loading...

Pacar Atau Teman?
Bercerita lagi tentang seseorang. Dulu aku memiliki seorang pacar (sebut saja namanya mantan). Nah, mantan aku yang satu ini baiknya minta ampun. Putus darinya, malahan membuat aku merasa "Sudah waktunya dia sadar dengan kesalahannya dalam memilihku dulu".

Dan di saat kami sedang mabuknya dengan cinta yang entah bagaimana semua itu bisa disebut cinta, dia menanyakan padaku sebuah pertanyaan yang menurutku sangat unik untuk diceritakan "Abang pilih mana, pacar atau teman?".

Sahabatku sekalian, aku menjawab, "Jika pilihannya adalah teman, mungkin aku akan memilih pacar. Namun jika pilihannya adalah sahabat, maafkan aku Dek, sudah seharusnya aku memilih sahabat".

Seketika, suasana menjadi hening seketika. Lalu dia menceritakan sebuah kisah yang dia perankan pagi tadi sewaktu dia di sekolah. Sekumpulan gadis SMU berdiskusi (baca: bergosip) mencari jawaban atas pertanyaan yang sama yang akhirnya menyinggahiku, "penting mana, pacar atau teman?".

You know what? Semua Pemeran dalam kisah yang diceritakannya itu, sama sepertiku, mereka semua memilih teman. Kecuali pacarku yang terlalu baik hati; dia ngotot dan tetap memilih pacar.

Dalam hati yang (cepat merasa) iba ini, aku sungguh tersanjung, dan sedikit sedih dengan teman-teman pacarku; yang harus memiliki teman yang lebih mementingkan pacar. Mungkin aku juga harus merasa terharu, karena ada orang yang lebih memilihku dibanding teman-temannya. So sweet!

Wait a minute... Aku tidak menjawab teman, tapi aku menjawab sahabat. Ya, karena bagiku, sahabat adalah orang yang paling mengerti baik-burukku. Dan bahkan, terkadang mereka lebih baik dalam pengetahuannya tentangku; lebih baik dariku.

Nah, kenapa si pacarku memilih pacar? Iya, alasannya sama seperti alasanku... karena baginya, aku lebih mengerti tentangnya dibandingkan dengan teman-temannya. Booo... double sweet!

Sama seperti hari lainnya, hari ini memang bukan sebuah hari yang panjang. Namun setiap detik yang terlalui di dalam percakapan ini, adalah waktu yang sangat terasa panjang. Di sana juga dia mengatakan sesuatu yang membuatku merasa lebih berarti dari sebelumnya, "Abang adalah orang pertama Adek cari, baik itu di saat Adek senang, maupun di saat Adek sedih".

Tear me down (almost, haha...)

Sungguh menyedihkan, dia mengatakan itu dengan penuh keyakinan bahwa apa yang dia katakan memiliki tingkat kebenaran melebihi batas 100%. Bayangkan rasanya menjadi seorang yang sangat terpuji semacam ini?

Dan aku masih menjadi pendengar yang baik... kemudian dia melanjutkan kalimatnya "Abang orang  yang paling mengerti dengan apa yang Adek rasakan, Abang adalah obat dari segala kesedihan Adek".

Selain aku hanyalah seorang pendengar yang baik, aku juga seorang pemberontak yang buruk. Dan benar, jika ada hal yang aku ucapkan lebih memungkinkan membuat hati seseorang tersakiti, aku akan diam. Dan juga, aku hanya akan bicara, jika itu tidak membawa rasa sakit. Tapi walau demikian, aku juga seorang yang tau caranya menjadi serius di saat orang bicara serius (wow, sangat terlihat curhat... haha...).

Ada satu orang yang mengerti dengan cara hidupku yang satu ini, dia bukan golongan dari pacarku. Dia adalah sahabatku yang beberapa kali pernah mengatakan "Saat Si Arief sakit, istrinya hanya akan tau; ketika dia sudah meninggal".

Dia terlalu sering mengulangi kalimat itu saat dia menceritakan tentangku pada teman-temanku yang lain. Terkadang aku merasa iri dengan pandangannya yang terlalu jujur, haha...

Kembali ke kisah...

Aku mengatakan kalimat lesu pada pacarku; bermaksud, agar dia tidak terlalu larut dengan keseriusan yang dia ciptakan, "Selain jadi pacarku, maukah kau jadi sahabatku?".

Dia adalah satu-satunya pacarku yang sering merasakan rayuan gombalku, dan dia juga satu-satunya pacarku yang selalu berkata dengan kecewa "Abang tidak tau cara merayu!".

Post a Comment

loading...
 
Top