loading...

Istri

Aku bersijingkat naik tempat tidur. Dan istriku yang sudah lama di sana, memelukku. Ia mencium bibirku. Dan kami saling berpagutan dan mendesis-desis seperti ular. Ada rasa yang liar. Seperti merasakan ruap onak yang terbakar. Ketika jam weker berbunyi dua kali,  kami  pun terjaga. Kami berpandangan.

Saat itu di jendela hujan turun gerimis. Bayang lampu jalanan masuk ke dalam gorden yang tipis. Langit sangat kelam. Di  pinggir tempat tidur, kami duduk terdiam. Rasanya dunia kelam. Semua diam. Juga tiang listrik di luar sana, diam, diguyur hujan.

Dan ketika kutatap matanya, kulihat dalam mata itu sebuah telaga yang tenang. Beberapa ekor belibis sedang berenang di permukaannya. Setelah itu, aku melihat seluas-luasnya samudera. Ada air laut menggenang sampai ke batas cakrawala. Ada cahaya berkelebat seperti kilat di luar jendela. Tapi tidak ada ombak. Dan aku seperti sauh kecil, terombang-ambing di alun gelombang.

Aku masih termangu-mangu, ketika istriku bersijingkat naik tempat tidur. Aku masih duduk membisu ketika ia mengigau. Aku masih terjaga ketika weker berbunyi empat kali. Aku dengar dengusnya. Aku membaui nafasnya. Aku heran bagaimana dia bisa mencintaiku apa adanya.

Saat itu di jendela hujan turun gerimis. Bayang lampu jalanan masuk ke dalam gorden yang tipis. Langit sangat kelam. Di  tempat tidur, istriku  terpejam. Rasanya dunia karam. Semua diam. Juga tiang listrik di luar sana, diam, diguyur hujan. Dan aku menangis.

Oktober, 2009
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiIstri
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top