenaran ditempa
meski dalam dunia yang terpisah.

1969
"Puisi: Persahabatan (Karya Djamil Suherman)"
Puisi: Persahabatan
Karya: Djamil Suherman

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||
Cinta yang Tak (Mungkin) Sampai

Auri...
Seandainya kau datang lebih awal dari kereta subuh,
Pasti kau kujadikan segurat fajar
Untuk menemaniku dalam pagi yang kabut.

Tetapi, Auri...
Matahari telah lebih dulu memberiku cahaya
Membawaku pada doa dan cinta.

2011
"Dimas Indiana Senja"
PuisiCinta yang Tak (Mungkin) Sampai
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||