loading...

Lengkung

Saat malam telah berpulang, meninggalkan jejak yang tak terbaca, kepada siapa kita akan menengadahkan doa? Sementara langit telah terlanjur memilih mimpinya sendiri. Dan jalanan seperti pekuburan tua, tempat sunyi berjelaga.

Saat gigil sedemikian ganjil, menanggalkan senyap di sebilah sayap malam, mantra apa yang akan kita rapal? Sementara detik berjalan begitu cepat, seperti ingatan dan sesal yang melesat dari punggung waktu. Dan kita seperti bocah yang kehilangan riang hujan, memaksa kita mengemas ribuan tanya.

Barangkali, kita memang harus melupakan hafalan tentang nama dan arah. Sebab semua seperti hitungan nisbi, tak menyisakan alamat untuk kita kembali. Atau kita mungkin perlu berguru kepada angin yang menuliskan nasibnya sendiri di jalanan yang menyusun sebuah riwayat, agar kelak kita tidak tercatat sebagai kembara yang cacat.


Pustaka Senja, Yogyakarta
2014
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Lengkung
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top