Juli 2018
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Garam

Lautan jauh, terima kasih.
Meski kuhapus wajahmu
kaukirim keringatmu
ke piring putih ini.
Tukang jagal, terima kasih.
Meski kubekukan tanganmu
kauberi merah jantung
ke ujung pisau ini.
Asparaga, terima kasih.
Dengan juntai rambutmu
aku masih juga menampung
sungai darah ini.
Juru museum, terima kasih.
Dengan peta purbamu
aku berani menawan
lembu jantan Sinsinawa.
Kentang bakar, terima kasih.
Ke arah lambung birumu
aku mampu mengasah
taring serigala ini.
Prairie du Chien, terima kasih.
Kaupucatkan meja makanku
hingga aku betah memelihara
arang bara di kantung celana.
Susu masam, terima kasih.
Sebab kujilati cerminmu
kaukembarkan payudaraku
dengan aprikot jingga ini.
Peluh lautan, terima kasih.
Kausembunyikan Mississippi
agar aku mulai mengerat
lidah hangusku sendiri.

2007
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiGaram
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gugatan Rara Jonggrang
(kepada Bondowoso yang terlahir di abad ini)

Mengapa kau begitu marah padaku, Bondowoso
usai menikamkan keris berulang-ulang ke dada Romo
bukankah aku yang lebih berhak marah dan berang
saat air mata merayakan kepergian orang tersayang
sampai harus memerankan lakon sebagai tahanan
bisa-bisanya kau yang menang menjadi pesakitan.

Mengapa kau begitu angkuh ingin mempersuntingku
usai kerismu melenyapkan waliku terlebih dahulu
bukan lewat kesetiaan dan kata manis penuh rayu
sebagaimana jejaka memikat gadis berabad-abad lalu
sebelum keduanya mulai menjalin kisah satu atap
menanam kasih sayang dalam denyut doa dan harap.

Mengapa kau terus saja memaksa
agar aku lekas-lekas menyetujuinya
hingga kuajukan syarat sebab terpaksa
sate malam membangun seribu candi
yang kukira kau bisa menerjemahkannya
sebagai penolakan seribu kali
tentu aku tak menyangka kau menyanggupinya
dengan bantuan pasukanmu yang tak kasat mata
menepikan diri bahwa kau adalah seorang ksatria!

Mengapa pula kau mengutukku menjadi patung
saat memergoki aku dan kaumku memukul lesung
yang membuat pasukan lelembutmu berlarian
cemas mengira matahari segera muncul ke peraduan
kecemasan yang sama saat kau sulut pertempuran
hingga memaksa rakyatku melukis masa depan
sebagai negeri jajahan:
Menyetorkan upeti sebagai lambang pengabdian!
Menyetorkan perempuan cantik sebagai hiburan!

Kisah perempuan mana yang lebih pedih daripada aku
berangkat dari seorang putri raja menjelma arca batu
yang semula beraroma melati kini tertutup debu
Duh, alangkah cepatnya takdir mengubahku
seperti bermain dadu.

Maka terpaksalah aku menjalankan peran
sebagai penggenap apa yang semula kau janjikan
Yah, membangun seribu candi
Yah, seribu ilusi.

Kelak suatu saat aku akan bereinkamasi
kembali menjadi perempuan-perempuan suci
yang hidup dipaksa memenuhi hasrat-ambisi
lelaki-lelaki, tanpa seorang wali
berulang-ulang kami mesti menjalani peran ini
di negeri seribu pulau, seribu tradisi.

Surakarta, 24-25 Januari 2013
"Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa"
PuisiGugatan Rara Jonggrang
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Di Atas Kereta

Hari terang tanah ketika kereta jalan bergegas. Kami sedang menuju Negeri Awan. Di samping kami, pohon-pohon berlarian sepanjang rel. Kami lihat lazuardi di kejauhan. Di balik kaca, hamparan sawah becek, dan ladang gambut terburai seluas mata kami memandang.

Kereta terus bergegas. Jajaran tiang listrik  ikut melintas. Juga pohonan. Mungkin juga kata-kata berhamburan ditiup angin tempias. Semua tampak ingin lekas. Kami lihat lazuardi di kejauhan. Langit berubah kelabu. Mungkin rembang petang. Kaca jendela makin berembun. Di balik kaca, kereta terus berderak. Hari belum selesai.

