Panen

Sejak kemarau ini kita tidak kehausan lagi
bendungan sumber di gunung telah kita bingkari
jangan takut kepanasan di sawah
di musim labuh sudah lelah.

Kini tangah mengapal pacul
pantat mengapal bajak
kaki mengapal lumpur
kita akan makmur.

Tetangga panggillah ke sawah
padi menguning rebah
mari menuai padi tua
mari pesa dalam kerja.

Panggil gembala di gunung gundul
yang melagu gambangsuling
suruh kemari berkumpul
memetik padi menguning.

Pak lurah undanglah bersuka
jangan menunggu lumbungnya saja
saksilkan panen yang kini tiba
betapa meriah pesta kerja.

Sawah kita kini luas-luas berbatas
musim labuh nanti harus kerja kerjas
anak cucu diberi contoh kerja tabah
biar habis kisa tuan-tanah.

Mari menuai
beramai-ramai
mari nembang
panen datang.

Suwe ora jamu
jamu godong duren
suety ora ketemu
ketemu mangsa panen
(lama tidak berobat
berobat daun durian
lama tidak berjumpa
berjumpa musim panen)

Kini kita angkat sumpah
tuan-tanah mesti punah
bocah-bocah megah gagah
kakinya berpijak di sawah.

Aoi petani teriak berbondong-bondong
kami turut membela membangun tanah air
petani selalu bergotong-royong
hidup di desa damai tak punya akhir.

Aoi petani teriak lantang padat
kami mau lagi angkat senjata
untuk merebut Irian Barat
dan mempertahankan merdeka.
1962
"Puisi Piek Ardijanto"
PuisiPanen
Karya: Piek Ardijanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top