Bisnis

header ads

Puisi: Kopi (Karya Nirwan Dewanto)

Kopi

Di tangan lelaki itu, kami coba bersabar.
Namun betapa cangkir ini gemetar
oleh tubuh kami, gairah kami
yang luas seperti langit Potosi.
Menuju kami wajah lelaki itu.
Kami akan naik ke mulut lelaki itu,
aku dan kembaranku,
aku dan seteruku:
kami akan berpisah selepas leher lelaki itu:
dia ke arah malam di usus besarnya
aku ke arah matahari di peparunya.
Tak sabar lidah lelaki itu.
Namaku arus kali atau bakal salju
sebelum lelaki itu merengkuh seteruku
yang lebih hitam dari pasir pesisir
dan lebih wangi dari lavender terakhir,
dan aku betina, bening. Betapa lelaki itu
mengaduk si serbuk jantan ke dalamku.
Oleh bahang lelaki itu, aku dan seteruku
seperti tak terpisahkan lagi, tetapi
di dasar cangkir, dia sekadar bayanganku,
dan di bibir cangkir, kembaranku.
Di bawah tatapan lelaki itu
kuajari dia melayang mencari terang.
Tapi menggelayuti seluruh tubuhku dia
membutakan mataku hanya.
Kukatakan pada dia, baiklah
kita akan berpisah (mungkin aku alah)
setelah menaklukkan lidah
lelaki itu. Tapi kami cuma bisa bertarung,
bersetubuh, (makin pahit), membubung
menghujani bentang koran pagi
yang terkulai di pangkuan lelaki itu.
Penderita insomnia lelaki itu.

2007
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiKopi
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Posting Komentar

0 Komentar