Bisnis

header ads

Puisi: Tiada Air Mata Bagi Seorang Bedebah

Tiada Air Mata Bagi Seorang Bedebah

Ia membangun rumah di atas harkat impian
bertiang dendam berjajar-jajar
berlantai harap bertingkat-tingkat
berjendela rindu bergandeng-gandeng
padahal di atasnya ia cuma butuh satu atap
yang menutup rahasia dari kuasa satu matahari
menembus gudang penyimpan segala rombeng nestapa.

Asal hatinya menangisi esok yang bagian kemarinnya
muncul sebuah telunjuk menyuruhnya lihat ke puri
yang terus berdiri walau dipukul gelombang
di laut menuju tanah tepi bekas Batavia
"Maukah kau mengulangi tinggal di dalamnya
tempat orang-orang memelihara geram dan kesumat?"
suara perempuan-apakah Pertiwi-lahirkan gairah
ia berhenti berharap menemukan perhentian.

Di itu puri tinggal merpati berekor-ekor
bersayap emas berparuh emas berkaki emas
terbang sampai di lingkar bimasakti
tapi senang diam di etalase
ia tangkap merpati-merpati
dan berubah jadi satu merpati
Mati mimpinya membangun rumah di atas harkat
dan telunjuk yang pernah menyuruh memilih
kini menuding-nuding jidat dan matanya
"Upah dosa adalah maut," suara itu.

Ia menjerit meraung gaung berkilo-kilo siapa peduli
Tiada air mata bagi seorang bocah bedebah-hatta!

"Puisi Remy Sylado"
PuisiTiada Air Mata Bagi Seorang Bedebah
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Posting Komentar

0 Komentar