loading...

Lupa

Pekerjaan yang paling mudah dilakukan adalah lupa.
Tidak butuh kecerdasan. Tidak perlu pendidikan. Hanya
perlu sedikit berpikir. Itulah sebabnya, banyak orang
tidak suka kalender, jam, dan tulisan. Menghambat
lupa. Padahal lupa itu enak. Membebaskan. Sementara.

***
Musuh utama lupa ialah kapan. Teman terbaik lupa
ialah kapan-kapan. Kapan dan kapan-kapan ternyata
sering kompak juga.

***
Ia sudah selesai berdandan. Keren sekali. Pakai jas baru.
Dasi warna-warni. Sepatu mengkilat. Minyak rambut.
Deodoran. Parfum. Wangi.
Sampai di depan pintu tiba-tiba lupa. Sebenarnya mau
pergi ke mana? Berpikir sebentar. Memejamkan mata.
Oh iya. Tadi itu rencananya kan mau ke kamar mandi!
Apa salahnya ke kamar mandi pakai jas, sepatu, dan
segala pernik-perniknya? Anggap saja simulasi. Untuk?
Memasuki rumah sakit jiwa.

***
Mandi lupa membawa handuk atau celana untuk ganti
itu biasa. Mandi lupa telanjang mungkin saja terjadi.
Tapi mandi lupa membawa topeng? Bisa berabe. Untuk
apa topeng diajak mandi? Untuk menakut-nakuti sepi.
Untuk menemani wajah sendiri.

***
Aku sedang melamun di ruang tamu. Memperhatikan
daun-daun dipetik hujan, disebarkan ke halaman.
Hampir petang. Kring kring. Ada becak datang.
Becak diparkir di depan pintu. Bang becak nyelonong
masuk ke ruang tamu. Duduk santai. Merokok. Hap!
Aku tergagap. Siapa dia? Aku merasa tidak pesan becak.
“Lupa ya?” Ia senyum-senyum. Aku bingung. Terpana.
“Lupa ya?” Ia bertanya lagi. Tersenyum lagi. Tiba-tiba
aku ingat bahwa aku memang pernah bertemu orang
yang mirip dia di rumah sakit, tapi bukan dia.
“Anda lupa ya bahwa Anda belum pernah bertemu saya?
Mengapa harus mengingat-ingat?”
“Ikut saya yuk! Gratis.” Ia mengajakku ke kota dengan
becaknya. Aku menolak. Kapan-kapan saja.
Ketika aku sibuk mengamati daun-daun dipetik hujan, ia
ngeloyor begitu saja dengan becaknya tanpa sempat
kuperhatikan arahnya.
Aku kini merasa lega setiap kali melihat becak melintas
di jalan atau diparkir di halaman karena suatu saat
nanti, jika aku hendak pergi ke kota, akan ada bang
becak yang menjemput dan mengantarku. Lumayan.
Nyaman. Sederhana. Tidak tergesa-gesa.

***
Adakah yang benar-benar habis digerogoti lupa?
Lupa: matawaktu yang tidur sementara.
"Puisi: Lupa (Karya Joko Pinurbo)"
PuisiLupa
Karya: Joko Pinurbo

Post a Comment

loading...
 
Top