“Di stasiun mana kereta ini akan berakhir kelak?” tanyamu tiba-tiba. Aku pandang wajahmu.  Kamu meringkuk di balik mantel. Hatiku bergolak. Aku diam, tak menjawab. 

Kulihat seekor burung gagak lewat di jendela dekat tempat dudukmu. Koakkkkk…!

2016
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiDi Atas Kereta
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tentang Kota yang Tak Usai Merayakan Idul Adha

Bukan gemercik air yang mengalir dari mata air hingga muara
Bukan pula kokok ayam yang telurnya kau santap sebelum bekerja
Bukan suara cericit burung yang hinggap dari dahan k
e dahan
Bukan pula kidung-kidung pujian yang merdu dikumandangkan
Yang bakal terdengar saat menyambut pagi di kota bernama gaza
Selain desing peluru, dentum meriam, rudal yang membahana
Serta isak tangis yang tak pernah kering dari sumbernya.

Adalah kota kecil yang tak pernah usai merayakan Idul Adha
Sebab setiap saat orangtua rela melepas kepergian anaknya
Tanpa menuntut Tuhan menggantinya dengan seekor domba
Layaknya kisah ibrahim yang urung menyembelih putranya
Di kota inilah darah mesti menetes semerah-merahnya
Pengorbanan bukan sekedar memerankan lakon
Drama perlawanan bukan atas dasar pura-pura.

Berulang kali bakal kau dengar negeri para perompak
Menghujani kota dengan serangan tanpa sekalipun berjarak
Negeri yang kelak bakal terbutakan oleh ilmu pengetahuan
Negeri yang dihidupi oleh aneka brand yang kau agungkan
Negeri yang bersenjata karena label yang kau makan
serta kau kenakan.

Kota inilah yang berulang melahirkan pahlawan-pahlawan
Kota inilah yang selalu menghidupkan denyut perjuangan
Ketika kemerdekaan tak lagi bisa menjamin rasa aman
Kota inilah yang menukar peluru dengan batu
Adakah yang lebih hebat daripada itu?

Inilah kota yang selalu menjaga takbir dalam degup dada
Bukan sekedar saat menyambut kemenangan usai berpuasa
Inilah kota orangtua mesti setabah-tabah Ibrahim
ketika anaknya menyambut maut dalam usia yang teramat belia
menjadi Ismail-Ismail kecil yang tak kalah beraninya.

Surakarta, 31 Desember 2012
"Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa"
PuisiTentang Kota yang Tak Usai Merayakan Idul Adha
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Perjalanan Bersama Penyair
(: Nathalie Handal)

Apa yang gemetar di bibirmu
padahal ombak belum
memukul pulau yang damai
merobohkan bangunan-bangunan
termasuk ruang perjumpaan kita malam ini
menuju panggung puisi
sepanjang perjalanan Ubud-Sanur
kita takzim mendengarkan musik ponselmu
lagu-lagu Umi Kalsum dan Fairuz
kita berdiam di Pulau dewata
namun seolah berada antara Ramallah dan Gaza
sehingga kata-kata saat kau bicara
bibirmu gemetar dalam ujar:

“Rumahku telah rata dengan tanah, di Palestina
yang tersisa hanya puing masjid dan gereja
dan di sini, kenangan membadai
di dalam kepala”

Apa yang gemetar di bibirmu 
membawaku kepada getar-getar waktu
di situ aku terkapar merekatkan kening
ke tanahmu sujud yang bising
oleh lemparan kerikil, pesawat, bom,
senapan, dan teriakan seorang bibi
mengazani anak yang mati
sepanjang perjalanan Ubud-Sanur
musik ponselmu berhenti diputar
aku diam di hadapan deklamasi puisi
penyair perempuan: adalah kau
bibir yang gemetar melafalkan 
nama rumahmu yang dihancurkan.

Ubud, 2015
"Puisi Raedu Basha"
PuisiPerjalanan Bersama Penyair
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Biografi Matamu

Biografi Matamu (1)

Aku akan pergi saat matamu merah
menatapku tak lebih
dari seonggok kunang-kunang
sekerjap gelap sekerjap terang
hinggap di batang kerontang.

