loading...

Nujum

Masehi telah menua sayang. Berapa banyak kitab luka yang kautadarusi dengan dada berlubang? Langit telah piatu. Jalanan kerontang, dan orang-orang lupa pada bau tubuhnya sendiri, padahal senja menyisakan aroma tanah yang tersayat luka.

Malam telah tanak, sampai kepulan ke berapa lagikah kita akan mengemas mimpi, memilin kenangan-kenangan yang patah, juga merapalkan doa-doa yang sumbang? Tidakkah kau belajar pada pohonan yang mengacungkan alif ke langit, lalu mengekalkan lam ke akar-akarnya dan setiap jengkal batang, lalu semesta mendengungkan mim lewat daun-daun yang jatuh satu-satu menciumi pipi tanah?

Kalender, berapa banyak daun yang akan tanggal malam ini? Sebelum musim mengabarkan sabda, sebelum kemungkinan-kemungkinan berubah sesal yang menyesakkan. Lihatlah, angin begitu angkuh, padahal banyak pejalan yang tak tahu arah jalan, dan kunang tak memberi kabar ke arah mana dada ini dihadapkan semestinya.

Aku belum menemukan huruf-huruf untuk kita tenun menjadi selimut, agar ketika malam mengelupas, kita tak akan merasakan gigil paling ganjil. Dan kapankah kita akan menemukan semburat jingga di kejauhan, yang menjadi isyarat tentang cinta yang mulai berkarat?


Pustaka Senja, Yogyakarta
2014
"Dimas Indiana Senja"
Puisi: Nujum
Karya: Dimas Indiana Senja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top