September 2018
Ketika Jarum Jam Leleh

Ketika jarum jam leleh dan lelah berdetak
tubuh lilin pun mengabu dalam kembaramu:
engkaulah kembaranku.

Ketika jarum jam leleh dan lelah berdetak
saat adalah segala sayat yang memahat tubuh:
engkaulah tempat berlabuh.

Saat tubuh lilin mengabu, ketika sayatan
dan pahatan merajah tubuh:
engkaukah rajaku?

Jarum leleh, jam lelah berdetak
lilin mencair kembali ke asal sebagai alir
aku dan engkau terseret pusarannya
kembali ke pusara
makna.

Jambi, 2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiKetika Jarum Jam Leleh
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Senja

Senja melarutkanku di batas waktu
ketika ada dan tiada sejenak menyatu
Ada yang beringsut menjauh
Ada yang perlahan merengkuh

Bayanganku mengais sisa terang
Sebelum terkubur malam panjang.

"Puisi Sam Haidy"
PuisiSenja
Karya: Sam Haidy

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Nisan

Kutandai namaku pasti
di batu nisan ini
abadilah sebagai pualam.

2011
"Puisi: Nisan"
PuisiNisan
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Panorama Senja
(buat sahabat batinku)

Alam diam-diam menyediakan kearifan
sebelum matahari merendah, warna pelangi menari
mewarnai sanubari. Angin mengendap
mengusap daun-daun jati.

Bukit terkadang tersaput kabut
jalan pendakian terjal dan berbatu
sungai tak lelah menggericikkan bulir air
menuju ke muara atau ke laut
tempat segala cinta bertaut.

Saat matahari merendah
kabut bersujud di atas tanah basah
embun meneteskan kilaunya pada musim pancaroba
mendesahkan risalah dan berjuta kisah.

Jambi, 2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiPanorama Senja
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Tari Sembah
(Pagelaran Tari Pakarena di Balla Lampoa, Istana Raja Goa, Sulawesi Selatan)

Diiringi suara serunai dan
genderang tabuhan dua kendang besar
sosok perempuan penari tua muncul
dalam temaram panggung -

Tari pakarena akan mulai -
halus dan lamban - dalam irama
bahasa tari purba mencari hubungan
dengan dunia atas dewa-dewa.

Seperti perahu di atas gelora samudra
tubuh sang penari mengalun tenang, -
didukung tabuhan seperti di medan perang
gerak tubuhnya memancarkan roh upacara.

penghayatan ulang karya-karya gaib sejarah
para dewa dan para leluhur di dunia sana
Sesuai alur puisi naskah La Galigo.

Tubuh penari menjelma jadi perahu rohani,
melintasi bentangan angkasa demi angkasa,
jadi tumpangan kita sebagai pelaut-pelaut
samudra batin,

Berlayar mencapai pantai hikmah
berhadapan muka dengan muka
dengan wajah asal-muasal semesta alam
menyampaikan sembah tarian bumi.

Goa, April 2002
"Puisi Sitor Situmorang"
PuisiTari Sembah
Karya: Sitor Situmorang

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Piramida Cheops
(Lembah Nil)

Ingin mengukur jarak pada batas gurun
aku berdiri di bukit-bukit sebelah barat
Pagi bersandar pada bayang piramida
Sejernih angin gurun kesadaran bangun.

Jarak yang dilalui sejarah dalam waktu
tertanda sungai mengalir di lembah hijau
Burung beterbangan menuruti arus musim
Di utara masih salju. Pelancong berlalu.

Atas pengetahuan ini tersusun sejarah-punya makna:
Ayam berkokok pagi-pagi di zaman Firaun
masih membangunkan petani setiap subuh
Tinggal satu rahasia: Apa yang berubah?

Sinar pagi mendaki garis rusuk piramida
Di relungnya terdalam bertahta Mati.

1989
"Puisi Sitor Situmorang"
PuisiPiramida Cheops
Karya: Sitor Situmorang

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Pendaratan Malam

Tentara tak berbekal mendarat
Di malam disuburkan lapar.

