Bisnis

header ads

Puisi: Hikayat Sepasang Bra

Hikayat Sepasang Bra

Apa yang bisa kami banggakan
selain sekedar sebagai sandaran
agar bukit kembarmu tak nampak turun
agar bisa selalu menggoda pemilik jakun
sebab kami pelan-pelan mulai putus asa
lebih baik jika mengundurkan diri sesegera
tak pantas kami dipanggil pelindung dada
setelah kancing bajumu yang paling atas
dengan sengaja kau lepas
hingga mata-mata liar itu menjadi awas
serta merta kau menjelma bintang pentas
lalu kau mulai kehilangan rasa cemas.

Apa yang bisa kami tutupi
ketika separuh tubuh kami kau lucuti
hingga kami tak ubahnya seperti
hanya sepasang tali
apalagi kau kini juga memaksa
kami lekas-lekas bermetamorfosa
menjadi lebih montok dari yang biasa
mengalahkan ukuran-ukuran para leluhur
agar kau meraih anugerah dada paling subur
sebab kau bakal kehilangan rasa percaya diri
kau bahkan tak berani lagi berprestasi
ketika dadamu terlihat sunyi bersembunyi
bukan seperti balon yang hendak meledak
dari balik bajumu yang bergaya koyak.

Lalu ada-ada saja yang kau lakukan
atas nama kemajuan dan pembaharuan
kau memagari kami dengan sepotong kawat
memaksakan kesan kencang nan padat
atau menggemukkan kami dengan selembar busa
semoga nampak lebih besar dari yang semestinya
atau berimprovisasi dengan desain paling genit
menyumpahi yang di balik celana agar terjepit
menghiasinya dengan corak binatang liar
agar para pengintip kian berdebar
agar jemari-jemari kian tak sabar
menyibak surga di balik bukit kembar.

Surakarta, 2013
"Puisi Lasinta Ari Nendra Wibawa"
PuisiHikayat Sepasang Bra
Karya: Lasinta Ari Nendra Wibawa

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Posting Komentar

0 Komentar