(Malam petang
kau jerat pekat kesendirianku yang gamang
kapankah awan lenyap kapankah langit benderang
kubawa kelap-kelip bokong sedesas-desus bimbang)

Saat kedip matamu terbuka memandangi sepi
menatap seekor kunang ini teronggok terbang tak pasti
aku akan pergi melayangi udara yang bukan malam kita lagi
karena aku tak ingin dipandang seperti ini.

Biografi Matamu (2)

Lebih baik terpejam.

Terpejamlah saja dan pastikan
aku ada dalam peram mata
bukan bayang wajahku bergentayang
melainkan benang-benang aura
mungkin akan kau rajut ia
menyulami dahaga bagi keringmu di dada
kau untai helai aura bibirku menyentuh inti jiwa
menjahit urat-urat lubukmu
yang bersemayam luka purba
sehelai lain dibuat jaring
menyaring ampas dosa
membening selaksa pahala
sari-sari kejujuran dan tabah rindu bertapa
benang-benangnya juga
menjahit robekan urat nadimu yang renta.

Ohoi, kita adalah darah
yang merah dengan sendirinya
yang mengalir ke lubuk laut
di mana gelombangnya tak reda
mendetakkan kederasannya
dan menepi di batas aorta.

Tetapi denyut akan susut
saat matamu terbuka
maka aku akan pergi
saat matamu tak terpejam lagi
dan menatapkan ujung taji.

Ganding Pustaka, 2014-2017
"Puisi Raedu Basha"
PuisiBiografi Matamu
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kita Punya Musim Lain

Kita akan punya musim yang lain
yang belum cukup hujan kemarau
belum tentu semi gugur
akan ada jeda
hening
ketika
tiada lagi wangi selain bunga-bunga
yang terhenyak menikmati semerbaknya sendiri.

Dan daun menghijaukan kering tubuhnya yang sepi
kita akan punya musim yang lain
saat kejenuhan berbaring di kamarnya
dan waktu berbeda kan terjaga
dari usik tidur lelap yang lama
menjadi kehidupan nyata
di alam mimpi-mimpi.

2015
"Puisi Raedu Basha"
PuisiKita Punya Musim Lain
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Pencipta Kerangkeng Kemanusiaan

Aku ingat benar, kata Suharto semasa jaya
Anak cucu tidak akan membayar hutang, karena kita kaya
Hutan tidak akan ligir, sungai tidak tercemar karena kita berbudaya
Burung tidak kehilangan sarang, kandungan bumi membangun sejahtera
Ternyata telah dibuktikan anak cucu Cendana.

Aku ingat benar senyumnya, menyeringai serigala
Taringnya tidak pernah bersih dari darah jelata
Ya, aku ingat benar kata-katanya
Anak cucu tidak akan menderita, ternyata anak cucu Cendana.

Ia dengan lihai membangun bui kecil, bui besar, bui maha luas
Bui berjeruji, dan menyaingi angkasa dengan bui tanpa batas
Sekarang aku bertanya kepadamu, untuk siapakah itu semua
Penjara itu adakah juga rumah untuk anak cucu Cendana.

Aku ingat benar, setiap bulan masih harus melapor, tidak boleh lupa
RT, TW, Lurah, Babinsa, Koramil dan seterusnya dinobatkan menjadi mata-mata
Dan sampai kini ada yang tertinggal tak mampu disapu
Menteri Dalam Negeri masih bengong, seperti tiang diam terpaku
Membisu, aku ingin mendengar bisikan kalbumu.

Dua ribu, Indonesia baru?
Indonesia baru?
Apa yang baru?
Dua ribu
Kalkulator dihidupkan langkah zaman
Dendam diusung keranda kematian
Tanganmu, tanganku akan berjabatan
Seusai pengadilan.

Jakarta, 1999
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiPencipta Kerangkeng Kemanusiaan
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bayang (Aku) Maut

Pada akhirnya kau takkan sanggup temukanku
antara puing percumbuan di kota yang kutinggalkan
aroma tubuh jadi hantu gumam sepanjang malam
reringkuk rindu busuk sendiri, kau tersekap nyeri.

