Bisnis

header ads

Puisi: Setelah Bendera itu Dikibarkan

Setelah Bendera itu Dikibarkan

Sekarang Anda menyanyikan lagu kebangsaan
di negeri kami. Kami tidak mengenali lagu itu, tapi
Anda memaksa kami menyanyikannya.
Mulut kami terbata-bata mengikuti mulut Anda.
Ayah kami yang patah giginya Anda paksa juga.
Kami hanya berdaham ketika melihat ludah
di kopyah ayah. Kami yang tidak lagi punya hati
kepada hari-hari upacara dijadikan
seremonial. Jiwa kami tidak ada harga. Tubuh
kami hanya patung hias. Dalam rencana-rencana
tersulubung, kami tidak boleh teriak.
Karena kami menanggung hutang kepada Anda.
Tetapi bagaimana kami dapat mengembalikan
yang tidak pernah kami ambil?

Kami bicara kepada Anda dengan bahasa sandi.
Kami kehilangan suara dan tenaga
tidak berguna. Karena bendera Anda telah dikibarkan
lagu-lagu kami tinggal ratapan lelaki
yang selalu menangis di nada-nada minor.
Anak-anak memang masih merangkai bunga
tapi bunga-bunga itu masa depan
yang mudah gugur dalam permainan tangan.
Mereka tidak melihat kenyataan.
Kenyataan hanya ada di televisi.
Hanya dalam streaming yang Anda ciptakan
dari halusinasi peradaban tanpa haluan.
Anda hadirkan nama-nama pahlawan kami
sebagai masa lalu; cita-cita moyang sebagai
makhluk purba; dan setiap hal di hari ini juga
selanjutnya adalah milik Anda.

Kami beratus juta jiwa hanya buruh murah;
hanya petani yang kalah dalam perebutan tanah;
hanya nelayan yang terusir dari setiap laut;
hanya pegawai sipil kelas rendah; hanya petugas
partai yang diangkangi pemilik modal. Kami
beratus juta jiwa yang selalu diam ketika Anda
meratakan gunung kami. Anda rengggut
sawah kebun kami. Kami yang tidak lagi punya
pantai hidup di tanah-tanah landai.
Kami masih di sini karena angan-angan
tentang kemuliaan hidup dalam kemerdekaan
atau tidak untuk apapun.

Kepada anak cucu, kami menanggung dosa.
Karena warisan bagi mereka bukan tanah daulat
tapi ketidakberdayaan. Kelak mereka takkan tiba
di kubur kami. Tanah bagi kubur kami
tidak ada. Kubur kami ada di angin.
Jerit penyesalan kami menjadi mitos pada malam-
malam hampa di antara rengek bayi-bayi lapar
di rumah-rumah yang sepi kasih sayang.
Kami dalam setiap ingatan berwajah jelek
dan menjengkelkan. Selain itu tidak ada.
Karena sejarah Anda yang punya. Tulisan-tulisan
kami di dinding  gampang usang, sedangkan
jutaan hektar kertas yang Anda cetak
terus dibentangkan.

Nyanyikanlah. Nyanyikan lagu kebangsaan itu.
Di bawah bendera Anda kami patung hias.
Beratus juta jiwa kami terkungkung dalam tubuh
bertumbangan.

2016
"Puisi Muhammad Rois Rinaldi"
PuisiSetelah Bendera itu Dikibarkan
Karya: Muhammad Rois Rinaldi

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Posting Komentar

0 Komentar