loading...

Piring Terbang
(untuk Mao Xuhui)

Rumah mereka berlabuh di atas atau
Di bawah rumpun lilaka. Bukankah
Mereka tinggi budi sebab mengenakan
Baju tembus-pandang? Tapi mereka bahagia
Jika wajah kami bersalut debu Bimasakti.

Mereka makan dari piring kertas, kami
Hanya dari piring porselin. Kami lapar
Oleh uap sup makaroni, mereka tumbuh
Menjalar oleh lapar kami. Di tengah jamuan
Betapa mudah mereka menghilang ke arah
Bintang berekor atau barisan menara pencakar
Langit utara. Ketika kami terlampau kenyang
Mereka sudah duduk khusyuk di depan layar
Televisi, mencari-cari kaum berjubah putih
Penyerbu taman gagasan atau mata air.

Hingga mata mereka terbuka mahaluas
Seperti rongga malam, dan kami terpaksa
Bernyanyi atau sembunyi dalam kobaran api.
Pada musim dingin mereka berkaki lidi.
Pada musim panas mereka berkaki lembu.

Dengarlah, kenakan ini sepatu terbaru, supaya
Kami tak malu, dan kalian mahir menulis puisi -
Sebab kami tak tahu apakah mereka cucu
Atau leluhur kami. Lihat, betapa lonjong
Tempurung kepala mereka. Betapa kosong
Puisi mereka tentang birahi harimau
Atau hujan asam atau jantung lebah ratu.

Dengarlah, meski kami seperti bebulir padi
Jangan biarkan kami tertampi-tampi -
Suara kami seperti pantun dari Langkawi.

Namun camkanlah, rumah yang terlalu mekar
Ini sudah tercerabut dari lilaka yang membelukar
Rumah pipih terang yang kini kami bawa terbang
Menyeberangi Taliesin menuju gugusan bintang.

2008
"Puisi Nirwan Dewanto"
PuisiPiring Terbang
Karya: Nirwan Dewanto

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top