(Bila fajar bawa berita
kayu apung istirahat mereka)

Tentara tak berbekal mendarat
Di malam disuburkan lapar.

"Puisi Sitor Situmorang"
PuisiPendaratan Malam
Karya: Sitor Situmorang

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Topografi Danau Toba

Dari pantai Haranggaol
kutatap pulau,
danau biru, membuai perahu
nelayan Bandar Saribu
dengan lagu kasih
adat Simalungun
di tanah Purba.

Dari seberang ke seberang
sawang gunung
mendekap teluk
mendekap lembah
hati bunda pertiwi
air biru kedamaian
di tengah riuh dunia
hatiku yang memeluk
langitnya Ayah
di atas sawah ladang
kaumku.

Hari ini aku sampai di Bakara
bermalam di rumah asal
ketiduran dengan roh batu gunung
mendengarkan silsilah bintang-bintang
di tulang-belulang leluhur
terkujur di tubuh malam
lembah-lembah kecintaan
sarat beban perlambang
air kehidupan
tempat kasih berkecimpung
bersama ikan-ikan
Bersama manusia pendatang
dari balik tanjung.

"Puisi Sitor Situmorang"
PuisiTopografi Danau Toba
Karya: Sitor Situmorang

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Di Padang Pasir
(Nyanyian Hagar, dari adegan 22)

Di padang pasir
Seekor onta tegak jalannya
Kendati angin cabikkan kulitnya
Angin terbangkan debu ke matanya
Selalu kafilah paksakan jalannya.

Di padang pasir
Andaikan tuan sebatang kara
Kepada siapa harapan dijuang
Sedang nurani tak pernah dusta
Dan hati akhirnya ada letihnya.

Semua orang mesti alami cinta
Cinta duduki tiap bagian ruas hati
Siapa tidak pernah alami cinta
Tidak pernah pahami kata sengsara
Hanya dalam kata yang salah
Cinta dapat ubah jadi benci.
 
Dalam sendiri
Sebuah hati ibarat telur
Disimpan lama mendatangkan busuk
Kurang waspada menyebabkan pecah
Dan cinta menghadapi hari ruginya.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiDi Padang Pasir
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Beranda Bandara dan Kibaran Bendera

Bandara, beranda
tak sekadar kata. pada dinding kaca
kita membaca arah ke angkasa.

Di beranda bandara, budaya
semestinya tak seperti buaya. merayu sesiapa
dengan deras airmata
kepalsuan semata

Beranda senja
membuka tirai waktu yang berkibar seperti bendera
matahari dan matahati, keduanya
hidup dalam degup.

Bersandar di beranda budaya
tak perlu bercadar. Kesabaran
ialah sayap-sayap doa mengangkasa
seperti pesawat yang melesat
di kedalaman hitungan jam.
Jambi, 2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiBeranda Bandara dan Kibaran Bendera
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Lagu Lautan Nusantara
(kepada Gus Dur, pewaris
tugas mahabesar)

Di lembah menghadap teluk ini
berulang kali kita masih
akan datang -
juga berharap pulang
bila umur panjang.

Kini aku ziarah
masuk alam suratan takdir
di bayangan gunung-gunung berapi
yang membentengi dataran tinggi,
danau-danau dan tanah datar
pesisir tanah air.

Datang untuk sujud
berulang mendengar kisah-kisah
di desir sawah ladang dan
gelora sungai-sungainya.

Menyusu
pada sejarah Ibu Pertiwi
pilihan dan karunia
dari antara alam enam benua
- Nusantara kita!
- Kini dalam bahaya!

Kancah nasib-peruntungan
keturunan demi keturunan
dititipi panggilan hidup
dalam gema nyanyian
peredaran bulan dan matahari
Terbentuknya negara-negara
pada 17 Agustus 1945!

Pemikul tugas pencipta
pewaris nilai peradaban baru
berinti cinta tanah air tunggal!
Pusaka kelahiran di setiap dusun
dari Sabang sampai Merauke
di lembah di pegunungan
sepanjang setiap sungai
sekujur pantai seluruh Nusantara.