Lalu-lolong menyeruak sepi di batas pencarian
bola api berletupan-berlesapan matamu terbakar
lalu-lolong kian menyalak-salak, aku tak jua ditemukan
hingga sampai jiwamu di batas kesadaran.

Aku datang bagai bayang di derai hujan cuka
alirkan salam pedih pada setiap nganga luka
kau mengejang aku tetap bayang beriring maut
di kepalamu segalanya telah kutancapkan!

Cilegon, Banten
28 April 2012
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiBayang (Aku) Maut
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Aku Bertanya

Ketika aku bertanya
langit memendam kegelisahannya
buruh-buruh kerja bakti memperkaya majikan
di bawah naungan undang-undang sejak dianyam
di dalam rahim sudah mengisap darahnya.
Ketika aku bertanya
matahari bergulir ingin dikendalikan penguasa
atas nafsunya, cahaya suram bagai rembulan
di balik gerimis, kepongahan
pulang dari ladang menghitung hutang
pertambahan.
Ketika aku bertanya, matamu melotot
dan kujawab dengan geram:
Ini perintah!
Siapa yang memerintah
dari kebuasan tak berwajah
tapi bersenjata lengkap, bertopeng
baju baja di atas kursi mas
apa katanya
tidak ada suara, hanya tangannya
memegang pulpen, bergerak menuliskan
ET di belakang nomer KaTePeku
(Ia sedang menulis petunjuk jalan ke kuburannya).
1990
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiKetika Aku Bertanya
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Aku Memetik sebuah Jambu

Ketika aku memetik sebuah jambu siang itu di halaman,
dari langkan rumah tua kucium bau kembang pernah jadi impian.

Puluhan tahun yang lalu hidup ini kurancang-rancang,
jadi petani dengan dara anak peladang.

Ketika aku pulang kampung dia pun sudah beranak cucu,
dan di dalam doa dan restu kami bertemu.

Lalu hujan lebat turun di tengah malam,
titiknya jatuh atas mimpiku diam-diam.


Amsterdam, 18 Februari 2008
"Puisi Mawie Ananta Jonie"
PuisiKetika Aku Memetik sebuah Jambu
Karya: Mawie Ananta Jonie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Diayunkannya Langkah di Ambang Senja

Diayunkannya langkah di ambang senja ombak berdebur,
angin musim dingin terserap kuncup bunga melur

Pada mimpinya atas perjalanan yang direnggut kehidupan,
kita tegak kembali membangun hari depan jadi kekuatan.

Tapi yang kita temui sebuah kenyataan yang disikapi,
tentu bukan jalan keluar kalau tak diberi arti.

Dalam pembuangan atau perburuan itu,
ratusan ribu kita mati di jalan buntu. 

Ini pengalaman berdarah,
ini sejarah berdarah.

"Puisi Mawie Ananta Jonie"
PuisiDiayunkannya Langkah di Ambang Senja
Karya: Mawie Ananta Jonie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Mengikuti Angan

Kitri
mari kita tebas tumbuhan rawa begitu subur
biar akarnya tidak mencakar dasar lungsur.

Kitri
mari kita keruk segenap lumpur
biar hidup kita lebih makmur.

Kitri
mari kita tabur benih ikan
biar berbesaran dan berbiakan.

Kitri
mari kita kerja sementara menanti musim tiba
biar anak-anak kita menjaringi hasilnya.

Kitri
usulku betapa indah
mengangguklah.

"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiKetika Mengikuti Angan
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Ketika Mendengar Tangis

Kaudengarkah tangis bocah itu sejak tadi
suaranya menebari desa sunyi
merambati bibir-bibir air sepi
mungkin ibunya ke pasar kota belum kembali.

Ajaklah kemari kita bawa nembang gambang suling
di tepi rawa pening begini hening
sementara dari dangau kita menghalau gelatik dan pipit peking
yang mau neba merusak bulir-bulir padi mulai menguning.

Jiwanya kan terajun tembang kita
raganya kan terselimuti udara begini segarnya
pasti sebentar saja dia pulas di sini
meski jarum-jarum mentari lepas menusuki kulit bumi.

Biarkan dia mendengkur tetap di pangkuanmu
sementara kita terus berlagu
barangkali dia kan mekarkan mimpinya yang indah
tentang dunianya yang sumringah.

