Solo Membunuh Seraya Tersenyum

Asap hitam mengepul di permukaan pertokoan
tempat biasanya kubeli beras, gula, dan mie instan
jatuh dengan runtuhan manusia yang bertebaran
persis serupa kertas selebaran bekas koran
merayap menjalar api tanpa ampunan
hilir mudik sandang pangan berpindah tangan
yang kami miliki satu tahun senilai uang jutaan
aku terpasung dalam waktu yang berjibaku
mata memasung segala penjuru mencari anakku: Lian Fuu!

Tak lama kepala terpelanting memegang suara sayu
yang jelas aku yakin itu teriakan anakku
diseret pria berambut jagung berbaju cekolat abu
sembari ditebaskan beberapa kali balok kayu.

Ketika aku menemuinya di jeruji besi bisu
menangisi sejadi-jadinya anakku saat itu
menyeka air mata lebam, bekas terpukul kayu
sembari meyakinkanku, "Aku tak melakukannya ibu"

Seketika mencuat suara lantang tak takut perih
menghalau pedang tak lagi kutahan lirih
kenyataan yang terlontar bukanlah dalih
ketegaran ibu penyelamat nyawa, anak terkasih.

Suara kami disiksa seharian di pengadilan
tanpa kehadiran adil yang kami nantikan
disumpal dan dilolohkan bubur tuduhan
menghirup roh kebisuan dari sebujur badan.

Anakku mati dalam satu tembakan
atas perbuatan yang tak dilakukan
"barang yang tak dicuri dari jarahan"

Surakarta, 3 April 2013
"Puisi Kinanthi Anggraini"
Puisi: Solo Membunuh Seraya Tersenyum
Karya: Kinanthi Anggraini

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

|www. sepenuhnya .com ||

Post a Comment

loading...
 
Top