loading...

Dendang Sepotong Bulan

Melingkari tembang langit yang membiru
menjadi cuaca yang pecah menjadi dua sumbu
saat purnama mengkristal, membuka senyummu
dan gerhana permata menghujani bumi dengan
intan-mutiara di matamu.

Kerinduan yang menebal di negeri bulan
tempat singgasana cuaca yang teragungkan
telah menanti manusia hujan
berpayung biru, memegang lentera awan.

Kami menjahit buah hati di lembah kuning gading
lembah yang mengendapkan madu lebah kuning
di pinggir sungai susu bercampur aroma pandan
yang tumbuh gula pasir di setiap tepian.

Di sanalah bunga tersenyum pada tumpuan cahaya
tempat sungai yang bergegas menemui kekasihnya
sementara kabut bergelayut dengan manja
memulas delima, mengirimi surat dengan bahasa
gemericik air. Dalam desau daun yang mengalir.

Mengubah kelopak menjadi derai rambut berhelai
emas. Bermahkota lipatan kuntum bunga
menjuntai sebatas dada dan pinggul
yang mengundang kupukupu yang siap terbang
mengitari jelmaan laurel, beraroma surga segar.

Kakinya duduk di batu mutiara
bergaun gumpalan awan yang diracik oleh cempaka
warnanya meluncur di pelangi
membasahi bulir embun yang lupa untuk kembali.

Magetan, 3 Mei 2014
"Puisi Kinanthi Anggraini"
PuisiDendang Sepotong Bulan
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top