Kepanikan Babi
(: Sarwenda Kongtesa)

Mengendus bagai babi
wajahku menjelma ribuan kendi usai pesta bakar diri
pesta satu-satunya yang jadi kebencian
orang-orang di kampung ini

Bila niat baikmu berjumpa wajah pucatku
kepanikan-kepanikan ini hanya sebagian kecil
dari derita babi yang diikat kuat-kuat
dan tak pernah dianggap terhormat
bila aku pergi sangat pagi
menyusuri dosa-dosamu menjelang Natal
akankah rambut yang kubakar ini
tak lebih menggetarkan dari tangisan babi?

Air mata jadi tak luar biasa dalam barisan para penduka
dalam arakan sesaji yang membayang bunga kamboja
bersama ingatan tentang Tuhan
aku mengerti piutang-piutang kata mengendap
berjumpa kepanikan-kepanikan yang lain di keraguan yang lain
yang tak dapat engkau jelaskan di rumah Tuhan
pada jam-jam menjelang fajar sekalipun

Di sebuah nusa kecil nan lengang
kupunguti bunga pepaya berguguran
aku kelaparan dan masih setia
menyimakmu berdoa menyanyi puji-puja
aku kelaparan dan terus mengendus bagai babi
binatang yang tak sudi tunduk pada Tuan
pada hari-hari terakhirku di dekat kandang babi
terberkatilah kepedihan yang membelanga
kesepian yang menggenapi petang milik pendatang

Malam melambat
kunang-kunang pijar sempurna
kita akan berjumpa di Surga.


Adonara Timur
25 Juni 2014
"Puisi Nana Riskhi Susanti"
PuisiKepanikan Babi
Karya: Nana Riskhi Susanti

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top