Dalam ayunan irama pasang-surut
samudra sejarah
demi hukum ber-Tanah Air
demi karunia Maha Pencipta!

Sepanjang masa!

(Berita ziarah, Agustus 1999,
di pinggir Danau Toba,
di tengah kemelut sejarah bangsa)
"Puisi Sitor Situmorang"
PuisiLagu Lautan Nusantara
Karya: Sitor Situmorang

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Metamorfosa

Keluar goa pertapa, kupu-kupu
hinggap pada dahan waktu
melekatkan telur pada bilur
mengasuh kepompong pada musim-musim
pancaroba.

Keluar rumah ibadah, kau kembali
menjelma serigala berbulu rayu
tiap waktu sembunyikan taring di balik dinding
peradaban.

Keluar ruang sidang, kau kembali
menjulurkan lidah-lidah penuh getah
menyulap gelisah yang melulu membuncah
kau memilih menjadi sederet kata
memenuhi dunia maya.

Jambi, 2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiMetamorfosa
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Jawa dan Melayu

Aku
tahu betul
bahwa panggilan
anak laki di Jawa: tole
berasal dari bahasa Jawa: kontole.

Yang
aku tahu betul
dari masa asalnya
bahasa Melayu: tempik sorak.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiJawa dan Melayu
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Di Langit Otak Kuda Suka Hati

Langit
tidak berbatas
Langit-langit
bagian pembatas.

Otak
untuk pikiran
Otak-otak
untuk santapan.

Kuda
kakinya kekar
Kuda-kuda
kaki pendekar.

Suka
lahirkan cinta
Suka-suka
lahirkan duka derita.

Hati
rasam perasaan
Hati-hati
rasam kewaspadaan.

"Puisi Remy Sylado"
PuisiDi Langit Otak Kuda Suka Hati
Karya: Remy Sylado

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
(Apa yang Tak Dapat Kauhancurkan)

Apa yang tak dapat kauhancurkan
dengan tangan,
Hancurkanlah dengan sajak,
dengan demikian kau
membangun lagi
dindingnya waktu.
"Puisi Sitor Situmorang"
Puisi: (Apa yang Tak Dapat Kauhancurkan)
Karya: Sitor Situmorang

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sajak

Kenapa takkan percaya pada Tuhan?
Sama sedihnya dengan sajak

Bersama kita ia tak berpegangan
Kecuali dalam duka tak mau beranjak

Bila kita mati
Iapun didera sepi
Penyair dalam diri meruntas rantai
Tahu sekali lepas ‘kan turut hancur
Pisau ditikam ke hulu mati
Bukan untuk membela diri  ̶  telah lulur.

"Puisi Sitor Situmorang"
PuisiSajak
Karya: Sitor Situmorang

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Pada Suatu Hari

Pada suatu hari aku tak sempat membaca Air
kesibukan jam menyeret langkah menyusuri lembah
dari jauh kubaca Air mengalir menuju hilir
menghanyutkan peristiwa:
tragedi manusia!

Pada suatu hari aku tak sempat mereguk Air
padahal gericik-Nya selalu saja mengundang dahaga
sejauh burung terbang, Air juga yang dirindukan:
perasan keringat dan kesadaran!

Pada suatu hari merpati membawa kabar:
ada yang tergadai oleh geriap waktu
dan tahu di mana-mana Air
banjir airmata!


Jambi, Akhir Desember 2005
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiPada Suatu Hari
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Selamanya

Kau dan aku mengalir
Sebagaimana air
Namun semakin mendekati hilir
Semakin aku tak ingin ada akhir.

Maka mari jadilah saja hujan
Yang berulang jatuh di permulaan.

"Puisi Sam Haidy"
PuisiSelamanya
Karya: Sam Haidy

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Jogja, Kota Kataku

Jogja, kota kataku
tiap saat kubaca-baca
tempat jiwa mengembara
pusara makna dan alamat doa semesta.

Jogja, kota kataku
tiap saat kuraba-raba
tempat tragedi dan misteri
pusat magma cinta sejati.

