Semadi di Berlin

(I)
Aku datang compang-camping sarat kegelisahan
dan rindu harkat manusia yang hilang
langkah melayang-layang
tersengal nafas busuknya nafsu pengucilan.

Aku datang mencari cerobong
seperti asap
atau selokan seperti mata air merayap riap
atau pangkuan seperti kasih sayang
atau kawah tempat roh telentang
atau ruang langit kosong bisu menerawang.

Sehingga aku jadi sendiri
masuk dalam sukma
imajinasi tanpa bui
di tengah kebisingan kunyah mengunyah
aku menyepi
bahagia dalam sendiri
jiwa bersama sunyi menghentak-hentakkan gelisah
sesaat untuk memulihkan jelajah.

(II)
Menjauh, mencari kelengangan
membuat batas dan jarak antar perjalanan
mencintaimu di dalam perpisahan
engkau: alunan
kecamuk, kebangkitan
butir nasi
desah nafas

Bungkah jiwa
tulang belulang
arus darah
dunia
engkau: cinta.

Menguning rontok daun musim gugur
langkah terkesiap di depan Brandenbur Tor.

(III)
(Siapa orang tertindas itu?)
aku terperangah tapi mulut terkatup
mata tertuju pada bintang di dahi
berkedip-kedip bisu
kupejamkan mata: berlari-lari dari jauh serigala
menabrak gundukan yang tertindas itu
dan dikunyahnya, kerakusan telah menelannya.

(Mana sisa orang tertindas itu?)

Aku pun ikut menguap

Bulu-bulu salju
kepergok matahari

Bocah-bocah membola salju
dilemparkannya ke kepala serdadu
wayang golek bermain di atas tembok Berlin
dalangnya mabuk heroin.

Khusuk semadiku
hidup imajinasiku.

(IV)
Aku bersemadi dalam semadiku puisi
aku bercakap dalam cakapku gelombang demonstrasi
aku menangis dalam tangisku lapar Ethiopia
dan geliatku geliat bangkit saudara hitam di Afrika Selatan.


"Puisi Putu Oka Sukanta"
PuisiSemadi di Berlin
Karya: Putu Oka Sukanta

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top