Menanti Waktu Pisah

Barangkali ada sisa waktumu
yang kausediakan bagiku
lalu kita menangkap sepi di tepi kota
menancapkan mata di Gunung Telamaya.

Bukankah kau telah tahu
setiap kabut lewat kemelut batinku
mungkin kau pun ingin menumpahkan hati
sebagai bekal yang kubawa pergi.

Sementara angin mendesir
betapa aku gelisah
karena ketika mentari menggelincir
kita pasti berpisah.

"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiMenanti Waktu Pisah
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top