Jogja, kota kataku kukatakan:
kita tak cukup melantunkan doa
kita tak cukup meraba jiwa-jiwa derita
kita tak cukup membangun tegur-sapa
kita harus meledakkan magma cinta.

Jambi, Juli 2006
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiJogja, Kota Kataku
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Sketsa Senja

Pada figura berdinding kaca
cakrawala langit mencumbu laut biru
debar-debar waktu
langkah satu-satu:
menuju pangkuan-Mu.

Haluan hidup mana belum kukecup?
Padang perburuan mana belum kusinggahi?

Kuselami kuala hatiku sendiri
dan terasa pedang alif-lam-mim
mengiris-iris gelisah rasa.

Telanaipura, 1993
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiSketsa Senja
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Aku Senantiasa Menyeru

Aku senantiasa menyeru tanpa jemu ketika sawah-sawah
rekah dan bumi tengadah memeram wajah-wajah
gelisah petani yang menggigil. aku
senantiasa tiada lelah memapah jiwa-jiwa resah
menuju lembah-lembah yang dibanjiri darah. aku
terus melangkah mengucurkan darah ketika penyair
kehilangan kata-kata karena bahasa telah pecah
berdarah-darah

Maka aku senantiasa menyeru jiwa-jiwa batu
agar selalu ingat keringat rakyat yang dengan
tangan-tangan penuh lumpur mengaduk-aduk nasib
mengolah masa depan yang suram
aku senantiasa menyeru kamu yang dengan kejam
memakan insan-insan malang

Aku senantiasa menyeru kamu yang tanpa ragu
memangsa sesama yang begitu menderita
senantiasa menyeru kamu yang tanpa perasaan
memakan masa depan demi memuaskan
nafsu-nafsu menggebu.

Malang, 1996
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiAku Senantiasa Menyeru
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Pada Tirai yang Melambai

Pada tirai yang melambai
terasa ada badai. lalu mayat-mayat terkulai
pucat-pasi. tiada suara
tawa atau canda. di sini semua fana semata
hanya seremoni belaka: doa-doa sederhana
mengangkasa.

Pada tirai yang melambai
ada yang tergadai, seperti pantai landai
tempat riak dan ombak berontak
atau saling bantai, tak henti-henti mencumbui
karang, teripang, juga segala bayang.

Pada tirai yang melambai
kuuntai tragedi - demi - tragedi
yang tak kunjung usai.

"Puisi: Pada Tirai yang Melambai"
PuisiPada Tirai yang Melambai
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Wajah Ibu

Pepohon rindang daun adalah engkau, ibu
tak lelah mengairi dan mengalirkan embun di musim kemarau
engkaulah, wajah yang bukan sekedar wajah
semata tengadah pada bulan merah jambu
sebisa pasrah pada buaian rindu.

Telaga warna adalah wajahmu, ibu
merenda kenangan menyulam riak
dan ombak kasih sayang. Engkau ngalir
dalam nadi menjadi energi mewarnai pelangi.

Dangau persinggahan adalah juga wajahmu, ibu
sebuah tikar kesabaran tergelar
di altar persembahan

Ibu ialah laut biru
di luas hatiku.

Jambi, 2010
"Puisi Dimas Arika Mihardja"
PuisiWajah Ibu
Karya: Dimas Arika Mihardja

