loading...

Permata

Seperti permata yang digosok dari cuma batu
kita tahu kemerdekaan adalah kemewahan
dari keringat duka bercampur luh
menumpahi persediaan rasa sabar

Warna kulit dan tambo silsilah, memang
gampang mempermainkan krama nasib
dan kita senang mengingat-ingat borok
itu Daendels atau Jan Pieterzoon Coen
zonder menghukum cakal-bakal kita sendiri
yang menjual tanah mereka kepada si Belanda
hingga kita dikirakan keledai selama berabad.

Jika kita terbelusuk dalam pemiskinan, kini
lihat, masih ada kemelaratan di tetangga
terhibur kita dengan melihat ke bawah.

Pandang semua masalah selaku pelukis
menghadapi kanvas-konvas kosongnya
dan lukis dengan visi penyerahan
sebab apa untung dibius rasa bersaing
toh semua kematian cadangnya ketelanjangan.

Permata kita yang asli mesti kita bilang
ada di matinya kemauan-kemauan darah.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiPermata
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top