Solo, 1984
"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiKetika Mendengar Tangis
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Sebuah Sore di Kafe

Dua cangkir kopi  dan sepiring
Onion Ring yang gurih tersaji di meja.
Cinta yang gemuk menggelambir
di tempat duduk yang separo kosong.

Senyummu menempel di
dinding bermozaik.
Lampu menyala di kepala
“Ayo putar satu lagu,
agar hidup tetap bernyanyi,“ seruku.
Kakimu berayun.  Tralala.

Meja bergoyang.
Dunia bergoyang.
Hati kita berguncang.

Onion ring meloncat,
ke dalam cangkir.
Kita berdiri di atas meja,
menikmati hidup yang riang.

“Tugas kita adalah berbahagia,” kataku.
Ya, ya. Tralala.

2016
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiSebuah Sore di Kafe
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Kopi

Di tangan lelaki itu, kami coba bersabar.
Namun betapa cangkir ini gemetar
oleh tubuh kami, gairah kami
yang luas seperti langit Potosi.
Menuju kami wajah lelaki itu.
Kami akan naik ke mulut lelaki itu,
aku dan kembaranku,
aku dan seteruku:
kami akan berpisah selepas leher lelaki itu:
dia ke arah malam di usus besarnya
aku ke arah matahari di peparunya.
Tak sabar lidah lelaki itu.
Namaku arus kali atau bakal salju
sebelum lelaki itu merengkuh seteruku
yang lebih hitam dari pasir pesisir
dan lebih wangi dari lavender terakhir,
dan aku betina, bening. Betapa lelaki itu
mengaduk si serbuk jantan ke dalamku.
Oleh bahang lelaki itu, aku dan seteruku
seperti tak terpisahkan lagi, tetapi
di dasar cangkir, dia sekadar bayanganku,
dan di bibir cangkir, kembaranku.
Di bawah tatapan lelaki itu
kuajari dia melayang mencari terang.
Tapi menggelayuti seluruh tubuhku dia
membutakan mataku hanya.
Kukatakan pada dia, baiklah
kita akan berpisah (mungkin aku alah)
setelah menaklukkan lidah
lelaki itu. Tapi kami cuma bisa bertarung,
bersetubuh, (makin pahit), membubung
menghujani bentang koran pagi
yang terkulai di pangkuan lelaki itu.
Penderita insomnia lelaki itu.

2007
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiKopi
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Bisakah Kita Ganti Arti Demokrasi

Seperti inikah nuansa demokrasi
saat partai politik giat memonopoli
colon-colon pemimpin yang hendak naik kursi
dan kita hanya bisa menerima
dengan agak bersabar juga harus memilihnya.

Mengapa kami tak mengerti juga
saat mereka mengatasnamakan rakyat jelata
sedang mereka berupaya untuk berdiri di atas roda
lewat kampanye-kampanye megahnya:
di sudut sana anak kecil mati tertikam nyeri
belum tersentuh aroma nasi sedari pagi!

Kami lihat berita-berita suram di televisi
lagi-lagi oknum peradilan terjerat korupsi
bukannya ditinjau moralitasnya yang kian menepi
malah dinaikkan tunjangan gaji:
tanpa melihat ke arah bawah
betapa untuk bernapas kami semakin payah.

Penuh kesal kami cari arti demokrasi
menurut etimologi di kamus besar K881:
"Kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat,
dan untuk rakyat"
di sini kami mulai sedikit mengerti
para pejabat-pejabat tinggi
ternyata juga seorang rakyat!

Dengan ini, bisakah kita ganti arti demokrasi
yang lebih spesial lagi?

Surakarta, 16 April 2008
"Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa"
PuisiBisakah Kita Ganti Arti Demokrasi
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Soal Bel Pulang

Untuk apa melulu bicara soal hidup?
Di perkemahan menunggu saat kembali
jasad berlapis kafan beraroma kesturi
diarak dalam keranda doa tertangkup.

Untuk apa melulu bicara soal perut
ia hanya awal dan akhir adalah liang lahat
jamuan dua malaikat lebih gila dari kegilaan
lebih mengenaskan ketimbang keganasan hari ini.