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Elegi Jakarta


I
Pada tapal terakhir sampai ke Yogya,
bimbang telah datang pada nyala
langit telah tergantung suram
Kata-kata berantukan pada arti sendiri
Bimbang telah datang pada nyala
dan cinta tanah air akan berupa
peluru dalam darah
serta nilai yang bertebaran sepanjang masa
bertanya akan kesudahan ujian
mati - atau tiada mati-matinya
O Jenderal, bapa, bapa
tiadakah engkau hendak berkata untuk kesekian kali
ataukah suatu kehilangan keyakinan
hanya akan tetap tinggal pada titik-sempurna
dan nanti tulisan yang telah diperbuat sementara
akan hilang ditiup angin
ia berdiam di pasir kering
O Jenderal, kami yang kini akan mati
tiada lagi dapat melihat kelabu
laut renangan Indonesia
O Jenderal, kami yang kini akan jadi
tanah, pasir, batu dan air
kami cinta kepada bumi ini
Ah mengapa pada hari-hari sekarang , matahari
sangsi akan rupanya, dan tiada pasti pada cahaya
yang akan dikirim ke bumi
Jenderal, mari jenderal
mari jalan di muka
mari kita hilangkan sengketa ucapan
dan dendam kehendak pada cacat keyakinan
engkau bersama kami, engkau bersama kami
Mari kita tinggalkan ibu kota
mari kita biarkan istri dan kekasih mendoa
mari jenderal mari
sekali ini derajat orang pencari dalam bahaya
mari jenderal, mari jenderal, mari....
II
Ia yang hendak mencipta
menciptakan atas bumi ini
Ia yang kan tewas
tewaslah karena kehidupan
Kita akan yang mau mencipta dan akan tewas
akan berlaku untuk ini dengan cinta
dan akan jatuh seperti permata mahkota
berderai sebutir demi sebutir
Apa juga nasib akan tiba
Mesra yang kita bawa, tiadalah
Kita biarkan hilang karena hisapan pasir
Engkau yang telah berani menyerukan
Kebenaranmu dari gunung dan keluasan
Sekali masa akan ditimpa angin dan hujan
Jika suaramu hilang dan engkau mati
Maka kami akan berduka, dan akan
menghormat bersama kekasih kami
Kita semua berdiri di belakang tapa
Dari suatu malam ramai
Dari suatu kegelapan tiada berkata
Dari waktu terlalu cepat dan kita mau tahan
Dari perceraian tiada mungkin
Dan sinar mata yang tiada terlupakan
Serulah, supaya kita ada dalam satu barisan
Serulah, supaya jangan ada yang sempat merindukan senja
Terik yang keras tiada lagi akan sanggup
Mengeringkan kembang kerenjam
Pepohonan sekali lagi akan berdahan panjang
Dan buah-buahan akan matang pada tahun yang akan datang
Mungkin engkau orang perang dan aku petualang
Tetapi pada suatu hari cinta telah dijanjikan
Jika bulan Juni telah pulang
Aku akan membaca banyak pada waktu malam
Dan mau kembali ke pantai Selatan jika kemarau telah datang
Laut India akan melempar pasang
Bercerita dari kembar cinta dan perceraian
Aku akan minta, supaya engkau
Berdiri curam, atas puncak dibakar panas
Dan sekali lagi berseru, akan pelajaran baru
Waktu itu angin Juni akan bertambah tenang
Karena bulan berangkat tua
Kemarau bulan berangkat tua
Kemarau akan segan kepada bunga yang telah berkembang
Di sini telah datang suatu peranan
Serta kita akan menderita dan tertawa
Tawa dan derita dari
yang tewas
yang mencipta...
III
(untuk seorang sahabat)
Airmata, adalah sekali ini airmata dari hari yang mengandung durja
Dan kelulah kekasih yang senantiasa berkisah
Tiadalah lagi senyum akan timbul karena suatu kemenangan
Habislah segala kenangan selalu pada fajar selalu yang membawa harap
Sudah tahu, suatu kesalahan sekali
Telah merobah titik asal harap
Dan karena gelombang yang memukul tinggi
Dengan segala rahasia dan senjata yang ada dalam kerajaannya
Telah dijadikan suatu cinta yang masak hidup lepas dari lembaga
Dan gamitan tangan dan mata berhenti pada suatu keluh sedan dari jiwa yang berduka
Bangunlah kekasihku, berilah daku bahagia
Dari segala cahaya yang ada padamu
Bagiku, keluhan yang lama akan
Mematikan segala tindakan
Membuat lagak tiada punya tokoh
Ucapan kehilangan asal dan bekas
Serta ini pulau banyak dan intan laut yang kukasihi
Akan menjadi suatu bencana dari kelumpuhan orang berpenyakit pitam
Aku akan hilang lenyap tiada meninggalkan nama
Suatu sedih sangsai dari diriku
Atas suatu panggilan dengan suara kecil
Dari laki-laki di depan laut di belakang gunung
Berikanlah suatu pekikan peri
Dan ini akan lebih membujuk
Dari suatu mulut terbuka, tapi tiada berkata
Air mata yang terbayang, tetapi tiada berlinang
Dari suatu kebisuan, dari suatu kebisuan
Jika ini adalah suatu impian
Maka janganlah lagi bermimpi
Bagaimanapun terang malam
Sedang daku akan berjaga
Sampai sosok tali dan tiang
Tergantung pada sinar pagi yang timbul
Suatu khianat yang telah memakan cinta
Suatu kekecilan manusia yang enggan beryakin
Suatu noda
Dan suatu derita dari kekasuh yang mengeluh
..........................
Demikian sahabat mari berdoa
mari berdoa
Kita akan berdoa. Kita akan berdoa
Kita akan berdoa, untuk pagi-hari yang akan timbul




