loading...

Dialog Remang Di Surut Jendela

Adakah sejauh ini kau biarkan hujan
Jatuh begitu saja? Dan senantiasa kita beradu kabut di kubang malam
Saling menukar empun mimpi, menyadap silam matahari?

Psst, jangan katakan itu lagi
Aku tak ingin merah muda itu sirna dari pipimu
Larik cinta yang kutoreh berkecup khusyuk
Komedi dan elegi yang mengatup rindu yang mabuk

Saat ini kita tak memiliki sehelai sepi
Di antara runtuh dedaunan dan gigil ilalang
Di antara gempa berkepanjangan dan letus senapan
Kita hanya punya sebaris angin dari serakan syair....

Wahai remang di surut jendela
Hujan mengetuk pintu-pintu jantung yang perlahan retak
Gundah mengasah legenda setangkai edelwis
Serasa elu Laila mengaum di dada, mengamini jarum jam usia
Bergusaran dalam nyenyak tidurku

Oh, jangan biarkan merah kenangan memadam bara
Dalam dekapan. Langkah kaki kita masih butuh kata pada ruang waktu

Hanya mataku menatap hitam rambutmu sepenjuru malam
Mengingatkan murung purnama yang menyaksikan Dewi Shinta yang menjerit
Menggedor-gedor pintu langit.

Rembang, Januari 2008
"Puisi Raedu Basha"
PuisiDialog Remang Di Surut Jendela
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top