Ah! Masih soal hidup dan perut
kita adalah peserta ujian yang sibuk sendiri
mencari-mencuri jawaban tapi tak jua selesai
: masih mengikuti ujian hingga bel pulang dibunyikan.

Cilegon, Banten
28 April 2012
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiSoal Bel Pulang
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Semakin Sering

Semakin sering kita bertanya
tidak hanya dimana kita sekarang
kabut knalpot menutup pandang
bukankah masih di rumah kita berdua
Ragu, keraguan, gamang, kegamangan.

Siapa engkau istriku?
Siapa aku suamimu?

Pacu kuda, kuda dilecut berpacu
mengusung ide-ide, juga amanat Tuhan
telah menjadi mantel atau degup jantung
Ah, sudah waktunya mencari terminal
sejenak, setidaknya mengenang cinta
dalam kerinduan yang tak berwajah.

Jakarta, 2006
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiSemakin Sering
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Masa Lalu

Bukanlah duka, ia juga bukan getir yang keruh
Bukan rindu, sesekali ya, rumah jauh yang kian menjauh
Bukan hanya album mengusang tapi tulang belakang.

Masa lalu
Pohon yang merontokkan daun-daun dendam
menguning, kering diserap serabut bumi.

Jika engkau bertanya: siapakah aku?
Kujawab singkat, tetapi kuharap engkau tidak kecewa
: Harapan.
Aku bukan Gautama yang membuang rakit setelah tak terpakai
Aku adalah Gautama yang membangun nirbana sambil mencari.

November, 2003
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiMasa Lalu
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Tanah

Diraupnya segenggam tanah dari halaman tanah 
airnya
Diraupnya dari bungkahan pematang sawah 
ladangnya
Ditempelkannya di dada menyambut degup 
jantungnya
Sambil melangkah menghapus lelehan air matanya.

Begitu banyak orang kalah
Begitu sering orang menyerah.

Dari puncak menara
Menatap bumi kecintaannya
merenungi oase-oase air mata
Yang tak kering dalam kerontang melata
Di bawah kerlap kerlip lampu beragam cahaya
Dalam tangis yang dipendam ia berteriak:
Merdeka.

Jakarta
Juli, 1995
"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiTanah
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
O, Soekarno! Kata Mereka

Bila sekarang kusaksikan mentari menembus langit mendung,
aku melihat kelaparan sedang menyerang orang di kampung.

Kalau aku membaca berita para pejabat jadi pencuri,
aku ingat Bung Karno perut ke kanan politik ke kiri.

Sejak di jaman orde baru berkuasa para koruptor,
berebut kesempatan menjadi diktator

Harga harga naik dan tak pernah turun,
ini telah menjadi penyakit menaun.

Dulu kita kenalkan diri Indonesia,
O Sukarno! Kata mereka.

"Puisi Mawie Ananta Jonie"
PuisiO, Soekarno! Kata Mereka
Karya: Mawie Ananta Jonie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Gadis Desa

Siul pagi betapa manis
mengusap pipi gadis
dadanya telanjang setengah
jantung di tengah sawah
wajahnya sumringah.

duilah siapa punya dia
anak petani orang desa.

Padinya semilir hijau
orang memandang diri terpukau
pipit pagi ramai berkicau.

derai-derai angin pagi
derai hati memandang padi
mengalun hijau lautan
tersungging senyum perawan.

Ah, gadis manis gadis desa
jangan pergi ke kota
sebab banyak lelaki jalang
sebab nabi-kota curang.

Ah, gadis manis gadis desa
hatiku lekat di dadamu
aku di kota merendam cita
segera pulang membangun desa.

1961
"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiGadis Desa
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Rest in Peace
(Untuk Lazuardi Adi Sage)

Terbungkus di dalam kain kafan, 
tak ada lagi nama yang bisa disapa

Tanah menggelinjang. Langit benderang.
Panorama beku. Seperti kita tengah diamuk badai salju.

Kulihat engkau saja menjauh. 
terombang-ombing di atas sauh

Langit di hatiku hangus. 
Kaki melangkah seperti di tanah tandus

Semakin terasa tak ada yang abadi.
Bahkan bulu mata pun ternyata bukan milik kita.

