Rumah Kenangan

Rumah  itu selalu mengingatkan padamu, namamu, dan wajahmu yang suram, ditimpa lampu malam.  Tapi aku tak yakin benar, apakah kamu juga pernah mengingat namaku?

Di depan rumah, aku terpekur, memandang langit yang melengkung seluas cakrawala, dengan tiang-tiang listrik yang seakan menjadi penyangganya. Lalu kurasakan suara piyuh angin yang memukul-mukul  suara tebing.

Dari jauh, kulihat teras  rumah itu kosong, ruang tamu  juga kosong. Ada juga setumpuk angan-angan yang berserakan di lantai, dan sekardus impian yang menempel di dinding.

Dulu aku pernah berpikir,  di dinding itu akan ada telapak tangan anak-
anak
 yang menggapai (tapi kenyataan itu rupanya tak pernah sampai).  Dulu aku pernah berpikir, kamu akan sebut namaku dan aku akan sebut namamu (tapi sekarang yang kudengar hanya suara darah yang mengalir seperti air terjun dari ngarai).

Di depan teras rumah itu, tubuhku  kelu, tertekuk dan  terduduk. Sadarlah kini, begitu banyak hari-
hari
 lewat; dan kata-
kata
 terucap.  Kita ternyata hanya hidup berumah dalam kenangan. Masa laluku adalah patahan piring, keping hati yang membuatku melihat masa kelam.  

Lihat, malam pun berganti pagi. Hidup jalan terus ternyata. Tak ada yang kekal di bawah matahari.

Desember, 2014
"Kurniawan Junaedhie"
PuisiRumah Kenangan
Karya: Kurniawan Junaedhie

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top