loading...

Sepucuk Angin Merah

Darah terserap sejarah
menatap ruh yang mengawang-awang berkeramas
di telapak senja. Langit mengeropos dalam batin
meneriakkan himne bagi rasa maaf yang gemetar

Menyambut kunjungan kasur hitam
yang lama memeram rintik-rintik hujan dengan
rumput yang semakin meninggi. Menggetarkan mata
air yang sudi memapah getir.

Sementara malam terus menerus dikuliti oleh
kembang mungil yang terbawa oleh badai
sementara bunga-bunga tidur mengkristalkan api
di dagu perawan yang menjahit benih di kebun hati.

Tatkala malam merendah, dan matahari memerah.

Magetan
11 Mei 2014
"Puisi Kinanthi Anggraini"
PuisiSepucuk Angin Merah
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top