November 2007
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiRest in Peace
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Jalan Tuntang

Mendung tebal menjemputku
mengucapkan selamat datang
ketika aku sampai ke jalan tuntang
yang masih seperti dulu juga
lengang menjelang senja.

Kuperlambat langkahku
menatapi pepohonan
tepi jalan tambah tua
menggoyangkan rerantingnya
menyampaikan salam.

Gerimis luruh menyapu debu
di jalan ini pernah juga luruh rinduku
pada perawan ayu yang kini
mungkin sudah punya menantu
bila dulu kami jadi berumah tangga.

Kuusapusap jalan beraspal dengan sepatuku
barangkali masih menyimpan bekas
telapak kaki kami berdua
di jalan ini kami sadap malam
dan hatiku kulabuhkan padanya.

Mungkinkah kabut tipis itu
bisa menghapus kenangan di jalan ini
ketika kugandeng gadis menggelitiki hati
waktu aku masih jejaka
dan sekarang entah di mana dia.

Solo, 1984
"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiJalan Tuntang
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Menembak Awan

Kemarau begini panjang
ladang-ladang kerontang
bergurulah kepada musim sebelum menembak awan.

Kemarau memang panjang
sawah-sawah retak rengkah
belajarlah kepada angin sebelum menembak awan.

Jangan numbuhkan pedih
gumpalan awan putih justru menyerpih-serpih
kami rindukan hujan pembasah bumi
pembasuh hati
tinggal sebakul ketela serta biji jagung tua
dapur tak berasap
lapar meruap siapa dan bila menembak awan.

1998
"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiMenembak Awan
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Blues

Seperti sekuntum mawar Alabama, aku tidur di bawah kelopak 
matamu. Aku akan bangun bila sepucuk duri menyentuh bola 
mataku. Di tengah mimpi, sang kilat menerobos pintu kamar. 
“Di mana akarmu?” ia bertanya sambil melepas baju-hujannya.

“Di sini,” aku menunjuk jantungku. Lalu ia menyobek selimutku 
yang merah secerlang darah. Ia pun terlelap di dalam sana. 
Seperti benih mawar. Ah, betapa beraneka kelopak mata yang 
melindungi kami. Jutaan kelopak api sampai kelopak es, yang 
segera berguguran ke dasar tidur kami. Sampai mawar-halilintar 
itu tumbuh subur melebihi wajahku sendiri.

Lihat, betapa 
durinya melimpah ke luar mimpi, seperti hujan pagi. Tapi aku 
segera terbangun, menguncup, menusuk bola matamu, sebelum 
akhirnya terkubur di antara sapu tanganmu dan matahari.

2007
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiBlues
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cerita Seorang Anak kepada Ibunya


Ibu, tak perlu kau mendongeng seperti dulu
atau kau nyanyikan sebuah lagu
sebab kutahu bola matamu sayu
terlalu lelah menatap tungku
perlahan-lahan mulai berdebu.

Ibu, kemarin ayah pulang
kulihat beliau meradang
menggenggam amplop berisi uang
bukankah kita harusnya senang
mengapa pintu keras ditendang.

Ibu, malam ini aku tak tidur
tak akan kau dengar lagi aku mendengkur
entah karena nasib tak lagi mujur
sebait mimpi pun enggan datang menghibur
ataukah lapar telah membunuhnya.

Surakarta, 5 Mei 2008
"Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa"
PuisiCerita Seorang Anak kepada Ibunya
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sepenuhnya, tidak setengah-setengah.
Cahaya Ilahi

Pada jiwa-jiwa yang terdampar
oleh buasnya alur kehidupan
kuingin kau menyaksikan petuah matahari
yang menyinari bumi sepenuh hati
kau lihat sinarnya yang menembus tumpukan daun kering
yang telah menjadi humus
dan membantu menyuburkan tanahnya
bukankah sebelumnya kau anggap dedaunan itu
adalah tumpukan sampah
dan pernahkah kau merasa
jika dirimu adalah daun-daun kering itu
namun pernahkah kau menyadari
jika Cahaya Ilahi lebih dari matahari
bahkan membantumu menjadi
tunas muda kembali.

Surakarta, 30 April 2007
"Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa"
PuisiCahaya Ilahi
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||