Bisnis

header ads

Puisi: Paris-La-Nuit (Karya Sitor Situmorang)

Paris-La-Nuit

Malaikatku, malaikatku
Turun menyelimuti senja
kebosanan
Menggeliat dalam beribu lampu
lusuh
Duka yang melapuk pada dinding hati
menjadi ragi
anggur nafsu
hingga darah bening
dan berlagu.

Malaikatku, malaikatku
Dari asap pembiusan iseng
Menguap ia di malam tipis
Melepas dari kelabu rumah-rumah kota mati
musim rontok
Warna musim mengalun dalam angin jatuh
berbisik: Anak dulu sudah jadi gadis.
Angin, menyapu daun serta meluluh
bayang ingin jalan,
Lincah menggigil dalam tangis.

Kabut iseng kotaku
Terbalut dalam duka perawan keputihan salju,
kala bangun: hanya malaikat tak kenal dosa

Malaikatku
terbalut tilam sutera malam dosa
pada hati binatang kota belantara.
Harimau piaraan di buah dada,
isengku mendendam pada genitmu,
Menatap dalam hutan malam candu
Khayal serigala ingin yang kulepas
berbiak dan meraung dalam mulut godamu
Memuntahkan benih keisengan baru
pada mulut yang mengutuk puas.

Tawa jahanam di buas bibirnya menyelinap
Malaikatku
Lalu jejak di ambang malam berderap
Tanda hari baru bangkit: telanjang subur
Dari jurang pelaminan kubur
Cahaya dari awan kelesuan mati:

di wajah paginya rambut terurai kubelai

Lalu bangun di tengah hari perutnya
Memuntahkan dan menjilat lagi benih keisenganku.

"Puisi Sitor Situmorang"
PuisiParis-La-Nuit
Karya: Sitor Situmorang

|| Jika berkenan? Tolong Bagikan ||
|| Jika kurang berkenan? Tolong Komentar ||
|| Jika ingin pergi? Tolong kembali lagi ||

Posting Komentar

0 Komentar