Catatan:
  • Sajak Elegi Jakarta bagian I sering dijumpai dengan judul Lagu daripada Pasukan Terakhir.
  • Sajak Elegi Jakarta bagian II sering dijumpai dengan judul Elegi
  • Sajak Elegi Jakarta bagian III sering dijumpai dengan judul Kekasih yang Kelu
"Asrul Sani"
Puisi: Elegi Jakarta
Karya: Asrul Sani
Kenangan Yang Berhembus

Engkau yang berkilah seperti angin
bertempat kemana pun engkau ingin bertempat.
Dan saat engkau lelah
selalu ada yang engkau tinggalkan.

Semisal apa yang tertinggal di sini;
sebingkis bayang yang dipeluk hati sendu
sepintas harap yang ditata riang
sebuah gelombang janji yang berteriak terkadang keras.

Hanya berpura peduli, aku tidak menoleh,
semampu aku berpaling, mencari sisi untuk berpegang...
dimana langit tidak akan jatuh,
dimana mimpi tidak pernah menunggu.

Engkau berhembus, menunggu raga menua.
Sifat dasar sebuah nyawa, dan akan selamanya membagian.
Begitulah dirimu, kenangan.

Aku akan mengisi hatiku,
dengan khayal yang masih aku timang-timang,
dengan mimpi yang sanggup aku terawang,
dengan ambisi yang akan 'ku paksa berkibar.

Huft...

Di sana ada ruang,
tempat yang masih milikmu;
semakin sempit setiap harinya,
karena engkau kian berhembus.

Mengenang kasih,
engkau pernah memanggilku kasih!
Mengenang sayang,
engkau pernah memanggilku sayang!

Dan selama engkau berhembus
azali selalu menguatkan langkah;
selama itu pula aku akan memeluk tanya kosong,
dimana kasih, dimana sayang itu?

Dan lalu aku tertawa...

Ada daun yang jatuh, ada ranting yang patah.
Ada warna yang kelam, ada waktu yang terus berjalan.
Untuk apa aku peduli?

Engkau yang berhembus,
seolah engkau bukan penyebab.
Begitulah dirimu; dengan semua keistimewaan.
Dirimu; dengan semua keindahan.

================================= 
Puisi: Kenangan Yang Berhembus
Oleh: Arief Munandar
=================================
"Puisi Kenangan Yang Berhembus"

Kenangan

Dan saat aku melihat lagi,
debu-debu itu telah beranak-pinak.
Mata angin tidak bisa melenyapkannya,
malah bersahabat dengannya.

31 Oktober 2017
"Puisi: Kenangan"
Puisi: Kenangan
Oleh: Arief Munandar
Pertempuran Batin
(: Ami)

Membingungkan
betapa kita menenun
dan terus menenun
kejujuran demi kejujuran
hanya demi melahirkan
satu kebohongan;
yang kita sendiri
tidak bisa memaafkannya.

Kasih,
mengapa kita begitu serius
dalam kepura-puraan ini?

