Merenungi nasib yang tidak memihak pilihan, di sudut asa yang tidak sesuai dengan harap, aku melihat sosok lelaki berdasi, berjalan seperti sedang kecewa. Wajahnya lesu, penuh caci terhadap masa. Aku bisa melihat itu dari caranya melangkah, dia bahkan tidak sedang marah; dia sedang kecewa.

Aku rasa umurnya lebih mengerti caranya berjalan di atas duri yang tidak ingin dia pijak, namun harus dia injak. Dia terlalu pasrah dengan keadaan, kau mungkin akan berkata, dunia ini terlalu untuknya.

Caranya menyembunyikan masalah di dalam senyuman sederhananya itu, membuatku merasa bangga untuk sejenak. Dia tidak begitu peduli akan seberapa parah luka hatinya, dia hanya peduli dengan isi pandangan di sekitarnya. Terkadang aku melihat diriku di dalam senyum itu.

Sejenak terpikir, mungkin suatu saat aku akan menjadi dia yang melamuni nasib yang tidak sesuai harap itu. Aku memang pernah melakukannya, namun tidak separah dia, belum.

Dia mendekatiku, duduk di sebelahku, terdiam beberapa saat, kemudian dia mengatakan sesuatu, "tahukah kau apa yang diinginkan seorang anak kecil?".

Dia terlihat mengarahkan pandangannya pada anak kecil yang bergandeng tangan dengan ibunya di pinggir trotoar itu. Aku hanya terdiam, kemudian dia melanjutkan ungkapannya "seorang anak kecil hanya ingin bermain dan bermain".

'Iya, memang' pikirku membawa sedikit heran.

Kemudian kami kembali terdiam, hingga dia bersuara lagi "tahukah kau apa yang diinginkan seorang anak SMP?".

Aku melihat lagi ke arahnya, menyempatkan diri menerka; apa yang ingin dicurahkan lelaki yang tidak kukenal ini. Lalu dia bertanya lagi "tahukah kau apa yang diinginkan seorang anak SMA?".

Penasaranku menggilai manusia berkulit gelap ini, namun dia hanya tersenyum. Melanjutkan untaian fiksinya, dia mengatakan, "suatu saat kita akan peduli dengan segalanya, namun kau masih beruntung karena belum menjadi seorang yang peduli. Aku pernah muda sepertimu, dan kini aku tahu rasanya menjadi orang yang peduli itu tidak begitu menyenangkan".

Aku memandang padanya, berharap menembus masa lalunya. Namun dia berdiri, meninggalkanku yang masih harus membunuh heran; apa maksud kedatangannya dan apa maksud kepergiannya.

Dia telah berjalan...

Dia melirik ke padaku, mengesankan bahwa aku terlihat seperti dirinya di masa lalunya. Kemudian melangkah lagi tanpa memberi tanda akan kembali. Lelaki yang aneh, dengan raut wajah yang aneh. Berhati-hatilah, karena orang kuat sepertimu, akan selalu diuji Tuhan. Berhati-hatilah dan selamat jalan!

"Cerita Fiksi: Lelaki Berdasi"
=================================
Cerita Fiksi: Lelaki Berdasi
=================================

| | Jika berkenan? Tolong Bagikan | | Jika kurang berkenan? Tolong Komentar | |
| | Dan jika ingin pergi? Tolong kembali lagi | |

Post a Comment

loading...
 
Top