Bunga Es

Melihat Malaikat Jibril
memunguti bulu embun yang menempel
di setiap kaca di sekitar wawang tidur
serupa mendung yang surut bersama hujan
yang enggan menundukkan pandangan
saat memegang ekor petir di langit-langit lemari.

Kerap kali sebuah benda tajam berkilau abu-abu
membenturkan taringnya di sisi ranting tubuh
serupa tahanan yang memonopoli perdagangan toko
duri-duri sombong sempurna dan kekal dengan prasangka.

Tapi tunggu, di matanya ada televisi
yang menyiarkan betapa buruknya perkiraan cuaca
getir beraroma pahit dalam tempurung kelapa beku
terbungkus oleh salju tiruan
tak terlihat ataupun kepanasan.

Sementara ingatan telah hilang tentang ikan-ikan,
daging giling dan sayur mayur
yang kulitnya tak sampai berkerut berhari-hari
sebelum sampai di mulut-mulut jagal bergigi.

Es terasa dingin
bersama manis gula yang terbawa oleh angin
namun bunganya tak jua membeku
bunga yang menempel di atas
dinginnya perasanmu.

Magetan, 19 Maret 2014
"Puisi Kinanthi Anggraini"
Puisi: Bunga Es
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top