September, 2018
"Puisi: Pertempuran Batin"
Puisi: Pertempuran Batin
Oleh: Arief Munandar

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Hari itu

Hentakan nafas yang memburu hembusan kenangan manis, mengangkat utuh keistimewaan cinta yang begitu lama tersembunyi. Kita. Bertemu denganmu hari itu; di persimpangan hari itu, membuatku takjub betapa sungguh sempurna Skenario Tuhan.

Senyumanmu, tatapanmu, keheningan suasana yang aduhai membibit di hatiku yang begitu lama tandus ini. Kita. Bertemu denganmu sore itu; di perbatasan hari itu, mencumbuku berangan; agar selamanya kita terpaku di sana.

Entah kemarin yang sedikit lebih buruk, atau hari ini yang sedikit lebih baik. Mataku yang jatuh padamu, hatiku yang menanggung deritanya. Entah aku yang sedikit terlambat bertemu denganmu, atau engkau yang sedikit lebih cepat bertemu dengannya. Mataku bersujud memuja keadilan cinta, hatiku tersungkur menangisi ketidakadilan cinta.

Dan semenjak hari itu, bayanganmu bersemayam teduh di balik mataku; bernaung indah di sebuah bingkai di hatiku. Pemikiran bahkan sering menerjemah, mengapa aku tidak pernah bisa mengusir jauh bayangan itu, mengapa aku tidak bisa berbuat banyak untuk itu? Pemikiran itu.

Tiba aku di sini di hari ini, dengan semua kesombongan yang aku pikul bersamaku, aku kira aku sudah melupakan. Tapi itu... tapi itu hanya sebelum aku jujur pada diriku sendiri.

Dan entah berapa jauh dosaku karena mencintaimu, aku bahkan malu memohon ampun, dan pada siapa? Karena ketika aku menutup mataku, aku hanya akan kembali berdosa karena hanya akan selalu mencintai bayangmu. Dan hatiku? Saat hatiku menenun pengharapan, aku hanya akan selalu menuju pada tatapan indahmu itu; hari itu.
 
"Puisi: Hari itu"
Puisi: Hari itu
Oleh: Arief Munandar
Pengandaian

Aku harap aku bisa
sedikit lebih bijak
atau setidaknya
memiliki lebih banyak pengandaian.

Aku tidak ingin
selalu seperti ini ...

Aku tidak ingin kau pergi
hanya karena kata-kata
selalu tersangkut
di dalam tenggorokan.

Banda Aceh, 2018
"Puisi: Pengandaian"
Puisi: Pengandaian
Oleh: Arief Munandar

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||
Mengenang Pantai Meulaboh Dilanda Tsunami

Seperti ledakan bencana alam purba
Tsunami itu tak disangka bangkit mengguncang
Seantero air samudra raya jadi luapan maha-dahsyat
Menyebar dari sebuah titik
Di dasar laut sebelah barat
Pesisir ujung utara Sumatra.

Mendengar dan melihat gambar beritanya
Bagaimana sisik laut itu bangkit menerpa
Seluruh garis pantai Meulaboh.

Nama Meulaboh di kalbu terdalam
Membangkit kenangan masa kanakku
Saat-saat aku dihidupi angin lautnya
Dibesarkan dalam nyanyian dan setiakawan
dibuai irama kehidupan
Desa-desa nelayannya.

Kini luluh-lantak berserakan sejauh mata memandang
Tinggal reruntuhan rumah batang nyiur patah berserakan
Serupa mimpi manusia damai di tengah alam-raya
Kini yatim dan piatu kehilangan para kekasih ditelan
Air bah seperti di hari kiamat

Di jagat kenanganku
Pernah ramai gelak bercengkerama dengan sesama
Dan setia bergaul dengan irama angin Samudera
Kini sepi

Selang gelora Tsunami...
Di dalam pelukan alam-raya Nusantara
Dan Samudera nelayannya.

7 Januari 2005
Apeldoorn, Nederland
"Puisi Sitor Situmorang"
PuisiMengenang Pantai Meulaboh Dilanda Tsunami
Karya: Sitor Situmorang

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||