loading...

Biografi Matamu

Biografi Matamu (1)

Aku akan pergi saat matamu merah
menatapku tak lebih
dari seonggok kunang-kunang
sekerjap gelap sekerjap terang
hinggap di batang kerontang.

(Malam petang
kau jerat pekat kesendirianku yang gamang
kapankah awan lenyap kapankah langit benderang
kubawa kelap-kelip bokong sedesas-desus bimbang)

Saat kedip matamu terbuka memandangi sepi
menatap seekor kunang ini teronggok terbang tak pasti
aku akan pergi melayangi udara yang bukan malam kita lagi
karena aku tak ingin dipandang seperti ini.

Biografi Matamu (2)

Lebih baik terpejam.

Terpejamlah saja dan pastikan
aku ada dalam peram mata
bukan bayang wajahku bergentayang
melainkan benang-benang aura
mungkin akan kau rajut ia
menyulami dahaga bagi keringmu di dada
kau untai helai aura bibirku menyentuh inti jiwa
menjahit urat-urat lubukmu
yang bersemayam luka purba
sehelai lain dibuat jaring
menyaring ampas dosa
membening selaksa pahala
sari-sari kejujuran dan tabah rindu bertapa
benang-benangnya juga
menjahit robekan urat nadimu yang renta.

Ohoi, kita adalah darah
yang merah dengan sendirinya
yang mengalir ke lubuk laut
di mana gelombangnya tak reda
mendetakkan kederasannya
dan menepi di batas aorta.

Tetapi denyut akan susut
saat matamu terbuka
maka aku akan pergi
saat matamu tak terpejam lagi
dan menatapkan ujung taji.

Ganding Pustaka, 2014-2017
"Puisi Raedu Basha"
PuisiBiografi Matamu
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top