loading...

Abah

Makin hari aku makin kehilangan guru kehidupan.
Kitab-kitab suci telah ditinggalkan.
Petuah-petuah diludahi. Kebajikan dan kebijakan
dicemooh. Orang-orang, kini, memaksaku
mengimani kitab-kitab baru yang ditulis
dari akal yang buntu. Setiap hari kepalaku dikunyah
iklan dan sinetron. Artis-artis itu mengajarkan
cara meludahi guru. Kepada duet maut pedangdut
orang-orang cerdas berkiblat. Para imam dunia
membentur-benturkan kepalaku pada slogan,
bendera, mars, dan warna pakaian.
Aku gemetar, Abah, gemetar!

Aku menutup mata, tapi suara tukang khotbah
yang khianat kepada kalimatnya sendiri
mengguncang pendengaranku. Aku bernyanyi
di jalanan, tapi jalanan direbut partai politik.
Gua. Aku mencari gua. Tetapi gua-gua penuh gema
aneh. Ke langit. Ke langit aku mencari pegangan.
Tetapi di sana hanya ada musim yang rapuh
dihinggapi seekor kutilang betina yang berubah
menjadi iblis. Hanya ada sejuta mimpi lelaki
yang putus asa meninggalkan haru bumi.
Betapa berat berpegang pada kenyataan, Abah?
Aku dibuat terlunta-lunta oleh para juru peta.
Dibohongi buku-buku. Dibikin dungu
oleh ahli-ahli ilmu. Didzalimi penegak hukum.
Aku gemetar, Abah, gemetar!

Makin dewasa wajah dunia makin menyeramkan.
Aku merasa asing dan teraniaya di sini.
Diombang-ambing kebencian dan permusuhan.

Perumnas, 2016
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiAbah
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top