Sekerat Kisah dari Sejarah yang Tumbang
(mengenang Kiai Abdullah Sajjad)

Air mataku mengalir bagai gesekan biola berdawai risau
mengenang jasad-jasad mereka ditandu para malaikat ke lubuk lahat

Waktu itu, bumi berhenti berputar
langit redup menahan jerit hujan
pohon-pohon mengerang bersama gamang puyuh angin
ada apa dunia berguncang, saat bendera telah berkibar 
atas kemenangan darah?

Kini kuceritakan padamu
sekerat kisah dari sejarah yang tumbang
saat pasang bola mata mereka memantul kilau cahaya
terasah dari seribu satu purnama 
pada malam-malam genting

Gemintang mengintip jantung bumi yang gemeretak
didedah meriam-meriam penjajah
saat kumandang adzan disahut gelegar senapan 
dari pelbagai arah

Langit gelap menghening cipta dalam senyap
kesiur angin di beranda mesjid 
memuntah asap bedil
desahan zikir dan denging tasyahud menjadi purna kata
inilah pengajian maut!

Hingga hamparan angkasa mengelupas getah tangis
baling-baling musim berputar menghantar debaran waktu
malam pun berderu meninggalkan malam-malam yang lelah
disaat sebutir peluru bersarang di rahang sang panglima gagah

Nun,
tinggal saup sepi dan gurindam angin
yang dilantunkan suara serak
di semak hati.

Bilapora, 2006
"Puisi Raedu Basha"
PuisiSekerat Kisah dari Sejarah yang Tumbang
Karya: Raedu Basha

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Post a Comment

loading...
 
Top