Keukenhof

Napasku terbeli oleh Amsterdam di bulan Mei beraroma
lembut, semanis vanila dan sarah lovely
bersama cokelat panas, jaket beludru dan hijab ceruti
berbulu para peri, dengan beribu sihir di ujung jari

Tepat di selatan ibukota Belanda gamisku berdiri
tiga puluh menit berteman bis yang sibuk membawa pagi
aku menemukanmu di antara Maret dan Mei
Taman putri cuaca, yang bukan dongeng ataupun mimpi

Dua kakiku singgah di semampai tubuh yang elok
bertulang daun lurus, bergelayut tanpa berbelok
enam lembar turban yang biasa kau kenakan
bersama tujuh juta bunga diizinkan aku berkenalan
seluas delapan puluh hektar berjajar, laksana tempat hunian.

Lensaku terjatuh di sisa tanah yang tak kau tempati
sembari mendekati bibirmu, yang tak berani kuciumi
namun sayang, aku tak bisa mengajakmu kembali
bersama angkasa, yang mungkin lama kau benci
atas pengakuanmu, Ibu ratu berasal dari Turki
bertanda lahir goresan kuas di setiap sisi
atau jitatan api yang kerap kali tak bertepi

Di ujung perkebunan, pamanmu mengawasi setiap pejalan
dua kincir angin yang gagah laksana jenderal peperangan
tak gentar menjaga kelopak sesuai dengan kelipatan
dari kenangan yang terselip tanpa sengaja berkenalan

Di kota Lisse dibesarkan ingatanku kini
tentang tulip yang hidup pada musim semi.

Desember 2013
"Puisi Kinanthi Anggraini"
PuisiKeukenhof
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top